You are currently browsing the tag archive for the ‘Terapi batu empedu’ tag.

123rf.com

Batu empedu adalah batu kecil dan keras yang terbentuk di kandung empedu. Batu empedu mengenai 20 persen wanita dan 8 persen pria di seluruh dunia. Dokter menggunakan istilah “kolelitiasis” untuk merujuk pada kondisi adanya batu empedu.

Sebagian besar batu tersusun dari kolesterol dan berkaitan dengan pola makan tinggi lemak, tinggi kolesterol, dan rendah serat.

Gejala

Gejala yang paling umum adalah nyeri pada perut kanan atas. Rasa sakit, yang umumnya terjadi setelah makan makanan besar, bisa menyebar ke bahu belakang atau kanan. Selain itu, mual, muntah, dan bersendawa umum terjadi. Gejala yang lebih parah, termasuk demam atau jaundice (perubahan warna kuning pada kulit), dapat menandakan adanya infeksi pada kandung empedu, yang merupakan keadaan darurat medis.

Faktor Risiko

  • Pertambahan usia: Batu empedu paling umum terjadi pada orang di atas usia 40 tahun.
  • Jenis kelamin perempuan: Perempuan lebih mungkin terkena batu empedu, kemungkinan karena efek dari estrogen. Peningkatan risiko ini terutama mencolok pada wanita muda, yang terkena tiga sampai empat kali lebih sering dibandingkan pria pada usia yang sama.
  • Riwayat keluarga: Batu empedu lebih dari dua kali lipat umum ditemui pada pasien yang dengan sanak famili tingkat pertama (orang tua, anak, cucu) yang juga menderita batu empedu.
  • Meningkatnya estrogen dan progesteron: Kehamilan, kontrasepsi oral, dan terapi “pengganti” hormon berhubungan dengan peningkatan kadar estrogen dan progesteron, yang meningkatkan risiko batu empedu.
  • Obesitas
  • Penurunan berat badan yang cepat: Operasi bariatrik dan diet sangat-rendah kalori meningkatkan risiko pembentukan batu empedu.
  • Pola makan tinggi lemak: Lihat Pola Makan untuk Batu Empedu di bawah ini.
  • Memiliki penyakit medis lain: Sirosis meningkatkan risiko batu empedu sebanyak 10 kali. Penyakit lain yang meningkatkan risiko termasuk diabetes mellitus, penyakit Crohn, anemia sel sabit, dan cedera tulang belakang.
  • Obat-obatan, termasuk clofibrate dan ceftriaxone

Diagnosa

  • Riwayat medis dan pemeriksaan fisik adalah langkah pertama.
  • Tes darah biasanya dilakukan.
  • USG abdomen langsung akan menunjukkan batu empedu, jika ada.
  • Endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP) atau magnetic resonance cholangiopancreatography (MRCP) dapat digunakan untuk memeriksa batu empedu yang mungkin berpindah dari kantong empedu ke dalam saluran empedu. ERCP juga dapat mengekstrak batu ketika batu ditemukan, menghindari kebutuhan untuk operasi.

Terapi

  • Batu empedu tanpa gejala biasanya tidak perlu diobati.
  • Penting untuk menghindari makanan berlemak dan makanan pemicu lain (lihat Pola Makan untuk Batu Empedu).
  • Bila timbul gejala, pembedahan untuk mengangkat kandung empedu adalah terapi pilihan.
  • Pasien yang tidak menjalani pembedahan memiliki dua pilihan: Lithotripsy dapat digunakan untuk menghancurkan batu, dan obat-obat dapat digunakan untuk melarutkan batu-batu kecil dan fragmen batu. Namun, terapi ini tidak seefektif operasi.

Pola Makan untuk Batu Empedu

Para peneliti telah mencari hubungan antara kebiasaan makan dan risiko batu empedu. Faktor gizi berikut ini berhubungan dengan penurunan risiko batu empedu dalam studi populasi:

123rf.com

Pola makan nabati: Batu empedu sebagian besar dapat dihindari dengan mengikuti pola makan tinggi serat, khususnya pola makan vegetarian. Batu tidak umum pada populasi Asia dan Afrika yang mengikuti pola makan tradisional, yang sebagian besar berbasis nabati. Sebaliknya, batu empedu umum dijumpai pada individu-individu yang mengikuti pola makan Barat yang tinggi lemak dan rendah serat.

shutterstock.com

Baik itu lemak hewani maupun protein hewani dapat menyebabkan pembentukan batu empedu. Karena batu empedu sebagian besar terdiri dari kolesterol, mengurangi kolesterol makanan dan lemak jenuh (yang menyebabkan tubuh memproduksi kolesterol “jahat” LDL) dapat mencegah pembentukan batu empedu. Makanan nabati tidak memiliki kolesterol, dan sebagian besar memiliki lemak jenuh sangat sedikit.

Tidak mengherankan, penelitian telah menunjukkan bahwa perempuan vegetarian ditemukan memiliki risiko yang paling rendah untuk terkena batu empedu, dibandingkan dengan wanita nonvegetarian. Dan wanita nonvegetarian yang paling banyak makan sayuran memiliki risiko 20 sampai 30 persen lebih rendah.

Menghindari asam lemak trans: Konsumen harus waspada terhadap makanan kemasan dan gorengan yang mengandung minyak terhidrogenasi parsial.

Mengganti gula dan zat pati olahan dengan karbohidrat tinggi-serat: Orang yang mengkonsumsi karbohidrat olahan, misalkan pasta, roti putih, memiliki risiko 60 persen lebih besar untuk mengembangkan batu empedu. Sebaliknya, orang yang makan banyak serat (khususnya serat tak larut) memiliki risiko 15 persen lebih rendah untuk batu empedu.

123rf.com

Berat badan yang sehat dan gaya hidup aktif: Pria dan wanita dengan berat badan berlebih memiliki risiko penyakit batu empedu minimal dua kali lipat, dibandingkan dengan orang dengan berat badan normal.

Berat badan yang naik turun juga meningkatkan kemungkinan batu empedu. Dalam sebuah penelitian, risiko meningkat dari 20 persen pada mereka yang berat badannya naik turun “ringan” (mereka yang kehilangan berat badan dan naik kembali berat badannya antara 2,27 sampai 4 kg) sampai 70 persen pada mereka yang berat badannya naik turun “parah” (mereka yang kehilangan berat badan dan naik kembali berat badannya sampai 9 kg).

Beberapa bukti menunjukkan bahwa aktivitas fisik dapat mengurangi resiko batu empedu. Pada pria muda atau setengah baya (65 tahun atau lebih muda), mereka yang paling aktif secara fisik memiliki risiko separuh untuk mengembangkan batu empedu, dibandingkan dengan mereka yang kurang aktif. Penelitian Tindak Lanjutan Profesional Kesehatan di Harvard School of Public Health menyebutkan bahwa sepertiga dari kasus batu empedu dapat dicegah dengan 30 menit latihan aerobik setiap hari.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan kunjungi link Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) berikut ini :

http://www.nutritionmd.org/consumers/gastrointestinal/gallstones.html

Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) adalah organisasi nirlaba yang berbasis di Washington, DC., AS dan beranggotakan lebih dari 6.000 dokter yang tertarik dalam peran nutrisi pada kesehatan. Hubungi PCRM pada alamat berikut : Physicians Committee for Responsible Medicine, 5100 Wisconsin Ave., N.W., Ste.400, Washington DC, 20016, Phone: 202-686-2210     Email: pcrm@pcrm.org

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: