You are currently browsing the tag archive for the ‘Faktor risiko diabetes mellitus’ tag.

Istilah diabetes mellitus (penyakit kencing manis atau penyakit gula) mengacu pada sekelompok penyakit yang menghasilkan jumlah gula (glukosa) dalam aliran darah lebih tinggi dari normal.

nlm.nih.gov

Diabetes terjadi sebagai akibat dari kurangnya atau tidak cukupnya produksi insulin, suatu hormon yang membantu glukosa masuk ke dalam sel-sel. Dalam diabetes tipe 1, sel-sel pankreas yang memproduksi insulin dirusak, sehingga insulin tidak diproduksi. Pada diabetes tipe 2, pankreas dapat memproduksi insulin, setidaknya pada awalnya, tetapi sel-sel tubuh melawan insulin, menyebabkan tubuh harus memproduksi insulin ekstra supaya glukosa masuk ke dalam sel-sel. Bila pankreas tidak bisa lagi menghasilkan cukup insulin untuk menjaga kadar glukosa darah normal, diagnosa diabetes ditegakkan.

Diabetes dapat mengakibatkan banyak komplikasi, termasuk penyakit jantung, masalah mata, gagal ginjal, gejala syaraf, amputasi kaki, dan lainnya.

Ada tiga macam diabetes mellitus:

  • Diabetes tipe 1, bertanggung jawab atas sekitar 5 sampai 10 persen dari semua kasus, terjadi sebagai akibat dari kerusakan sel dari pankreas yang memproduksi insulin. Sebagian besar kasus dimulai pada masa kecil dengan gejala penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, kelelahan, rasa haus dan buang air kecil berlebihan, dan penglihatan kabur. Diabetes tipe 1 juga dapat didiagnosis pada orang dewasa, meskipun kurang umum. Diabetes tipe 1 membutuhkan terapi insulin.
  • Diabetes tipe 2, yang menyumbang sekitar 90 persen kasus diabetes, sering dikaitkan dengan berat badan berlebih. Kebanyakan kasus terjadi pada orang dewasa, tetapi kejadian tersebut naik pesat pada anak, karena peningkatan tingkat obesitas. Diabetes tipe 2 sering disertai dengan hipertensi dan kolesterol tinggi. Meskipun beberapa pasien dengan diabetes tipe 2 memerlukan suntikan insulin, sebagian besar diobati dengan obat oral. Gejala cenderung jauh lebih ringan di tipe 2 dibandingkan dengan tipe 1 ketika penyakit muncul pertama kali, tetapi komplikasi diabetes tipe 2 sering terjadi dan bisa mengancam jiwa.
  • Diabetes mellitus gestasional bertanggung jawab atas sekitar 2 persen kasus diabetes. Seperti namanya, diabetes gestasional pertama kali muncul selama kehamilan. Hormon yang disekresikan oleh plasenta – estrogen, progesteron, hormon pertumbuhan, corticotrophin-releasing hormon, dan prolaktin – mengurangi fungsi insulin, mengakibatkan gula darah tinggi. Pengobatan dengan perubahan pola makan dan / atau obat-obatan (biasanya insulin) sangat penting untuk mencegah komplikasi janin. Meskipun kadar gula darah biasanya normal setelah lahir, banyak wanita dengan diabetes gestasional akhirnya mengembangkan diabetes tipe 2.

Faktor Risiko

Faktor risiko untuk diabetes tipe 1 meliputi:

  • Riwayat keluarga: Ketika seorang sanak famili (orang tua, anak, saudara kandung) memiliki diabetes, risiko mengembangkan diabetes tipe 1 adalah sekitar 10 sampai 15 persen. Banyak kemungkinan gen sedang diselidiki.
  • Paparan protein susu sapi: Konsumsi susu sapi pada anak usia dini telah diselidiki sebagai faktor penyebabnya.
  • Infeksi virus pada janin atau pada masa kecil
  • Berat lahir lebih besar dari 4.49 kg
  • Preeklamsia (tekanan darah tinggi pada ibu hamil)
  • Dilahirkan oleh seorang ibu yang lebih tua dari 25 tahun

 Faktor risiko untuk diabetes tipe 2 meliputi:

  • Riwayat keluarga diabetes tipe 2 pada keluarga tingkat pertama (orang tua, anak, saudara kandung) atau kedua (paman, bibi, kakek, nenek, cucu, keponakan)
  • Usia yang lebih tua
  • Obesitas perut
  • Sejarah diabetes gestasional
  • Adanya hipertensi dan kolesterol tinggi
  • Ras dan Etnis: Afrika-Amerika, Latin, Indian Amerika / Alaska Pribumi, serta Asia dan Kepulauan Pasifik memiliki risiko lebih besar.

Faktor risiko untuk diabetes gestasional atau kehamilan tercantum di bawah ini. Selain itu, individu-individu dari Asia, keturunan Afrika, penduduk asli-Amerika, dan Hispanik memiliki risiko lebih besar untuk diabetes gestasional dibandingkan dengan kulit putih non-Hispanik. Faktor risiko untuk diabetes gestasional tumpang tindih dengan diabetes tipe 2.

  • Riwayat keluarga diabetes tipe 2 pada seorang sanak tingkat pertama (orang tua, anak, saudara kandung)
  • Sejarah gula darah tinggi
  • Penggunaan steroid selama kehamilan
  • Sindrom ovarium polikistik
  • Usia lebih dari 25 tahun
  • Berat badan sebelum hamil setidaknya 10 persen di atas berat badan ideal
  • Anak sebelumnya memiliki berat badan lahir lebih besar dari 4 kg
  • Berat lahir ibu lebih besar dari 4 kg atau kurang dari 2,72 kg

Diagnosa

  • Pemeriksaan dimulai dengan sejarah medis dan pemeriksaan fisik.
  • Pengujian glukosa darah akan dilakukan. Pengujian dapat dilakukan baik secara acak, puasa, atau sebagai bagian dari tes toleransi glukosa, yang mengukur glukosa darah setelah pasien menelan sirup tes gula.
  • Pada pasien dengan diabetes, tes darah untuk tingkat hemoglobin A1c dapat digunakan untuk mengikuti kecukupan pengendalian gula darah. Hal ini memberikan pengukuran yang cukup akurat akan gula darah rata-rata selama dua sampai tiga bulan sebelumnya. Risiko komplikasi lebih rendah pada pasien yang mempertahankan nilai-nilai A1c lebih rendah.
  • Pada beberapa pasien, diabetes tipe 1 dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan darah yang mengidentifikasi antibodi yang ditujukan terhadap pankreas. Namun, tidak ada tes untuk diabetes tipe 2 selain pengukuran gula darah.
  • Skrining untuk diabetes gestasional adalah bagian rutin pemeriksaan prenatal. Skrining biasanya terjadi antara 24 dan 28 minggu kehamilan dan melibatkan tes gula darah yang sama seperti dengan jenis lain diabetes.

Pengobatan

Intervensi diet dan gaya hidup penting untuk pasien dengan semua jenis diabetes mellitus (lihat Pola Makan untuk Penderita Diabetes Mellitus). Pendidikan untuk manajemen diri-diabetes, yang mencakup pemantauan diri gula darah, merupakan komponen penting dari pengobatan.

Untuk semua jenis diabetes, kontrol gula darah yang baik menurunkan risiko komplikasi. Adalah penting untuk menyadari bahwa obat tertentu (misalnya beta-blocker, steroid, diuretik tiazid, dan kontrasepsi oral) dapat menyebabkan gula darah tinggi.

Diabetes Tipe 1

Diabetes tipe 1 membutuhkan perawatan dengan suntikan insulin. Insulin tersedia dalam beberapa bentuk:

  • Insulin masa kerja panjang (long-acting insulin) dapat diberikan sekali sehari.
  • Insulin reguler atau insulin super-cepat (fast-acting insulin) bekerja dengan cepat dan dapat diberikan sebelum makan untuk mengekang peningkatan gula darah yang terjadi setelah makan besar.
  • Insulin super-cepat (fast-acting), yang dapat dihirup disetujui untuk digunakan pada orang dewasa pada tahun 2006. Namun, jangka panjang keamanannya masih belum jelas.
  • Pramlinitide juga dapat disuntikkan pada waktu makan beserta dengan insulin super-cepat. Ia menurunkan peningkatan gula darah yang terjadi saat makan dan menekan nafsu makan, yang dapat menyebabkan penurunan berat badan.

Diabetes Tipe 2

Ada menu pilihan obat yang tersedia untuk mengobati diabetes tipe 2. Beberapa orang akan membutuhkan insulin, tetapi pada umumnya, terutama di tahun-tahun awal setelah diagnosis, untuk menggunakan satu atau lebih obat oral. Pilihannya didasarkan pada faktor-faktor seperti efektivitas, biaya, dan masalah kesehatan lain yang dapat diperbaiki atau diperburuk oleh satu obat atau yang lain. Penting untuk mengetahui nama, dosis, cara kerja, dan kemungkinan efek samping dari setiap obat yang telah diresepkan. Di bawah ini adalah ringkasan singkat, dengan biaya berdasarkan pencarian farmasi online. Konsultasikan apoteker atau dokter Anda untuk informasi lebih lanjut.

Obat oral yang paling umum digunakan adalah metformin (Glucophage). Pil ini bekerja terutama dengan mengurangi produksi glukosa di hati. Efek samping yang umum adalah kram perut, tinja encer, dan kembung, tetapi hal ini sering menghilang setelah beberapa waktu. Obat ini tidak boleh digunakan oleh orang yang memiliki masalah hati atau ginjal, keduanya dapat diperiksa dengan tes darah sederhana. Obat ini juga tidak boleh digunakan pada orang di atas 80 tahun, mereka yang memiliki gagal jantung, atau mereka yang menggunakan alkohol. Metformin itu sendiri biasanya tidak akan menyebabkan kadar gula darah menjadi terlalu rendah, dan bekerja menekan nafsu makan. Harga rata-rata adalah sekitar $60/bulan.

Kelompok obat terbesar dan tertua untuk diabetes bekerja dengan membantu pankreas membuat insulin lebih banyak. Beberapa contoh umum termasuk Glipizide (Glucotrol), glyburide (Diabeta, Micronase, atau Glynase), dan glimepride (Amaryl). Pil harus diminum pada dosis yang lebih rendah pada pasien dengan masalah ginjal dan umumnya tidak boleh digunakan oleh orang yang alergi terhadap sulfa. Efek samping yang paling umum adalah gula darah rendah, yang kadang-kadang dapat menyebabkan orang merasa lapar dan makan lebih banyak, yang dapat menyebabkan kenaikan berat badan. Masalah lain dengan pil ini adalah bahwa, untuk kebanyakan orang, obat ini berhenti bekerja setelah beberapa tahun. Pada beberapa orang, obat-obat ini dapat meningkatkan risiko terbakar sinar matahari. Harga dapat berkisar dari $10 sampai $110/bulan.

Dua obat tambahan yang lebih baru juga membantu pankreas membuat insulin lebih banyak. Ini adalah Nateglinide (Starlix) dan repaglinide (Prandin). Obat ini hanya bertahan beberapa jam, sehingga harus diminum sebelum makan. Pil ini dapat menyebabkan gula darah rendah, tetapi kemungkinannya lebih sedikit daripada beberapa obat lain karena obat-obat ini bertahan dalam waktu yang singkat. Obat-obat ini bekerja terbaik pada awal proses penyakit. Harganya dapat berkisar dari $130 sampai $230/bulan.

Beberapa obat bekerja dengan memperlambat pencernaan karbohidrat. Ini termasuk acarbose (Precose) dan miglitol (Glyset). Obat ini harus diasup bersamaan dengan gigitan pertama setiap kali makan. Obat ini sering menyebabkan sakit perut, diare, dan perut kembung. Gula darah rendah dapat terjadi, dan jika terjadi, harus diobati dengan tablet glukosa murni atau gel karena obat ini memblokir karbohidrat lain, seperti jus. Harga sekitar $110 sampai $160/bulan.

Kelompok obat lain membuat sel-sel otot kurang tahan terhadap insulin. Ini termasuk pioglitazone (Actos) dan rosiglitazone (Avandia). Pil ini tidak boleh digunakan pada siapa saja dengan tes fungsi hati darah abnormal atau riwayat gagal jantung. Dengan sendiri, pil ini biasanya tidak akan menyebabkan gula darah rendah, tetapi mereka cenderung menyebabkan kenaikan berat badan dan retensi cairan. Harganya sekitar $170/bulan.

Salah satu tipe terbaru dari obat untuk diabetes bekerja meningkatkan sistem inkretin tubuh, yang membantu mengatur tingkat gula darah. Satu-satunya obat di kelas ini sejauh ini adalah sitagliptin (Januvia). Obat ini bekerja lebih baik di awal diagnosis, dan tidak menyebabkan gula darah rendah atau penambahan berat badan. Namun, harganya sekitar $150/bulan.

Jika obat yang Anda minum adalah obat yang yang dapat menyebabkan gula darah rendah, Anda harus menyadari tanda dan gejalanya, dan bersiaplah untuk mengobatinya jika terjadi. Jika kadar gula darah terlalu rendah (biasanya di bawah 80, atau bila dokter merasa terlalu rendah untuk Anda), Anda mungkin merasakan hal yang sama seperti bila Anda terlalu lama tidak makan. Anda mungkin mengalami sakit kepala atau merasa marah atau cemas. Gejala umum lainnya adalah pusing, berkeringat, gemetar, dan/atau perubahan visi. Jika tidak diobati, gula darah bisa terus menurun, dan dapat menyebabkan refleks melambat, sempoyongan, dan mungkin kehilangan kesadaran.

Gula darah rendah dapat terjadi akibat obat diabetes tertentu jika Anda terlalu lama tanpa makan, atau makan lebih sedikit dari biasanya, atau jika Anda secara signifikan lebih aktif dari biasanya. Hal ini penting untuk mengetahui apakah obat yang Anda minum untuk diabetes dapat menyebabkan gula darah rendah. Jika demikian, pastikan untuk selalu membawa obat, seperti kotak jus kecil, atau tiga sampai empat tablet glukosa, atau segulung Lifesaver. Ini akan membantu membawa kadar gula darah dengan cepat kembali ke normal, tetapi tidak akan berlangsung sangat lama, sehingga memiliki makanan ringan atau makan dalam waktu 30 menit saat gula darah rendah untuk mencegah hal itu terjadi lagi.

Ketika Anda berubah ke pola makan yang sehat, rendah lemak, berbasis-nabati, obat tersebut mungkin menjadi terlalu kuat dan Anda dapat mulai mengalami beberapa gejala gula darah rendah seperti yang dijelaskan di atas. Ini tidak berarti pola makan Anda yang buruk! Ini dapat merupakan tanda bahwa Anda tidak lagi membutuhkan obat sebanyak itu lagi.

Bicaralah dengan dokter tentang obat Anda jika Anda mengalami gula darah rendah.

Diabetes Gestasional

Perubahan diet adalah pengobatan lini pertama (lihat Pola Makan untuk Penderita Diabetes Mellitus). Jika perubahan pola makan tidak cukup untuk mencapai gula darah normal, suntikan insulin harus dipertimbangkan.

Peran Olahraga

123rf.com

Gaya hidup kurang bergerak dikaitkan dengan peningkatan risiko untuk gula darah tinggi dan diabetes. Pada orang dengan diabetes, olahraga mengurangi tingkat gula darah. Olahraga juga mengurangi komplikasi kardiovaskular akibat diabetes, termasuk tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan peradangan. Olahraga saja memiliki sedikit atau tidak berpengaruh pada berat badan.

Wanita yang baik itu memiliki atau berisiko untuk diabetes gestasional juga bisa memetik manfaat dari olahraga. Olahraga berjalan atau bagian atas tubuh (tapi jangan pernah sambil berbaring) dapat mengurangi risiko diabetes gestasional dan membantu menurunkan tingkat gula darah ke kisaran normal. Pada wanita dengan diabetes gestasional, olahraga telah ditemukan menjadi strategi yang berguna untuk membantu mempertahankan gula darah dalam kisaran normal, dan membantu para perempuan mengontrol gula darah tanpa menggunakan insulin. Namun, berolahraga harus dihentikan jika kontraksi terjadi.

Pencegahan Diabetes Tipe 1

Faktor makanan yang dapat mempengaruhi risiko diabetes tipe 1 telah diselidiki. Pertimbangan berikut penting untuk strategi pencegahan:

  • Menyusui: Dalam beberapa penelitian epidemiologi, menyusui berhubungan dengan penurunan risiko terkena diabetes tipe 1. Durasi yang lebih lama menyusui dapat menjadi kunci untuk mengurangi risiko, mungkin dengan meningkatkan perlindungan terhadap infeksi, meningkatkan respon imun bayi, dan menunda paparan alergen makanan asing.
  • 123rf.com

    Menghindari pengenalan awal dari susu sapi: Susu sapi telah berhubungan dengan diagnosis diabetes, dan anak-anak dengan diabetes tipe 1 telah ditemukan memiliki tingkat antibodi yang lebih tinggi terhadap protein tertentu yang terkandung dalam susu sapi. Meskipun belum terbukti secara meyakinkan bahwa susu sapi adalah pemicu diabetes tipe 1, American Academy of Pediatrics menyimpulkan bahwa menghindari paparan awal susu sapi dapat mengurangi risiko.

  • Menghindari pengenalan terlalu dini makanan yang mengandung gluten: Sebuah prevalensi penyakit celiac telah diamati pada anak dengan diabetes tipe 1, dibandingkan dengan anak lain. Dalam studi epidemiologi, melengkapi diet bayi dengan makanan yang mengandung gluten (misalnya, gandum, barley, dan rye) sebelum usia tiga bulan dikaitkan dengan peningkatan risiko untuk mengembangkan antibodi khas diabetes. Pada beberapa anak, baik itu pengenalan dini (sebelum tiga bulan) dan terlambat (setelah tujuh bulan) akan sereal terkait dengan peningkatan risiko.

Pencegahan Diabetes Tipe 2

Meskipun diabetes tipe 2 memiliki komponen genetik yang kuat, diet dan gaya hidup secara signifikan mempengaruhi kemungkinan bahwa penyakit itu akan timbul. Risiko untuk tipe 2 dan diabetes gestasional dapat dikurangi dengan mempertahankan berat badan yang sehat dan diet sehat.

shutterstock.com

Individu di Asia dan Afrika yang mengikuti diet tradisional rendah lemak hewan dan tinggi karbohidrat kompleks memiliki prevalensi diabetes yang jauh lebih rendah dibandingkan mereka yang mengikuti diet Barat. Vegetarian juga memiliki prevalensi diabetes yang lebih rendah daripada pemakan daging.

Hasil ini mungkin disebabkan beberapa faktor. Asupan lemak jenuh dikaitkan dengan gula darah tinggi, miskinnya produksi insulin, diabetes kehamilan, dan diabetes tipe 2. Sebaliknya, asupan tinggi serat makanan, khususnya dalam bentuk buah-buahan dan sayuran, menyebabkan kadar gula darah yang lebih rendah setelah makan. Selain itu, diet tinggi serat sering mengandung mikronutrien penting dalam regulasi gula darah, termasuk magnesium dan vitamin E.

Program Pencegahan Diabetes (DPP) menunjukkan bahwa perubahan pola makan yang dirancang untuk mengurangi berat badan, dikombinasikan dengan olahraga teratur, secara signifikan dapat mengurangi risiko diabetes tipe 2. Secara khusus, risiko berkurang hampir 60 persen pada kelompok yang menggabungkan diet dan olahraga, dibandingkan dengan penurunan 30 persen mereka mereka dengan terapi obat. Dalam individu dengan usia 60 tahun lebih, risiko berkurang lebih dari 70 persen dengan diet dan olahraga, sedangkan terapi obat tidak efektif untuk orang lebih tua dari 45 tahun.

Pola Makan untuk Penderita Diabetes Mellitus

Tujuan terapi nutrisi pada manajemen diabetes meliputi pengendalian gula darah pada tingkat mendekati normal, pemeliharaan tekanan darah dan kadar kolesterol yang sehat, dan pencapaian berat badan yang sehat. Kepatuhan terhadap diet sehat, olahraga teratur, dan penggunaan obat bila diperlukan dapat mencapai tujuan dan membantu meminimalkan risiko komplikasi.

123rf.com

Mempertahankan berat badan yang sehat: Pedoman saat ini dari American Diabetes Association menganjurkan rencana makan dengan kalori terkontrol yang menggunakan daftar pergantian makanan agar asupan karbohidrat tetap stabil sepanjang hari dan dari hari demi hari. Pedoman ini juga membatasi lemak jenuh dan kolesterol. Manfaat dari pendekatan ini termasuk fleksibilitas dan diperbolehkannya sebagian besar makanan, meskipun dalam jumlah terbatas. Kelemahannya antara lain perlunya menakar makanan dan kesulitan dalam membatasi kalori dalam jangka panjang. Diet semacam itu membutuhkan pendidikan dan pemantauan berkelanjutan, yang umumnya harus diberikan oleh ahli diet berlisensi dalam serangkaian kunjungan.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pola makan nabati yang rendah lemak, dapat lebih efektif menurunkan berat badan, pengendalian gula darah, dan pengurangan faktor risiko kardiovaskular, terutama kolesterol darah. Diet seperti ini juga dapat lebih mudah bagi pasien untuk mengikutinya. Pola makan nabati yang rendah lemak, bekerja dalam beberapa cara. Pertama, karena diet tersebut rendah lemak, pola makan ini cenderung rendah kalori. Dan karena pola makan ini tinggi serat, maka mengenyangkan. Hasilnya adalah asupan kalori yang rendah dan penurunan berat badan yang mudah, sebuah efek penting mengingat bahwa lemak tubuh yang meningkat berhubungan dengan diabetes. Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa diet vegan yang rendah lemak menyebabkan penurunan berat badan lebih besar dan mengendalikan glukosa darah, dibandingkan dengan diet yang mengikuti pedoman American Diabetes Association.

123rf.com

Jenis karbohidrat dapat mempengaruhi pengendalian gula darah: Tinjauan terhadap lima penelitian pada individu dengan diabetes tipe 1 atau tipe 2 menunjukkan bahwa diet dengan gula sederhana lebih sedikit meningkatkan kontrol glukosa. Selain itu, diet kaya serat cenderung menghasilkan tingkat gula darah yang lebih rendah setelah makan, dibandingkan dengan diet miskin-serat, dan diet tinggi serat telah terbukti memperbaiki pengendalian gula darah pada individu dengan diabetes tipe 2. Karena diet vegan hanya terdiri dari makanan yang berasal dari tumbuhan, diet ini biasanya tinggi serat, dibandingkan dengan diet non-vegan, asalkan diet vegan tersebut tidak sangat bergantung pada makanan olahan.

Indeks glikemik adalah panduan peringkat mengenai pengaruh berbagai makanan pada glukosa darah. Makanan tinggi indeks glisemik cenderung meningkatkan gula darah dengan cepat. Ini termasuk gula, roti gandum, kentang panggang, dan sebagian besar sereal dingin. Makanan rendah indeks glisemik cenderung memiliki lebih sedikit efek pada gula darah. Ini termasuk kacang-kacangan, ubi jalar, oatmeal, sereal kulit padi, dan sebagian besar sayuran dan buah-buahan. Memilih makanan rendah indeks glisemik dapat membantu pengendalian glukosa darah dan juga dapat mengurangi trigliserida (lemak darah).

Kelebihan simpanan zat besi dapat meningkatkan risiko terkena diabetes: Bukti terbatas menunjukkan bahwa simpanan tinggi zat besi tubuh berhubungan dengan diabetes, dan menurunkan kelebihan zat besi (dengan perubahan pola makan atau donor darah) dapat menurunkan risiko. Sebuah penelitian yang membandingkan 30 vegetarian dan 30 pemakan daging, yang semuanya sehat dan memiliki berat badan normal, menunjukkan bahwa para vegetarian memiliki simpanan zat besi tubuh yang memadai, tetapi lebih rendah, dibandingkan dengan pemakan daging. Para vegetarian juga menunjukkan risiko lebih kecil untuk diabetes dibandingkan dengan pemakan daging.

Perubahan pola makan yang sama sangat membantu untuk pasien dengan diabetes tipe 1. Diet tinggi serat menghasilkan kebutuhan insulin yang lebih rendah dan perbaikan pengelolaan gula darah dan kolesterol.

Diabetes Gestasional

Studi lebih lanjut diperlukan untuk menetapkan intervensi diet yang optimal pada diabetes gestasional. Beberapa bukti menunjukkan bahwa diet dengan pembatasan karbohidrat ke 40 persen kalori, dengan lemak menyediakan 40 persen dan protein memberikan sisanya yang 20 persen, meningkatkan kontrol gula darah dan mengurangi kebutuhan suntikan insulin. Penelitian selanjutnya diperlukan untuk membandingkan diet pengurangan karbohidrat dengan diet rendah lemak, tinggi serat, terutama pola makan vegan.

123rf.com

Diet vegan dapat menimbulkan manfaat klinis karena tidak ada lemak hewan, dan peningkatan kuantitas makanan lebih sedikit mengakibatkan peningkatan substansial dalam asupan lemak jenuh. Sementara diet vegetarian atau vegan mungkin terdengar ketat pada pandangan pertama, penerimaan mereka dalam studi klinis mirip dengan jenis diet lain. Karena diet vegan tidak membatasi porsi, kalori, atau karbohidrat, diet ini lebih simpel untuk diikuti dibandingkan dengan rejimen yang membatasi jumlah makanan tertentu.

Suplemen Diet dalam Diabetes Tipe 2

Beberapa suplemen telah diteliti untuk peran mereka dalam manajemen diabetes, terutama kromium dan tumbuhan tertentu:

Kromium: Kromium diyakini dapat meningkatkan respon tubuh terhadap insulin. Namun, penelitian pada individu dengan diabetes tipe 1, tipe 2, atau diabetes gestasional, termasuk percobaan menggunakan dosis harian setinggi 1.000 mcg, hasilnya berbeda-beda. Dengan demikian, otoritas diabetes tidak merekomendasikan suplemen kromium.

Menurut Badan Pangan dan Gizi Institut Obat, asupan kromium harian yang aman dan cukup untuk orang dewasa berusia 19-50 tahun adalah 35 mcg untuk pria dan 25 mcg untuk wanita. Bagi orang-orang lebih dari 50 tahun, jumlahnya 30 mcg untuk pria dan 20 mcg untuk wanita. Sebagian besar multivtamin umum memasukkan kromium, biasanya dalam jumlah antara 100 sampai 200 mcg.

Botanikal: Peran tumbuhan tertentu untuk pasien dengan diabetes tipe 2 juga sedang diselidiki. Metformin, obat diabetes umum, dikembangkan dari Galega officinalis (bunga lilac Prancus). Ginseng telah ditemukan dalam penelitian kecil menurunkan kadar gula darah setelah makan besar. Pare (Momordica charantia), tanaman dengan efek seperti insulin, juga menunjukkan efek menurunkan gula darah pada manusia.

Terlepas dari keuntungan awal, masalah tetap ada dengan penggunaan tumbuhan pada diabetes. Pertama, uji klinis ginseng dan pare hanya menggunakan sedikit orang, menghasilkan hasil yang tidak meyakinkan. Masalah lain adalah kurangnya standarisasi bahan aktif.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan kunjungi link Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) berikut ini :

http://www.nutritionmd.org/consumers/diabetes_thyroid/diabetes.html (untuk masyarakat umum)

http://www.nutritionmd.org/health_care_providers/endocrinology/diabetes.html (untuk tenaga medis dan paramedis)

Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) adalah organisasi nirlaba yang berbasis di Washington, DC., AS dan beranggotakan lebih dari 6.000 dokter yang tertarik dalam peran nutrisi pada kesehatan. Hubungi PCRM pada alamat berikut : Physicians Committee for Responsible Medicine, 5100 Wisconsin Ave., N.W., Ste.400, Washington DC, 20016, Phone: 202-686-2210     Email: pcrm@pcrm.org

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: