Nabi Muhammad: Belas Kasih untuk Semua Makhluk
“Siapa pun yang berbuat baik kepada SEMUA makhluk Tuhan berarti berbuat baik kepada dirinya.”
Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassallam sesungguhnya adalah seorang pemimpin spiritual yang agung, Guru dari para Guru. Dan kenyataannya, di dunia sekarang terdapat lebih dari 1 miliar Muslim dan ini adalah bukti hidup akan keagungannya. Sang Nabi mengajarkan kita semua untuk menghormati semua bentuk kehidupan dan perlunya keseimbangan dan keharmonisan di Bumi. Beliau pernah mengatakan: “Semua makhluk seperti sebuah keluarga Tuhan, dan Beliau paling mencintai mereka yang paling bermanfaat bagi keluarga-Nya.”
Kita akan membahas perlakuan Nabi Muhammad yang baik, bijaksana, dan penuh kasih terhadap teman satwa kita, peranan penting dua hewan jinak dalam hidupnya, dan beberapa ajarannya tentang hubungan mulia antara manusia dan hewan. Untuk memulai perjalanan kita, marilah kita melihat bagaimana sekelompok laba-laba dan seekor unta membantu sang Nabi.
Sungguh, berkat laba-laba, hidup Guru Agung ini dilindungi. Selama tahun awalnya, Nabi dituntun untuk meninggalkan Mekah, tempat kelahirannya, dan pergi ke kota di dekatnya, Madinah. Selagi dalam perjalanan, ia mengetahui bahwa sekelompok orang dari Mekah mengikutinya, bermaksud mencelakakan dirinya, maka Nabi Muhammad dan pendampingnya, Abu Bakar, berlindung di Gua Thaur. Sementara keduanya bersembunyi jauh di dalam naungan batu, beberapa laba dengan cepat memintal rangkaian jaring yang sepenuhnya menutupi pintu masuk gua. Maka, ketika pengejarnya tiba di gua, mereka dikelabui ke dalam pemikiran bahwa Nabi Muhammad dan Abu Bakar tidak berada di dalam, mengira bahwa mereka pasti telah merusak jaring laba-laba jika mereka masuk ke dalam. Karena itu, berkat hewan pekerja keras yang rendah hati ini, Nabi dapat meloloskan diri.
Seekor unta juga memainkan peranan penting dalam kehidupan Nabi Muhammad. Ketika dalam perjalanan ke Madinah, ia menunggang unta kesayangannya, Qaswa. Dan ketika ia memasuki kota itu, orang bersorak-sorai dan banyak yang tampil ke depan meminta Nabi untuk tinggal dengan mereka. Tetapi Nabi berkata, “Aku akan tinggal di mana untaku Qaswa berhenti. Ia kemudian melepaskan unta itu, yang mulai melintasi jalan-jalan kota. Lalu tiba-tiba Qaswa berhenti, berjalan balik beberapa langkah dan duduk di bawah pohon palem. Maka Nabi berkata, “Di sini akan kubangun masjidku yang pertama,” dan berabad-abad kemudian, bangunan tersebut, yang disebut masjid Quba, masih berdiri hingga saat ini.
Nabi terkenal akan kebaikan hati dan rasa hormat yang ia tunjukkan terhadap hewan, mengajarkan bahwa kita harus merawat dan menghormati hewan. Ia memberikan contoh ajarannya melalui caranya menjalani hidup. Misalnya, seorang pengikutnya pernah melihat guru agung itu memakai jubahnya yang bersih untuk menyeka wajah kudanya dengan hati-hati. Ketika ditanyakan tentang tindakannya, Nabi menjawab, “Semalam aku mendapat teguran dari Allah karena telah mengabaikan kudaku.”
“Allah tidak akan berbelas kasih kepada siapa pun, kecuali mereka yang berbelas kasih kepada makhluk lainnya. Di mana ada sayuran berlimpah, sekumpulan malaikat akan turun ke tempat itu.” Nabi Muhammad mengajarkan bahwa Tuhan memberi upah kepada kita yang melakukan perbuatan baik sekecil apa pun terhadap hewan seperti yang ditunjukkan oleh kisah Muslim yang terkenal tentang seorang laki-laki yang berjalan di jalan yang panas, berdebu dan merasa kehausan. Akhirnya laki-laki itu menemukan sebuah sumur, dan dia segera turun ke dalam sumur dan minum hingga puas. Ketika tiba kembali di atas, dia melihat seekor anjing yang sangat kepanasan dan berusaha memuaskan rasa hausnya dengan menjilati lumpur basah di dekat sumur. Laki-laki itu lalu berkata, “Anjing ini merasa haus sama seperti yang telah kurasakan.” Maka dia turun kembali ke dalam sumur, memenuhi sepatunya dengan air dan memberi minum anjing yang malang itu. Tuhan Maha Kuasa sangat senang dengan kebaikan orang itu sehingga mengampuni semua dosanya. Ketika ditanya apakah Tuhan memberi upah atas tindakan kebaikan kepada hewan, Nabi menjawab, “Sesungguhnya, ada upah bagi perbuatan baik kepada setiap hewan yang hidup.”
Dalam peristiwa lainnya, ketika Nabi Muhammad dan para pengikutnya dalam perjalanan ke Mekah, mereka melewati seekor anjing betina dan anaknya. Nabi yang baik hati, prihatin terhadap kesejahteraan keluarga hewan itu, memerintahkan agar tiada yang mengganggu anjing itu dan anaknya. Ia kemudian menempatkan seorang muridnya di dekat ibu anjing itu untuk memastikan bahwa perintahnya diikuti.
Melakukan doa harian, atau shalat, adalah salah satu dari lima kewajiban Muslim yang paling penting, tetapi saat Nabi dan para pengikutnya sedang dalam perjalanan, ia bersikeras bahwa hewan mereka harus diurus bahkan sebelum melantunkan doa. Dalam Hadis atau perkataan Nabi, salah satu pendampingnya melaporkan, “Saat kami singgah di tempat perhentian, kami tidak bersembahyang sampai kami telah menurunkan beban dari punggung unta kami dan memenuhi kebutuhan mereka.” Nabi mengajarkan bahwa hewan harus digunakan untuk melayani manusia hanya jika diperlukan dan jika kita mendapat manfaat dari kerja mereka, kita harus sepenuhnya memberikan kenyamanan dan kebutuhan mereka sehari-hari.
Misalnya, suatu hari Nabi melewati seekor unta yang begitu kurus sehingga perutnya menyusut hingga ke punggungnya, dan melihat hewan tersebut, Nabi menegur pemiliknya karena mengabaikan hewan itu, mengatakan, “Takutlah kepada Tuhan dalam hal hewan ini, dan tunggangi mereka hanya jika mereka layak ditunggangi, dan biarkan mereka bebas pergi apabila selayaknya mereka harus beristirahat.” Juga, bila Sang Guru Agung melihat seekor hewan terlalu berat dibebani, ia akan menghentikan pemiliknya dan berkata: “Takutlah kepada Allah dalam hal perlakuanmu terhadap hewan.”
Sesungguhnya, cinta Nabi terhadap hewan sangat besar sehingga dia bahkan menegur istrinya, Aisyah, saat istrinya memperlihatkan sedikit kurang hormat kepada unta yang ditungganginya. Berkenaan dengan peristiwa ini, Hazrat Aisyah (radiyallahu anha) menceritakan: “Aku sedang menunggangi seekor unta yang tidak menurut dan memutarnya agak kasar. Nabi berkata padaku, ‘Demi kepentinganmu, perlakukan hewan dengan lembut.’”
Bila menyangkut kepedulian dan perhatian terhadap teman hewan kita, Nabi sangat teliti bahkan dalam detail yang paling kecil. Saat berhenti untuk bermalam, misalnya, ia mengajarkan para pengikutnya untuk tidak mendirikan tenda mereka di area di mana terdapat jejak hewan, karena ini merupakan jalan kecil yang dilalui hewan malam dan ia tidak ingin mengganggu kehidupan makhluk yang lembut ini. Menurut ajaran Islam, menimbulkan kesakitan yang dapat dihindari kepada hewan, makhluk Tuhan yang tak berdaya dan tak berdosa tidak dapat dibenarkan dalam situasi apa pun.
Nabi melarang untuk menyakiti hewan bahkan secara mental. Suatu hari, ketika Nabi sedang dalam perjalanan dengan sekelompok pengikut, ia meninggalkan mereka untuk sejenak dan selama ia tidak ada, beberapa dari mereka menemukan seekor induk burung dan dua anaknya. Para laki-laki itu mengambil kedua anak burung tersebut dan induk burung mulai terbang memutar di atas kepala mereka, memukuli sayapnya dengan kebingungan dalam keputusasaan. Ketika Nabi kembali, ia memarahi orang itu atas tindakan mereka yang menyebabkan stres pada burung tersebut, mengatakan, “Siapa yang telah melukai perasaan burung ini dengan mengambil anaknya? Kembalikan mereka kepadanya.”
Alquran juga mengajarkan bahwa kita harus berbagi sumber daya Bumi, menyatakan bahwa Tuhan telah menyerahkan planet ini tidak hanya kepada manusia tetapi “kepada seluruh makhluk hidup”. Kitab Suci itu juga menyatakan bahwa Tuhan “menghasilkan dari… [bumi] airnya dan padang rumputnya, dan menjadikan gunung kokoh sebagai sumber persediaan bagimu dan bagi hewanmu.”
Sesuai dengan prinsip mulia Nabi, semoga kita semua hidup dalam damai dan harmoni dengan teman hewan kita yang penuh kasih.













Leave a comment
Comments feed for this article