shutterstock.com

Konstipasi atau sembelit mengacu pada kesulitan atau susah buang air besar atau jarang buang air besar. Dikatakan sembelit apabila frekuensi buang air besar secara tuntas dan spontan kurang dari tiga kali per minggu.

Sembelit adalah keluhan pencernaan yang paling umum di Amerika Serikat, terjadi pada sekitar 15 sampai 20 persen orang dewasa. Sembelit juga merupakan kondisi pediatrik umum. Banyak kasus berkaitan dengan masalah perilaku. Namun, anak-anak juga terkena sembelit akibat makanan, antara lain karena kurangnya serat, dehidrasi, dan intoleransi susu. Sembelit terjadi pula pada fibrosis sistik dan keracunan timah.

Obat-obat tertentu mengakibatkan sembelit sebagai efek samping. Ini termasuk antihistamin, narkotika, antasid, calcium channel blockers, antidepresan trisiklik, dan obat lainnya. Obat-obatan adalah penyebab umum terutama pada orang lanjut usia.

Penyebab potensial lainnya termasuk berhenti merokok (karena gejala putus obat-nikotin), penyakit Parkinson, wasir, dan gangguan hormonal (misalnya hipotiroidisme).

Gejala

  • Tinja yang keras, kering, yang sulit untuk dikeluarkan atau menimbulkan sensasi buang air besar yang tidak tuntas
  • Gerakan usus yang jarang
  • Kembung dan ketidaknyamanan perut. Gejala-gejala ini lebih sering terjadi pada sindrom iritasi usus (IBS) daripada sembelit karena penyebab lain. IBS dapat dibedakan dari konstipasi sederhana dengan adanya gejala pencernaan lainnya.
  • Dalam kasus parah dan lama, nyeri punggung bawah, perdarahan rektum, atau wasir dapat terjadi.

Faktor Risiko

Prevalensi tertinggi dilaporkan terjadi pada orang di atas usia 60 tahun, diikuti oleh anak di bawah usia 10 tahun. Hubungan dengan usia ini terutama disebabkan faktor lain, seperti obat-obatan dan pola makan.

Untuk alasan yang tidak jelas, ras Kaukasian melaporkan sembelit lebih jarang dibandingkan kelompok ras lain, dan wanita terpengaruh sekitar dua kali lipat sesering pria. Kondisi ini lebih umum pada orang miskin. Tambahan faktor resiko meliputi riwayat keluarga, disfungsi dasar panggul, operasi panggul dan perut, dan persalinan.

Diagnosa

  • Riwayat dan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan rektal, dapat menegakkan diagnosis.
  • Buku harian usus yang rinci, disampaikan oleh pasien atau orang tua, dapat membantu. Banyak orang salah menilai fungsi usus normal sebagai abnormal.
  • Tes darah diperlukan jika hipotiroidisme, anoreksia, hiperkalsemia, atau diabetes diduga. Kondisi ini mungkin juga berlaku pada anak-anak, seperti penyakit celiac, keracunan timah, cystic fibrosis, dan infeksi saluran kemih.
  • X-ray dari perut dapat mendeteksi kelainan tertentu dan juga berguna dalam memantau pasien rawat inap.
  • Jarang, kolonoskopi mungkin diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan obstruksi (sumbatan pada saluran cerna) atau kanker usus besar.

Pengobatan

  • Langkah pertama adalah mengidentifikasi dan mengobati kemungkinan penyebab yang mendasari, seperti menghentikan atau mengubah obat yang menjadi penyebab.
  • Seringkali, terapi yang paling efektif adalah dengan meningkatkan serat dan asupan cairan, dan mengkonsumsi makanan yang mengurangi waktu transit tinja melalui usus, seperti jus buah dengan sorbitol.
  • Biofeedback perubahan perilaku dapat membantu dalam beberapa kasus, terutama pada anak. Biofeedback adalah teknik psikologis di mana pasien dilatih untuk mengenali dan merespon sinyal dari tubuh mereka sendiri.
  • Sembelit parah mungkin memerlukan pendekatan multidimensi yang mencakup disimpaksi secara manual.
  • Terapi obat antara lain:
    • Agen pembentuk serat (misalnya suplemen serat oral, seperti psyllium)
    • Agen hiperosmolar (misalnya laktulosa, sorbitol, dan gliserin)
    • Emolien (misalnya docusate atau minyak mineral), yang melunakkan tinja, tetapi kurang efektif dibandingkan obat lain.
    • Stimulan (misalnya senna, bisacodyl, dan minyak jarak), yang meningkatkan gerakan usus. Ini tidak cocok untuk penggunaan jangka panjang.
    • Agen prokinetik (misoprostol, colchicine, dan tegaserod)

Banyak obat ini dapat digunakan pada anak, tetapi dosis harus disesuaikan. Enema dan laksatif stimulan tidak boleh digunakan pada bayi. Obat pencahar umumnya tidak dianjurkan, karena obat-obat itu mencegah usus memulihkan fungsi normal dan sering perlu dilanjutkan. Meskipun umumnya ditoleransi dengan baik, pencahar dapat menyebabkan perut kembung, mual, anoreksia, kram, gas, dan (jarang) malabsorpsi atau ketidakseimbangan kimia berbahaya.

  • Pelatihan biofeedback untuk latihan otot-otot sfingter dan anal dapat berguna pada beberapa pasien, terutama yang memiliki disfungsi otot dasar panggul.
  •  Jarang, operasi mungkin menjadi pilihan bagi pasien dengan gejala berat.
  • Aktivitas fisik telah terbukti efektif untuk memperbaiki gejala. Individu yang melaporkan aktivitas fisik sehari-hari memiliki kira-kira setengah risiko untuk sembelit, dibandingkan dengan mereka yang kurang aktif. Ketika tingkat yang lebih tinggi dari aktivitas dan asupan serat dipasangkan, risiko sembelit turun sekitar 70 persen, dibandingkan dengan individu yang paling aktif dan memakan serat sedikit.

Pola Makan untuk Sembelit

shutterstock.com

Meningkatkan asupan makanan tinggi serat: Penyebab umum terjadinya sembelit adalah pola makan rendah serat. Serat hanya ditemukan di dalam makanan nabati, seperti kacang-kacangan, sayuran, buah, dan biji-bijian utuh seperti beras coklat atau beras merah. Sebaliknya, makanan hewani dan produk makanan olahan tidak mengandung serat.

Orang Amerika makan rata-rata 5 sampai 14 gram serat setiap hari, jauh lebih sedikit daripada orang-orang yang berada di negara-negara berkembang. Pada orang yang makan lebih tradisional, pola makan tinggi serat, sembelit jarang terjadi. Meningkatkan asupan serat makanan telah terbukti dapat menurunkan sembelit dan secara signifikan mengurangi kebutuhan untuk obat pencahar, terutama pada anak-anak, orang lanjut usia, dan pasien pasca operasi.

Meskipun makanan tinggi serat umumnya harus menjadi pilihan pertama, beberapa pasien dapat mengambil manfaat dari suplemen serat. Bukti menunjukkan bahwa suplemen serat memungkinkan penghentian obat pencahar pada sekitar 70 persen pasien sembelit. Beberapa jenis suplemen serat telah terbukti efektif untuk menghilangkan sembelit, termasuk psyllium (Metamucil), metilselulosa (Citrucel), dan akar konjak Jepang (glukomanan).

shutterstock.com

Meningkatkan asupan cairan: Miskin asupan cairan umumnya terkait dengan sembelit, terutama pada anak-anak. Dalam sebuah penelitian, kombinasi dari 25 gram serat dan 1,5-2,0 liter air setiap hari merupakan pengobatan yang lebih efektif terhadap sembelit daripada asupan serat saja.

123rf.com

Menghindari susu sapi: Banyak anak dengan sembelit kronis memiliki alergi susu sapi. Suatu penelitian menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga anak-anak yang mengalami sembelit akibat susu sapi mengalami penurunan sembelit ketika mereka menghilangkan susu sapi dari pola makan mereka. Lebih lanjut, percobaan klinis terkontrol menemukan bahwa sembelit kembali dalam waktu lima sampai 10 hari setelah susu sapi diminum kembali. Adalah penting untuk menyadari bahwa susu sapi bukanlah satu-satunya sumber kalsium. Jika asupan kalsium rendah, susu kedelai yang diperkaya kalsium, susu beras, atau jus dapat menggantikan susu sapi.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan kunjungi link Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) berikut ini :

http://www.nutritionmd.org/consumers/gastrointestinal/constipation.html (untuk masyarakat umum)

http://www.nutritionmd.org/health_care_providers/gastrointestinal/constipation.html (untuk tenaga medis dan paramedis)

Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) adalah organisasi nirlaba yang berbasis di Washington, DC., AS dan beranggotakan lebih dari 6.000 dokter yang tertarik dalam peran nutrisi pada kesehatan. Hubungi PCRM pada alamat berikut : Physicians Committee for Responsible Medicine, 5100 Wisconsin Ave., N.W., Ste.400, Washington DC, 20016, Phone: 202-686-2210     Email: pcrm@pcrm.org