kelapa-sawitScienceDaily (1 Des 2008) – Mempertahankan hutan hujan tropis seperti keadaan aslinya adalah cara yang lebih baik dalam melawan perubahan iklim daripada mengkonversinya menjadi perkebunan biofuel, demikian hasil penelitian yang dimuat dalam Jurnal Konservasi Biologi.

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa perlu waktu paling sedikit 75 tahun untuk mengkompensasikan hilangnya karbon dari alih-fungsi hutan. Dan bila habitat aslinya adalah tanah gambut yang kaya karbon, maka waktu yang diperlukan untuk mengembalikan keseimbangan karbon lebih dari 600 tahun.

Penelitian ini merupakan analisa yang paling komprehensif mengenai dampak perkebunan minyak kelapa sawit di hutan tropis pada iklim dan biodiversitas. Penelitian ini dilakukan oleh sekelompok tim peneliti internasional yang terdiri dari ahli botani, ahli lingkungan, dan ahli teknik dari tujuh negara.

“Analisa kami menemukan bahwa akan diperlukan waktu selama 75 hingga 93 tahun untuk mulai merasakan pengaruh baik terhadap iklim dari perkebunan biofuel pada lahan hutan yang dialihfungsikan,” ucap kepala peneliti Finn Danielsen dari Dinas Nordik Pengembangan dan Ekologi Denmark (NORDECO). “Sebelum itu, kita akan melepaskan karbon ke dalam atmosfer dengan menebang hutan hujan tropis, selain hilangnya tanaman dan spesies satwa yang bernilai. Hal ini bahkan akan menjadi lebih buruk lagi di tanah gambut, di mana tempat itu mengandung begitu banyak karbon, sehingga kita baru mulai merasakan manfaatnya setelah 600 tahun kemudian.”

Biofuel telah menjadi sesuatu yang memikat sebagai alternatif yang ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil, salah satu penyumbang utama pemanasan global. Satu perkebunan minyak kelapa sawit, atau biofuel, menutupi berjuta-juta akre lahan di Asia Tenggara, di mana perkebunan semacam ini telah secara langsung atau tidak mengalihfungsikan hutan hujan tropis, dan berakibat pada hilangnya habitat bagi spesies seperti badak dan orang utan serta lenyapnya karbon yang disimpan di dalam pohon-pohon dan tanah-tanah gambut.

“Biofuel merupakan pilihan yang buruk bagi hutan, satwa, dan iklim bila mereka mengalihfungsikan hutan hujan,” ujar wakil peneliti Dr. Neil Burgess dari World Wildlife Fund. “Pada kenyataannya, biofuel mempercepat perubahan iklim dengan menghilangkan salah satu alat penyimpan karbon yang paling efektif di dunia – hutan hujan tropis.”

Para peneliti menyerukan pengembangan standar global bersama dalam produksi biofuel yang berkelanjutan.

“Subsidi untuk membeli biofuel tropis diberikan oleh negara-negara di Eropa dan Amerika Utara yang seharusnya mengurangi emisi gas rumah kaca mereka dari transportasi,” kata Danielsen. “Sementara negara-negara ini berjuang untuk memenuhi kewajiban mereka terhadap satu perjanjian internasional, Protokol Kyoto, negara-negara itu mendorong yang lainnya untuk meningkatkan emisi mereka sekaligus melanggar kewajiban mereka sendiri terhadap perjanjian lainnya, yaitu Konvensi Keberagaman Biologis.”

“Perbandingan antara flora hutan hujan dengan flora pada perkebunan minyak kelapa sawit menunjukkan dampak yang merusak konversi hutan dalam biodiversitas. Kelompok tanaman besar yang tumbuh subur di hutan hujan alami, seperti pohon-pohon, tumbuhan merambat liana, anggrek, dan kelapa sawit asli, tidak ada. Tanaman-tanaman yang menjamur di dalam perkebunan kebanyakan adalah spesies pakis yang menyukai matahari. Tanaman hutan memerlukan keteduhan dan habitat yang tidak diganggu untuk bertahan hidup,” ungkap ahli botani Hendrien Beukema dari Universitas Groningen di Belanda.

Sementara untuk faunanya, hanya satu dari enam spesies hutan yang dapat bertahan hidup dalam perkebunan, temuan penelitian itu. Sebagian besar dari ini adalah spesies biasa dan tersebar luas.

“Melestarikan hutan yang ada tidak hanya baik bagi iklim karena emisi gas rumah kaca dapat dikurangi, tetapi juga memberikan keuntungan tambahan, seperti perlindungan keanekaragaman hayati,” imbuh Dr. Daniel Murdiyarso dari Pusat Kehutanan Internasional yang berbasis di Indonesia (CIFOR). “Hutan tropis mengandung lebih dari separuh spesies darat Bumi dan hutan Asia Tenggara paling kaya spesiesnya. Hutan tropis juga menyimpan sekitar 46 persen karbon tanah dunia dan 25 persen total net emisi karbon dunia dapat berasal dari pembabatan hutan.”

Ini merupakan kontradiksi yang besar untuk membabat habis hutan hujan tropis untuk menanam palawija untuk bahan bakar yang dianggap ‘ramah lingkungan’,” lanjut Faizal Farish dari Pusat Lingkungan Global, Malaysia. “Hal ini bukan cuma menjadi masalah di Asia Tenggara – hutan di Amerika Latin juga dibabat untuk produksi kacang kedelai yang bahkan kurang efisien dalam produksi biofuel bila dibandingkan dengan minyak kelapa sawit. Mengurangi pembabatan hutan merupakan cara yang jauh lebih efektif bagi negara-negara untuk mengurangi perubahan iklim sekaligus juga memenuhi kewajiban mereka untuk melindungi biodiversitas.”

“Perkebunan biofuel apapun dalam wilayah hutan tropis harus dipertimbangkan hanya di lahan bekas hutan yang telah mengalami degradasi parah yang hanya dapat mendukung vegetasi rerumputan,” tambah Fariz. “Kepedulian sangat dibutuhkan untuk mencegah perkebunan semacam ini menstimulasi degradasi hutan lebih lanjut di area-area yang berdekatan dengannya.”

Sumber: ScienceDaily

go-veg-be-green-save-the-planet