You are currently browsing the tag archive for the ‘Gejala kanker usus besar’ tag.

123rf.com

Kanker usus besar atau kanker kolon adalah kanker paling umum ketiga di seluruh dunia dan penyebab paling umum kedua kematian karena kanker. Kanker ini menyumbang 10 persen dari semua kematian akibat kanker di Amerika Serikat.

Kanker usus besar adalah penyakit umum dan berpotensi mematikan, dengan kanker stadium lanjut biasanya menyebar ke daerah sekitarnya dan seluruh tubuh, termasuk hati, paru-paru, dan kelenjar getah bening. Namun, kanker usus besar cenderung tumbuh perlahan dan umumnya dapat diobati selama bertahun-tahun sebelum menjadi lebih ganas. Dengan demikian, skrining rutin (lihat bagian Diagnosis) dan pengobatan awal prakanker dan kanker stadium dini dapat secara drastis mengurangi tingkat penyakit yang-mengancam-jiwa. Bahkan, skrining rutin untuk kanker usus besar adalah salah satu rekomendasi kesehatan yang paling penting-dan menyelamatkan jiwa-masyarakat di Amerika Serikat.

Gejala

  • Gejala umum adalah penurunan berat badan, kelemahan, kelelahan, sakit perut, perubahan kebiasaan buang air besar, dan penurunan kualitas feses.
  • Kanker usus besar sisi kanan juga dapat menyebabkan melena (tinja hitam) atau adanya massa di sisi-kanan perut.
  • Kanker usus besar sisi kiri dapat mengakibatkan sembelit, diare, dan hematochezia (perdarahan dari rektum). Pasien-pasien ini juga berisiko jauh lebih tinggi mengalami obstruksi (sumbatan) pada usus, dengan gejala yang termasuk mual, muntah, tidak adanya pergerakan usus dan flatus (refleks pembuangan gas dari anus), dan distensi abdomen (pembesaran perut).

Faktor Risiko

  • Usia: Sekitar 90 persen kasus terjadi pada orang di atas usia 50 tahun, dan kasus meningkat dengan pertambahan usia.
  • Riwayat keluarga: Sekitar 25 persen pasien memiliki riwayat keluarga positif kanker. Ada peningkatan risiko jika satu atau lebih saudara-saudara tingkat pertama (orang tua, saudara kandung, cucu) memiliki kanker usus besar.
  • Penggunaan tembakau
  • Penggunaan alkohol berlebihan
  • Adanya penyakit lain pada usus besar: Kolitis ulseratif dan penyakit Crohn meningkatkan risiko kanker usus besar. Tampak ada risiko yang lebih tinggi bila menderita kolitis ulseratif (sebanyak lima hingga 15 kali lipat peningkatan risiko) dibandingkan dengan penyakit Crohn.
  • Kelebihan berat badan: Orang dengan obesitas yang ringan atau sedang tampak memiliki risiko 10 sampai 35 persen lebih besar. Orang yang sangat gemuk (indeks massa tubuh lebih besar dari 40) memiliki risiko 45 persen lebih besar.
  • Berbeda dengan faktor-faktor risiko, pola diet tertentu dan peningkatan aktivitas fisik berhubungan dengan penurunan risiko kanker usus besar. Lihat Pola Makan Kanker Usus Besar di bawah ini.

Diagnosa

  • Riwayat medis dan pemeriksaan fisik harus meliputi pemeriksaan rektal dan evaluasi atas perdarahan rektal yang tak terlihat.
  • Kolonoskopi untuk memvisualisasikan polip atau tumor adalah tes yang paling penting untuk mendiagnosa kanker usus besar. Kolonoskopi memungkinkan biopsi lesi dan juga menghilangkan pertumbuhan. Kolonoskopi  adalah tes skrining terbaik untuk mengidentifikasi pra-kanker dan kanker awal pada usus besar. Skrining ini disarankan sekali setiap 10 tahun pada semua individu di atas usia 50 tahun, dan sebelumnya pada individu dengan risiko tinggi untuk penyakit ini. “Kolonoskopi virtual” menggunakan CT scan atau MRI sedang diselidiki, namun belum terbukti dapat diandalkan.
  • Ketika kanker usus besar didiagnosis, pasien biasanya membutuhkan pengujian lebih lanjut untuk menentukan apakah kanker telah menyebar keluar kolon. Tes ini meliputi tes darah dan CT scan dari dada, perut, dan panggul.
  • Tes darah juga sering digunakan untuk mengidentifikasi berbagai tanda tumor, yang membantu untuk menentukan prognosis dan mengevaluasi kekambuhan penyakit.

Pengobatan

  • Pembedahan untuk mengangkat kanker adalah pengobatan definitif.
  • Kanker stadium lanjut memerlukan kemoterapi kanker selain operasi pengangkatan tumor. Dalam beberapa kasus, terutama kanker rektal (pada dubur), radiasi juga digunakan.
  • Jika kanker telah menyebar ke area lain dari tubuh, perawatan lebih lanjut akan diperlukan. Ini mungkin termasuk operasi, kemoterapi, atau modalitas lain. Selain itu, obat baru yang disebut Avastin baru-baru ini telah disetujui oleh Food and Drug Administration sebagai pengobatan lini pertama untuk penyakit metastasis.

Pola Makan Kanker Usus Besar

Dalam studi populasi, faktor-faktor berikut ini terkait dengan penurunan risiko kanker usus besar:

shutterstock.com

Menghindari konsumsi daging: Asupan tinggi daging merah olahan tampak meningkatkan risiko kanker usus besar. Hal ini dapat terjadi karena adanya nitrosamin dan hidrokarbon aromatik polisiklik, yang diduga bersifat karsinogen.

Dalam studi Investigasi Prospektif Eropa terhadap Kanker dan Gizi (EPIC), individu yang mengonsumsi sedikitnya 160 gram per hari daging merah atau olahan memiliki risiko 70 persen lebih besar terkena kanker kolorektal. Dalam Stud Pencegahan Kanker II (CPS II), individu yang mengkonsumsi jumlah tertinggi dari daging merah dan daging olahan beresiko 50 persen lebih besar terkena kanker usus besar dan 70 persen peningkatan risiko kanker rektal/dubur.

Meskipun daging putih dapat membawa resiko yang lebih rendah daripada daging merah, suatu riset terhadap pria Advent Hari Ketujuh menemukan bahwa makan daging putih lebih dari sekali per minggu berkaitan dengan risiko lebih dari tiga kali lipat dibandingkan dengan orang yang tidak makan daging putih.

Selanjutnya, kolesterol tinggi yang terkandung dalam produk hewani dapat meningkatkan resiko kanker usus besar. Sebaliknya, pola makan berbasis tumbuhan dan vegetarian berhubungan dengan kasus kanker usus besar yang lebih rendah, tampaknya karena tidak adanya daging dan adanya faktor pelindung dari nabati.

Menghindari penggunaan alkohol: Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi alkohol (setidaknya satu gelas per hari) secara independen terkait dengan risiko kanker usus besar.

123rf.com

Vitamin B dapat mengurangi resiko kanker usus besar: Asam folat, yang ditemukan dalam sayuran berdaun hijau, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh (misalkan beras merah), memainkan peran penting dalam pemeliharaan DNA, bahan genetik dalam sel kita. Beberapa bukti menunjukkan bahwa orang yang makan folat paling banyak memiliki risiko 40 persen lebih rendah terkena kanker usus besar.

Demikian pula, vitamin B6 yang terlibat dalam proses DNA dan fungsi-fungsi tubuh yang penting. Penelitian telah menunjukkan bahwa orang yang mengkonsumsi jumlah tertinggi vitamin B6 dapat mengalami penurunan risiko untuk kanker usus besar. Sumber sehat vitamin B6 adalah kacang-kacangan, biji-bijian utuh (misalkan beras merah), dan roti dan sereal yang difortifikasi.

123rf.com

Vitamin E dapat mengurangi risiko kanker usus besar: Bukti telah menunjukkan bahwa makan seperempat dari satu ons kacang per hari-sumber yang sangat baik dari vitamin E-dapat melindungi diri dari kanker usus besar, terutama pada wanita. Risiko yang lebih rendah disebabkan sumber vitamin E yang berasal dari makanan, bukan dari suplemen vitamin. Asupan makanan yang lebih tinggi vitamin E, seperti kacang-kacangan, biji-bijian, dan wheat germ, tampak mengurangi resiko secara signifikan pada orang di bawah 65 tahun.

Kalsium dan vitamin D dapat mengurangi resiko kanker usus besar: Asupan yang lebih tinggi untuk kalsium maupun vitamin D keduanya berhubungan dengan resiko lebih rendah terkena kanker kolorektal dan dapat menurunkan risiko kekambuhan. Sebuah resiko yang lebih rendah terkena kanker usus besar ditemukan pada orang yang mengkonsumsi 700 mg kalsium per hari, dibandingkan dengan mereka yang memiliki asupan yang lebih rendah, namun asupan yang lebih tinggi tidak menambah manfaat.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan kunjungi link Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) berikut ini :

http://www.nutritionmd.org/consumers/oncology/colon_cancer.html

Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) adalah organisasi nirlaba yang berbasis di Washington, DC., AS dan beranggotakan lebih dari 6.000 dokter yang tertarik dalam peran nutrisi pada kesehatan. Hubungi PCRM pada alamat berikut : Physicians Committee for Responsible Medicine, 5100 Wisconsin Ave., N.W., Ste.400, Washington DC, 20016, Phone: 202-686-2210     Email: pcrm@pcrm.org

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: