You are currently browsing the tag archive for the ‘Depresi dan menopause’ tag.

shutterstock.com

Setiap hari, di dalam ratusan ruangan dokter, percakapan yang sama terjadi antara wanita yang akan mengalami menopause dengan dokter mereka. Dokter meresepkan pil atau plester/patch estrogen, dan mengatakan hal itu akan menggantikan hormon yang seharusnya dibuat di tubuhnya. Pil itu akan menyembuhkan hot flashes (sensasi panas pada tubuh) dan memperlambat hilangnya tulang. Pasien mungkin bertanya apakah pil itu dapat menyebabkan kanker. Dokter mengakui bahwa ada peningkatan risiko kanker rahim dan payudara, tetapi berpendapat bahwa tetap saja pil itu bermanfaat untuk diambil.

Risiko lainnya didiskusikan, seperti penyakit jantung, stroke, dan penyumbatan darah. Wanita yang telah melihat teman atau kerabat meninggal karena penyakit-penyakit ini merasa pil-pil itu tidak aman. Mereka mungkin mengalami gejala menopause, dan mereka ingin solusinya. Tapi mereka mencari sesuatu yang aman, sesuatu yang tidak menyebabkan lebih banyak masalah.

Camkan ini: Ada beberapa langkah diet dan perubahan gaya hidup lainnya yang dapat membuat menopause jauh lebih mudah diatasi. Langkah-langkah itu lebih baik untuk tulang Anda daripada resep estrogen dan tanpa efek samping yang dihasilkan estrogen.

Premarin adalah estrogen yang umumnya diresepkan dari Wyeth Pharmaceuticals. Walaupun dokter terkadang menjelaskannya itu “alami” bagi wanita, sebenarnya Premarin merupakan estrogen kuda. Pada peternakan di Amerika Serikat dan Kanada, kuda-kuda betina (mare) dibuat hamil dan kemudian dikurung dari bulan ke-4 sampai akhir bulan ke-11 kehamilan mereka sehingga urin mereka dapat dikumpulkan dalam sebuah “kantung pipis”.

Setelah mereka melahirkan, kuda-kuda betina itu dibuat hamil lagi. Anak-anak kuda mereka biasanya berakhir sebagai daging kuda dan estrogen urin dikemas menjadi pil. Nama dagang “Premarin” berasal dari kata “air seni kuda hamil” – dan itu bukanlah sesuatu yang alami untuk diminum. Sementara Premarin mengandung estradiol dan estrone, dua jenis estrogen yang dihasilkan di dalam tubuh manusia, pil itu juga mengandung sejumlah besar equilin, satu estrogen kuda yang tidak pernah ada sama sekali pada manusia.

Pada tahun 2002, Women’s Health Initiative (WHI), yang mempelajari efek gabungan estrogen dan penggunaan progestin pada wanita menopause, dihentikan tiga tahun lebih awal. Para peneliti telah mengamati adanya peningkatan risiko kanker payudara, penyumbatan darah yang berpotensi mematikan, stroke, dan penyakit jantung pada wanita yang menggunakan hormon (dibandingkan dengan mereka pada kelompok plasebo yang tetap bebas obat-obatan).1 Sekali lagi, pada tahun 2002, Studi Penggantian Estrogen/Progestin dan Jantung (HERS) selama hampir tujuh tahun menegaskan bahwa hormon tidak mengurangi risiko masalah jantung pada wanita pasca menopause yang memiliki penyakit jantung. Bahkan, risiko penyumbatan darah meningkat dua kali lipat dan kebutuhan untuk operasi kandung empedu meningkat pula.2

Suplemen estrogen tidak hanya meningkatkan risiko kanker payudara, penyumbatan darah, stroke, dan penyakit jantung, tetapi juga tampak meningkatkan risiko demensia3dan kanker rahim dan ovarium (ketika diminum tanpa progestin).4,5 Suplemen hormon ini juga dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, batu empedu, perdarahan vagina, mual, kenaikan berat badan, nyeri payudara, perubahan warna kulit, sakit kepala, dan depresi.

Untungnya, penggunaan terapi pengganti hormon telah menurun sejak keluarnya penelitian WHI di tahun 2002,6 dan wanita lebih memahami risiko HRT (Terapi Pengganti Hormon).7 Sayangnya, bagaimanapun, beberapa dokter terus meresepkan hormon ini.

Untungnya, ada solusi yang lebih sehat atas masalah yang terkait dengan menopause.

Perubahan Alami

Di sekitar usia 50 tahun, ovarium berhenti memproduksi estrogen. Kelenjar adrenal (organ kecil di atas setiap ginjal) terus membuat estrogen, seperti halnya jaringan lemak. Tetapi ovarium memproduksi porsi estrogen terbanyak di tubuh selama puluhan tahun, dan saat ia berhenti, tingkat estrogen darah menurun drastis.

Banyak wanita melalui perubahan ini baik-baik saja, baik secara fisik maupun psikologis. Meskipun demikian, beberapa wanita terganggu oleh beberapa gejala, termasuk hot flashes (sensasi semburan panas pada tubuh), depresi, mudah marah, gelisah, dan masalah lainnya.

Tidak Ada Istilah Jepang untuk Hot Flashes 

Telah lama diketahui bahwa menopause lebih mudah dijalani bagi wanita Asia daripada bagi kebanyakan orang Barat. Hot flashes telah dilaporkan oleh hanya sekitar 10 persen wanita di Cina,8 17,6 persen wanita di Singapura, 9 dan 22,1 persen wanita di Jepang.10 Sebaliknya, diperkirakan bahwa hot flashes dialami oleh 75 persen wanita di atas usia 50 tahun di Amerika Serikat.11

Penjelasannya adalah sepanjang hidup mereka, wanita Barat mengkonsumsi daging lebih banyak, dan lemak sekitar empat kali lipat, daripada wanita di Asia yang pola makannya berbasis beras, dan hanya seperempat pada wanita Barat dibandingkan setengah pada wanita Asia dalam hal konsumsi serat. Diet tinggi lemak, rendah serat menyebabkan peningkatan kadar estrogen. Wanita dengan pola makan yang lebih tinggi lemak memiliki aktivitas estrogen terukur lebih banyak daripada wanita dengan pola makan rendah lemak. Saat menopause, produksi estrogen di ovarium berhenti. Wanita-wanita yang telah menjalani pola makan tinggi lemak kemudian memiliki penurunan tajam pada kadar estrogen. Penurunan tersebut tampak kurang dramatis bagi wanita Asia yang memiliki tingkat estrogen yang lebih rendah, baik sebelum maupun setelah menopause. Gejala yang ditimbulkan menopause lebih ringan atau bahkan tidak ada.

Bukti yang lebih besar mengenai kaitan pola makan berasal dari sebuah penelitian yang menarik yang dilakukan oleh antropolog medis dari Universitas Kalifornia yang mewawancarai wanita Yunani dan Maya tentang pengalaman menopause mereka.12

Para wanita Yunani mencari nafkah dengan bertani. Menopause mereka terjadi pada usia rata-rata 47 tahun, dibandingkan dengan usia rata-rata lebih dari 50 tahun di Amerika Serikat. Sekitar tiga perempat dari wanita Yunani memiliki hot flashes, tetapi hal itu dianggap normal dan tidak memerlukan obat-obatan.

Para wanita Maya tinggal di bagian tenggara Yucatan, Meksiko. Menopause terjadi lebih awal dari wanita yang tinggal di Yunani atau Amerika Utara, pada usia rata-rata 42 tahun. Berbeda dengan pengalaman wanita Yunani dan Amerika, hot flashes sama sekali tidak dikenal di antara bangsa Maya, seperti orang Jepang. Bidan, tenaga medis, dan wanita itu sendiri melaporkan bahwa hot flashes tidak terjadi dan juga tidak disebutkan dalam buku-buku tentang obat botani bangsa Maya.

Perbedaan antara orang Amerika dan Yunani dan Eropa lainnya di satu sisi, dimana hot flashes biasa terjadi, dan bangsa Maya dan Jepang di sisi lain, dimana hot flashes jarang terjadi atau tidak dikenal, tampaknya adalah pola makan. Pola makan bangsa Maya terdiri dari tortilla jagung dan jagung, kacang, tomat, labu, ubi, lobak, dan sayuran lain, dengan daging sangat sedikit dan tidak ada produk susu. Seperti pola makan tradisional Jepang, pola makan mereka sangat rendah dalam produk hewani dan rendah lemak pada umumnya. Pola makan Yunani, kaya dengan sayuran dan kacang-kacangan, tetapi juga berisi daging, ikan, keju, dan susu, seperti halnya masakan dari negara lain di Eropa dan Amerika Utara. Makanan berbasis hewani mempengaruhi kadar hormon dengan cepat dan kuat, dan tidak diragukan lagi berkontribusi pada masalah menopause yang umum ditemui di negara-negara Barat.

Mengobati Hot Flashes

shutterstock.com

Selain pola makan vegetarian rendah lemak, yang sangat dianjurkan bagi wanita yang mengalami hot flashes, olahraga aerobik rutin membantu.13 Berjalan cepat setiap hari, atau kegiatan fisik yang setara, tampak meredakan hot flashes.

Sejumlah jamu dan suplemen makanan mengklaim meringankan gejala menopause. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa cohosh hitam13, 14,15 dan kedelai,13,14 pada tingkat lebih rendah, dapat membantu. Uji vitamin E, dong quai, dan terapi lainnya seperti ini telah menunjukkan sedikit bukti bahwa suplemen tersebut mengurangi gejala, dan topik ini masih perlu banyak penelitian.16 Suplemen makanan tidak diatur oleh Food and Drug Administration, dan penting untuk berbicara dengan dokter Anda sebelum minum suplemen apapun.

Bagi wanita yang sedang mempertimbangkan suplemen hormon, beberapa formula mungkin lebih aman daripada yang lain. Estrogen yang sering diresepkan oleh dokter mengandung sejumlah besar estradiol, yang merupakan salah satu bentuk estrogen yang banyak dikuatirkan para ilmuwan dan wanita menopause dapat menyebabkan kanker. Estrogen yang berbeda, estriol, tampaknya lebih aman. Bukti terbaik menunjukkan estriol  tidak meningkatkan risiko kanker.17, 18,19,20 Krim nabati yang mengandung estriol dan estrogen lainnya dalam jumlah yang lebih kecil tersedia tanpa memerlukan resep. Krim yang mengandung estriol murni harus diresepkan oleh dokter, bukan karena krim itu lebih berbahaya, tetapi karena mereka termasuk obat, bukan formula alami. Jika krim ini yang digunakan, ia harus disertai dengan progesteron untuk mengurangi risiko kanker rahim dan penggunaannya harus dipantau oleh dokter. Sayangnya, baru sedikit penelitian yang telah dilakukan mengenai penggunaan estriol dibandingkan estradiol.

Solusi Alami Vagina Kering

Saat menopause, aliran darah vagina menurun. Kekeringan dan iritasi dapat terjadi, dan infeksi bakteri yang memasuki saluran kemih lebih mungkin terjadi.

Apa yang harus dilakukan? Pertama-tama, bahkan setelah ovarium berhenti berproduksi, kelenjar adrenal dan jaringan lemak terus memberikan kontribusi memproduksi estrogen setelah menopause. Selain itu, fitoestrogen pada tanaman memberikan efek estrogen yang lemah. Produk kedelai, seperti tahu, tempe, dan miso, mengandung sejumlah besar senyawa alami ini.

Estrogen yang berasal dari tumbuhan dan krim progesteron yang dijelaskan di atas dapat membantu. Bila digunakan secara teratur, krim ini menjaga vagina tetap lembab. Namun, perlu diketahui bahwa krim tersebut tidak boleh digunakan sebagai pelumas seksual. Krim estrogen adalah obat, bukan pelumas, dan masuk ke dalam kulit yang disentuhnya, termasuk kulit laki-laki. Banyak wanita lebih memilih untuk menghindari sama sekali krim hormon dan menggunakan pelumas biasa atau pelembab sebagai gantinya.

Psikologi Menopause

Perubahan hormon dapat mempengaruhi suasana hati seperti membuat Anda gugup, tertekan, atau menjadi pelupa. Terkadang perasaan ini bahkan dapat meregangkan hubungan Anda dengan orang lain. Tak perlu kuatir, efek psikologis dari menopause ini hanya sementara. Anda akan segera kembali stabil. Berikut ini adalah dampak psikologis menopause.

Kecemasan. Wanita yang tidak pernah memiliki masalah dengan kecemasan sebelumnya dapat menjadi lebih khawatir tentang hal-hal kecil. Dalam beberapa kasus, serangan panik terjadi. Profesional kesehatan mental memiliki berbagai terapi efektif. Banyak orang merasa lebih baik setelah mengetahui kondisi yang sedang terjadi ini. Jangan biarkan kecemasan membatasi aktivitas Anda. Ketika gangguan cemas atau panik menyebabkan orang menghindari situasi yang menegangkan, orang menjadi terus kesulitan menikmati hidup. Kecemasan dapat menyebabkan orang menghindari banyak aspek kehidupan normal. Terapi yang tepat dapat mencegah hal ini.

Depresi dan Mudah Marah. Depresi dapat menjadi masalah bagi wanita menopause.21,22 Mudah marah juga sering ditemui.23 Ketika mempertimbangkan terapi untuk depresi, mudah marah, atau kecemasan, penting untuk mengeksplorasi berbagai pilihan yang tersedia. Langkah pertama adalah buat pola makan Anda teratur dan lakukan olahraga rutin untuk membantu menstabilkan perubahan hormon dan mengurangi gejala fisik yang dapat memperburuk masalah suasana hati. Psikoterapi bisa menjadi sangat berguna, dan teknik jangka pendek baru ditemukan efektif dan tidak memakan biaya yang mahal dibandingkan terapi tradisional.  Antidepresan baru dan obat anti ansietas memiliki lebih sedikit efek samping daripada obat-obatan lama.

Pelupa dan Sulit Konsentrasi. Beberapa wanita menemukan bahwa menopause membuat mereka menjadi lebih mudah lupa dan sulit berkonsentrasi. Hal ini dapat mengganggu dan menjengkelkan, tapi untungnya masalah ini hilang dengan sendirinya.

Menjaga atau Memulihkan Tulang yang Sehat dan Kuat

Osteoporosis-penipisan jaringan tulang-adalah umum, khususnya di kalangan wanita ras Kaukasia, setelah menopause. Penyebabnya biasanya bukan asupan kalsium tidak memadai. Masalahnya adalah kalsium cepat hilang secara tidak normal, yang diperburuk oleh lima pemicu hilangnya kalsium berikut ini :

123rf.com

1. Protein hewani. Ketika para peneliti memberi makan dengan protein hewani kepada para relawan dan kemudian mengetes air seni mereka tak berapa lama kemudian, urin mereka sarat dengan kalsium, yang berasal dari tulang mereka. Berikut ini alasannya. Suatu molekul protein seperti untaian manik-manik, dan setiap “manik” adalah asam amino. Ketika protein dicerna, manik-manik ini terpisah dan masuk ke dalam darah, membuat darah sedikit asam. Dalam proses menetralkan keasaman itu, kalsium ditarik dari tulang dan akhirnya hilang dalam urin. Sebuah laporan dalam American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan bahwa ketika subjek penelitian menghilangkan daging, keju, dan telur dari pola makan mereka, hilangnya kalsium dalam urin dapat dipangkas separuh.24 Studi lain menunjukkan bahwa rasio protein hewani yang tinggi bila dibandingkan dengan protein nabati dalam pola makan meningkatkan kehilangan tulang dan risiko patah tulang pada wanita pasca menopause.25 Mengganti daging sapi ke ayam atau ikan tidak membantu, karena produk ini memiliki protein hewani sebanyak daging sapi, atau bahkan sedikit lebih.

2. Sodium (garam). Jika Anda melemparkan garam ke atas trotoar yang licin, garam itu melarutkan es; jika Anda memercikkannya pada makanan Anda, garam dapat melarutkan tulang Anda, meskipun dengan mekanisme yang berbeda. Garam tampaknya memperbesar hilangnya kalsium melalui ginjal. Untuk rata-rata orang, memotong asupan garam separuh menurunkan kebutuhan kalsium sehari-hari sekitar 160 milligram.26 Untuk wanita menopause, mengurangi asupan garam dari rata-rata AS (3,4 gram per hari) ke pola makan rendah garam (<2 gram per hari) telah terbukti meningkatkan kesehatan tulang.27 Biji-bijian, sayuran, buah-buahan, dan kacang sangat rendah garam kecuali garam ditambahkan ke dalamnya. Snack, makanan kaleng, produk susu, dan daging cenderung menaikkan jumlah garam dalam makanan.

3. Kafein. Entah itu dari kopi, teh, atau cola, kafein adalah diuretik lemah yang menyebabkan hilangnya kalsium melalui ginjal.28 Asupan kafein > 300 mg per hari telah terbukti mempercepat kehilangan tulang pada wanita menopause lanjut usia.29

4. Tembakau. Perokok jangka panjang memiliki 10 persen tulang yang lebih lemah dan risiko 40 persen lebih tinggi untuk patah tulang.30 Bahkan perokok pasif di rumah dapat menurunkan kepadatan tulang.31

5. Gaya hidup banyak duduk. Tulang yang tidak digerakkan kehilangan kekuatannya,32 dan aktivitas fisik yang rendah merupakan faktor risiko untuk patah tulang osteoporosis.33 Untuk kesehatan tulang yang optimal, orang dewasa harus setidaknya melakukan aktivitas fisik 30 menit, sebaiknya setiap hari, dan termasuk olahraga weight-bearing, misal jalan cepat atau aerobik, dan olahraga yang melatih otot-otot tertentu, misal angkat dambel atau push up.34

Sumber Sehat Kalsium

Bila Anda menghilangkan pemicu-hilangnya-kalsium tersebut, semakin sedikit kebutuhan kalsium dalam pola makan Anda. Namun, Anda akan selalu membutuhkan sejumlah kalsium. Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan 800 mg per hari untuk wanita pasca menopause pada pola makan rendah protein hewani.35

Meskipun banyak orang mencoba untuk mendapatkan kalsium dari susu, hanya sekitar 30 persen kalsium dalam produk susu yang dapat diserap.36 70 persen sisanya tidak pernah melewati dinding usus dan dikeluarkan begitu saja lewat tinja. Produk susu juga mengandung gula laktosa, protein hewani, dan jejak antibiotik dan kontaminan lainnya.

shutterstock.com

Sumber kalsium yang paling sehat adalah sayuran hijau dan kacang-kacangan. Sayuran berdaun hijau sarat dengan kalsium. Satu cangkir collard hijau memiliki 226 miligram kalsium. Terlebih lagi, kalsium di sebagian sayuran berdaun hijau lebih mudah diserap daripada kalsium dalam susu. Pengecualian adalah bayam, yang cenderung untuk menyimpan kalsium untuk dirinya sendiri. Kacang-kacangan juga sarat dengan kalsium. Jika Anda menjadikan sayuran hijau dan kacang bagian rutin dari pola makan Anda, Anda akan mendapatkan dua sumber utama kalsium. Jus jeruk yang diperkaya kalsium mengandung kalsium lebih banyak daripada susu, dan dalam bentuk kalsium sitrat, yang jauh lebih mudah diserap daripada kalsium karbonat dalam susu atau suplemen.

Anda tidak perlu makan enam cangkir sayuran hijau atau porsi besar kacang untuk mendapatkan cukup kalsium. Satu menu sayuran dan kacang-kacangan yang bervariasi dapat dengan mudah memberikan semua yang Anda butuhkan, dan jumlah yang dibutuhkan tubuh Anda jauh lebih sedikit jika Anda menghindari daging dan penghilang kalsium lainnya.

Sumber Sehat Kalsium

Sumber

Kandungan Kalsium dalam Miligram

Brokoli (156 gr, direbus dari beku)

94

Brussel sprout / Kol mini (156 gr, rebus)

56

Butternut squash/labu (205 gr, rebus)

84

Seledri (150 gr, rebus)

63

Buncis (125 gr, rebus)

58

Kacang merah (177 gr, rebus)

50

Susu non-sapi (244 gr,susu kedelai atau susu beras)

300

Oatmeal instan

215

Bawang putih (210 gr, rebus)

46

Kacang kedelai (172 gr, rebus)

175

Ubi manis (328 gr, rebus)

69

Tahu (114 gr)

204

Source: Pennington JA, Douglas JS. Bowes and Church’s food values of portions commonly used. 18th ed. Baltimore, MD: Lippincott Williams & Wilkins; 2005.

Sinar matahari

Saat sinar matahari menyentuh kulit, ia menyalakan produksi alami vitamin D, yang membantu saluran pencernaan Anda menyerap kalsium dari makanan dan menyimpannya di ginjal. Bagi mereka yang jarang mendapatkan paparan sinar matahari, suplemen vitamin D atau multivitamin yang mengandung vitamin D mungkin diperlukan. Bagi wanita <50 tahun, 5 mcg (200 IU) per hari dianjurkan; untuk wanita 51-65 tahun, 10 mcg (400 IU), dan untuk wanita >65 tahun, 15 mcg (600 IU).35 Dosis vitamin D yang lebih tinggi dapat menjadi racun dan harus dihindari.

Menopause adalah bagian normal dari kehidupan, bukan diagnosis. Dan ada cara yang sehat, alami untuk mengatasi perubahan yang dibawanya. Pola makan vegetarian yang rendah lemak, dikombinasikan dengan aktivitas fisik secara teratur, dapat membantu wanita mengurangi gejala menopause. Sementara terapi pengganti hormon meningkatkan risiko kanker dan penyakit jantung, perubahan gaya hidup yang yang direkomendasikan ini sebenarnya mengurangi risiko penyakit-penyakit ini, serta masalah lain yang terkait dengan menopause.37

References
1. Rossouw JE, Anderson GL, Prentice RL, et al. Risks and benefits of estrogen plus progestin in healthy postmenopausal women: principal results from the Women’s Health Initiative randomized controlled trial. JAMA. 2002;288:321-333.
2. Grady D, Herrington D, Bittner V, et al. Heart and Estrogen/progestin Replacement Study follow-up (HERS II): cardiovascular outcomes during 6.8 years of hormone therapy. JAMA. 2002;288:49-57.
3. Shumaker SA, Legault C, Kuller L, et al. Conjugated equine estrogens and incidence of probable dementia and mild cognitive impairment in postmenopausal women: Women’s Health Initiative Memory Study. JAMA. 2004;291:2947-2958.
4. Grady D, Gebretsadik T, Kerlikowske K, Ernster V, Petitti D. Hormone replacement therapy and endometrial cancer risk: a meta-analysis. Obstet Gynecol. 1995;85:304-313.
5. Lacey JV Jr, Mink PJ, Lubin JH, et al. Menopausal hormone replacement therapy and risk of ovarian cancer. JAMA. 2002;288:334-341.
6. Kim N, Gross C, Curtis J, et al. The impact of clinical trials on the use of hormone replacement therapy. A population-based study. J Gen Intern Med. 20(11):1026-1031.
7. Hoffmann M, Hammar M, Kjellgren KI, Lindh-Astrand L, Brynhildsen J. Changes in women’s attitudes towards and use of hormone therapy after HERS and WHI. Maturitas. 2005;52(1):11-17.
8. Ho SC, Chan SG, Yip YB, Cheng A, Yi Q, Chan C. Menopausal symptoms and symptom clustering in Chinese women. Maturitas. 1999;33(3):219-27.
9. Chim H, Tan BH, Ang CC, Chew EM, Chong YS, Saw SM. The prevalence of menopausal symptoms in a community in Singapore. Maturitas. 2002;41(4):275-282.
10. Melby MK. Vasomotor symptom prevalence and language of menopause in Japan. Menopause. 2005;12(3):250-257.
11. Utian WH. Psychosocial and socioeconomic burden of vasomotor symptoms in menopause: a comprehensive review. Health Qual Life Outcomes. 2005;3:47
12. Beyene Y. Cultural significance and physiological manifestations of menopause: a biocultural analysis. Cult, Med, and Psychiatry. 1986;10:47-71.
13. Fugate SE, Church CO. Nonestrogen treatment modalities for vasomotor symptoms associated with menopause. Ann Pharmacother. 2004;38(9):1482-99. Epub August 3, 2004.
14. Carroll DG. Nonhormonal therapies for hot flashes in menopause. Am Fam Physician. February 1, 2006;73(3):457-464.
15. Low Dog T. Menopause: a review of botanical dietary supplements. Am J Med. 2005;118(12 Suppl 2):98-108.
16. Kronenberg F, Fugh-Berman A. Complementary and alternative medicine for menopausal symptoms: a review of randomized, controlled trials. Ann Intern Med. 2002;137(10):805-813.
17. Follingstad AH. Estriol, the forgotten estrogen? JAMA. 1978;239:29-30.
18. Heimer GM. Estriol in the postmenopause. Acta Obstet Gynecol Scand. 1987;Suppl 139:3-23.
19. Molander U, Milsom I, Ekelund P, Mellstrom D, Eriksson O. Effect of oral oestriol on vaginal flora and cytology and urogenital symptoms in the post-menopause. Maturitas. 1990;12:113-120.
20. Gerbaldo D, Ferraiolo A, Croce S, Truini M, Capitanio GL. Endometrial morphology after 12 months of vaginal oestriol therapy in post-menopausal women. Maturitas. 1991;13:269-274.
21. Cohen LS, Soares CN, Vitonis AF, Otto MW, Harlow BL. Risk for new onset of depression during the menopausal transition: the Harvard study of moods and cycles. Arch Gen Psychiatry. 2006;63(4):385-390.
22. Freeman EW, Sammel MD, Lin H, Nelson DB. Associations of hormones and menopausal status with depressed mood in women with no history of depression. Arch Gen Psychiatry. 2006;63(4):375-382.
23. O’Bryant SE, Palav A, McCaffrey RJ. A review of symptoms commonly associated with menopause: implications for clinical neuropsychologists and other health care providers. Neuropsychol Rev. 2003;13(3):145-152.
24. Remer T, Manz F. Estimation of the renal net acid excretion by adults consuming diets containing variable amounts of protein. Am J Clin Nutr. 1994;59:1356-1361.
25. Sellmeyer DE, Stone KL, Sebastian A, Cummings SR. A high ratio of dietary animal to vegetable protein increases the rate of bone loss and the risk of fracture in postmenopausal women. Am J Clin Nutr. 2001;73:118-122.
26. Nordin BEC, Need AG, Morris HA, Horowitz M. The nature and significance of the relationship between urinary sodium and urinary calcium in women. J Nutr. 1993;123:1615-1622.
27. Carbone LD, Barrow KD, Bush AJ, et al. Effects of a low sodium diet on bone metabolism. J Bone Miner Metab. 2005;23(6):506-513.
28. Massey LK, Whiting SJ. Caffeine, urinary calcium, calcium metabolism and bone. J Nutr. 1993;123:1611-1614.
29. Rapuri PB, Gallagher JC, Kinyamu HK, Ryschon KL. Caffeine intake increases the rate of bone loss in elderly women and interacts with vitamin D receptor genotypes. Am J Clin Nutr. 2001;74(5):694-700.
30. Hopper JL, Seeman E. The bone density of female twins discordant for tobacco use. N Engl J Med. 1994;330:387-392.
31. Blum M, Harris SS, Must A, Phillips SM, Rand WM, Dawson-Hughes B. Household tobacco smoke exposure is negatively associated with premenopausal bone mass. Osteoporos Int. 2002;13(8):663-668.
32. Mazess RB, Barden HS. Bone density in premenopausal women: effects of age, dietary intake, physical activity, smoking, and birth-control pills. Am J Clin Nutr. 1991;53:132-142.
33. Lane NE. Epidemiology, etiology, and diagnosis of osteoporosis. Am J Obstet Gynecol. 2006;194(2 Suppl):S3-11.
34. U.S. Department of Health and Human Services. Bone Health and Osteoporosis: a Report of the Surgeon General. Rockville, MD: U.S. Department of Health and Human Services, Office of the Surgeon General, 2004.
35. WHO/FAO. Vitamin and mineral requirements in human nutrition. 2nd ed. Rome: World Health Organization and Food and Agriculture Organization of the United Nations; 2004.
36. Weaver CM, Proulx WR, Heaney R. Choices for achieving adequate dietary calcium with a vegetarian diet. Am J Clin Nutr. 1999;70(3 Suppl):543S-548S.
37. Segasothy M, Phillips PA. Vegetarian diet: panacea for modern lifestyle diseases? QJM. 1999;92(9):531-544.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan kunjungi link Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) berikut ini :

http://www.pcrm.org/health/health-topics/a-natural-approach-to-menopause

Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) adalah organisasi nirlaba yang berbasis di Washington, DC., AS dan beranggotakan lebih dari 6.000 dokter yang tertarik dalam peran nutrisi pada kesehatan. Hubungi PCRM pada alamat berikut : Physicians Committee for Responsible Medicine, 5100 Wisconsin Ave., N.W., Ste.400, Washington DC, 20016, Phone: 202-686-2210     Email: pcrm@pcrm.org

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: