Peternakan dan Perubahan Iklim

Oleh Robert Goodland dan Jeff Anhang

–  Ilmuwan Lingkungan Bank Dunia

Setiap kali mendiskusikan penyebab perubahan iklim, bahan bakar fosil menempati urutan teratas. Minyak bumi, gas alam, dan terutama batu bara memang sumber utama emisi karbon dioksida (CO2) dan gas-gas rumah kaca lainnya (GRK). Tetapi kami yakin bahwa siklus kehidupan dan mata rantai pasokan hewan yang dipelihara sebagai makanan telah sangat disepelekan sebagai sumber GRK, padahal kenyataannya industri peternakan bertanggung jawab terhadap setidaknya setengah dari seluruh GRK yang disebabkan oleh manusia. Jika argumen ini benar, berarti penggantian produk peternakan dengan makanan alternatif yang lebih baik akan menjadi strategi terbaik dalam membalik perubahan iklim. Kenyataannya, pendekatan ini memiliki pengaruh yang lebih cepat untuk mengurangi emisi GRK dan tingkat konsentrasinya di atmosfer  – sehingga mengurangi laju memanasnya iklim – dibandingkan dengan tindakan-tindakan untuk menggantikan bahan bakar fosil dengan energi yang dapat diperbaharui.

Hewan ternak telah dikenal sebagai penyumbang emisi GRK. “Bayangan Panjang Peternakan (Livestock’s Long Shadow)”, laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) tahun 2006 yang telah dikutip secara luas, memperkirakan emisi sebesar 7.516 juta metrik ton ekuivalen CO2 (CO2e) per tahun, atau 18 persen emisi GRK dunia setiap tahun, dihasilkan oleh hewan ternak sapi, kerbau, domba, kambing, unta, kuda, babi, dan unggas. Dengan jumlah sebesar itu, peternakan sangat jelas memenuhi syarat untuk mendapat perhatian besar dalam mencari cara-cara untuk menangani perubahan iklim. Tetapi analisa kami memperlihatkan bahwa peternakan dan hasil sampingnya sebenarnya bertanggung jawab atas setidaknya 32.564 juta metrik ton CO2e per tahun, atau 51 persen dari seluruh emisi GRK dunia setiap tahun.

Ini adalah pernyataan tegas yang memerlukan bukti kuat, maka kami meninjau kembali secara menyeluruh sumber-sumber emisi GRK dari peternakan baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagian dari hal ini sudah jelas tetapi ditaksir lebih rendah, sebagian terlewatkan, dan sebagian adalah sumber emisi yang telah dihitung tetapi ditempatkan pada sektor yang salah. Data peternakan sangat beragam dari lokasi ke lokasi dan dipengaruhi oleh ketidak-akuratan yang tak bisa dihindari; dan tidaklah mungkin untuk menghindari ketidak-akuratan dalam memperkirakan jumlah GRK, sehingga kami berusaha keras mengurangi jumlah itu agar perkiraan kami secara keseluruhan dapat diterima sebagai konservatif.

Gambaran Besar

Tabel di sebelah kanan adalah ringkasan dari kategori-kategori emisi peternakan dan perkiraan kami terhadap angkanya. Kami memulai dengan angka dari FAO 7.516 juta ton CO2e per tahun yang disebabkan oleh peternakan, sebuah angka yang didapat dengan menambahkan keseluruhan GRK terkait dalam pembukaan lahan untuk menggembala dan menanam pakan ternak, memelihara hewan ternak, pengolahan dan pengiriman produk jadi. Perhitungan kami menunjukkan 25.048 juta ton CO2e yang disebabkan peternakan telah dihitung lebih rendah dari kenyataan atau dilewatkan; dari subtotal itu, 3.000 juta ton ditempatkan secara salah, dan 22.048 juta ton semuanya tidak dihitung. Ketika jumlah ton yang tidak dihitung ditambahkan ke dalam persediaan GRK global di atmosfer, persediaan itu meningkat dari 41.755 juta ton menjadi 63.803 juta ton. Laporan FAO sebesar 7.516 juta ton CO2e yang disebabkan peternakan kemudian menurun dari 18 persen GRK dunia menjadi 11,8 persen. Marilah melihat masing-masing kategori GRK yang tidak dihitung atau salah penempatan:

Pernafasan. FAO meniadakan pernafasan hewan ternak dari perkiraannya, dengan penjelasan berikut:

Pernafasan dari hewan ternak bukanlah sumber CO2 bersih… Emisi dari pernafasan hewan ternak adalah bagian dari sistem biologi yang cepat berubah, dimana tanaman yang dikonsumsi terbuat dari proses pengubahan CO2 di atmosfer menjadi senyawa organik. Karena jumlah yang dikeluarkan dan diserap dianggap sama, pernafasan hewan ternak tidak dianggap sebagai sumber emisi yang bersih oleh Protokol Kyoto. Sesungguhnya, karena sebagian karbon yang dikonsumsi disimpan dalam jaringan hidup hewan yang bertumbuh itu, pertumbuhan kawanan ternak global bahkan bisa dianggap sebagai penyimpan karbon. Tingkat persediaan biomasa peternakan meningkat secara signifikan pada dekade terakhir… Pertumbuhan yang terus-menerus ini… dapat dianggap sebagai proses penyimpanan karbon (perkiraan kasar 1 atau 2 juta ton karbon per tahun).

Tetapi ini adalah cara yang keliru dalam melihat perkara ini. Kita periksa kenyataan penyimpanan karbon terlebih dulu: Penyimpanan karbon yang baik mengacu pada penyaringan CO2 dari atmosfer dan menimbunnya di dalam tempat penyimpanan atau dalam senyawa yang stabil sehingga ia tidak bisa lepas dalam jangka waktu lama. Bahkan jika seseorang menganggap tubuh hewan ternak sebagai penyimpan karbon, dari perkiraan FAO sendiri jumlah karbon yang tersimpan dalam hewan ternak terlalu kecil dibandingkan dengan jumlah yang disimpan pada hutan yang dibabat untuk lahan menanam pakan ternak dan ladang merumput.

Lebih jauh lagi, industri peternakan (seperti mobil) adalah penemuan manusia demi kenyamanan, yang tidak ada pada zaman prasejarah manusia, dan molekul CO2 yang dihembuskan ternak sama tidak alaminya seperti CO2 yang dikeluarkan dari pipa knalpot mobil. Selain itu, meskipun dengan berjalannya waktu mungkin ada keseimbangan antara jumlah CO2 yang dihembuskan hewan dengan jumlah yang difotosintesiskan oleh tumbuhan, tapi keseimbangan tersebut tidak pernah statis. Saat ini ada puluhan miliar hewan ternak lebih banyak yang menghembuskan CO2 dibandingkan dengan zaman praindustri, sementara kapasitas fotosintesis Bumi (kemampuan untuk menghilangkan karbon di atmosfer dengan menyerapnya ke dalam tumbuhan) telah menurun tajam karena penebangan hutan. (Sementara itu, tentu saja, kita juga menambahkan karbon ke udara melalui pembakaran bahan bakar fosil, yang semakin memberatkan sistem penyerapan karbon.)

FAO menyatakan bahwa pernafasan hewan ternak tidak tercantum sebagai sumber GRK yang diakui dalam Protokol Kyoto, meskipun kenyataannya, Protokol tersebut mencantumkan CO2 tanpa pengecualian, dan “yang lainnya” dimasukkan dalam kategori rupa-rupa. Agar jelas, ini seharusnya juga dicantumkan secara terpisah dalam protokol apapun yang menggantikan Kyoto.

Memang menggoda untuk mengeluarkan satu atau sumber emisi antropogenik (yang dihasilkan oleh kegiatan manusia) lainnya dari perhitungan karbon – berdasarkan kepentingan pribadi seseorang – dengan alasan bahwa hal tersebut diimbangi oleh fotosintesis. Akan tetapi, jika mereka menganggap sah untuk menghitung mobil-mobil yang digerakkan oleh bahan bakar fosil sebagai sumber GRK, sementara ratusan juta orang tidak mengendarainya, maka sama sahnya untuk memperhitungkan pernafasan hewan ternak. Ratusan juta manusia hanya sedikit atau tidak mengonsumsi produk hewani, dan pernafasan ternak (tidak seperti pernafasan manusia) tidak dibutuhkan untuk kelangsungan hidup manusia. Dengan mengeluarkan GRK yang disebabkan oleh pernafasan ternak dari neraca GRK, dapat diperkirakan bahwa hal itu tidak dikelola dan jumlahnya akan meningkat – seperti yang terjadi dalam kenyataan.

Karbon dioksida dari pernafasan hewan bertanggung jawab atas 21% GRK antropogenik di seluruh dunia, menurut perkiraan ahli fisika Inggris Alan Calverd pada tahun 2005. Dia tidak memberikan jumlah CO2, tapi ternyata ada sekitar 8.769 juta ton. Calverd adalah satu-satunya pencetus awal perkiraan dalam bidang ini, tetapi karena hanya melibatkan satu variabel (total berat seluruh hewan ternak, karena semuanya kecuali ikan budidaya berdarah dingin, menghembuskan CO2 yang secara kasar berjumlah sama per kilogramnya), seluruh kalkulasi CO2 dari pernafasan untuk berat tertentu pada hewan ternak akan berkisar sama.

Perkiraan Calverd tidak memperhitungkan fakta bahwa CO2 dari pernafasan hewan ternak dikesampingkan dari persediaan GRK global. Juga tidak memperhitungkan GRK baru yang diakibatkan oleh peternakan dalam analisis kami. Setelah menambahkan semua GRK yang relevan bagi persediaan GRK global, persentase GRK yang diakibatkan pernafasan peternakan turun dari 21 persen menjadi 13,7 persen.

Lahan. Sejalan dengan berkurangnya luas padang rumput secara global, otomatis cara satu-satunya untuk memproduksi lebih banyak hewan ternak dan pakannya adalah dengan membabat hutan alami. Pertumbuhan pasar produk-produk hewan ternak paling banyak terjadi di negara-negara berkembang dengan hutan hujan normalnya dapat menyimpan setidaknya 200 ton karbon per hektar. Ketika hutan berubah menjadi padang rumput, muatan karbon yang dapat disimpan per hektarnya berkurang menjadi 8 ton saja.

Secara rata-rata, setiap hektar padang rumput mendukung tak lebih dari seekor sapi, yang kandungan karbonnya berkisar satu ton saja. Bandingkan dengan hutan yang dapat menyerap lebih dari 200 ton karbon per hektar yang mungkin akan dilepaskan dalam waktu singkat setelah hutan dan tumbuhan lain dipotong, dibakar, atau dikunyah. Dari dalam tanah, per hektarnya ada 200 ton karbon lainnya yang mungkin dilepaskan, yang bakal ditambah lagi dengan GRK lainnya dari pernafasan dan kotoran hewan ternak. Jadi, hewan ternak dari jenis apapun merupakan “celengan” karbon kecil yang memicu pelepasan “celengan” karbon luar biasa besar yang tersimpan di dalam tanah dan hutan-hutan. Tetapi jika produksi hewan ternak dan pakan ternak berhenti maka hutan seringkali akan meremajakan dirinya kembali. Fokus utama dalam upaya-upaya untuk mengurangi GRK selama ini adalah pengurangan emisi, tetapi  hutan yang mempunyai kemampuan untuk mengurangi dampak GRK secara cepat dan murah telah lenyap lebih dahulu.

FAO menghitung emisi yang disebabkan peralihan penggunaan lahan terkait dengan adanya hewan ternak, tapi nilai GRK yang dihitung dari perubahan itu setiap tahunnya relatif kecil. Anehnya, mereka tidak menghitung jumlah yang jauh lebih besar dari pengurangan penyerapan GRK tahunan karena telah hilangnya proses fotosintesis, yang menempati 26 persen lahan di seluruh dunia untuk merumput hewan ternak dan 33 persen lahan subur di seluruh dunia untuk menanam pakan ternak, alih-alih menganggap lahan itu berkembang kembali menjadi hutan. Membiarkan lahan tropis dalam jumlah besar yang dipakai untuk merumput hewan ternak dan menanam pakan ternak, untuk kembali menjadi hutan bisa berpotensi untuk menyerap sampai setengah (bahkan lebih) dari seluruh GRK antropogenik. Penyebab utama hal ini tidak terjadi adalah karena upaya reboisasi tanah yang telah digunakan untuk memelihara ternak dan bercocok tanam pakan ternak belum menjadi prioritas; sebaliknya, produksi pakan ternak dan perluasan lahan untuk merumput malah terus berkembang pesat merambah hutan.

Atau misalkan tanah yang digunakan sebagai tempat merumput hewan ternak dan menanam pakannya, digunakan sebagai lahan pertanian yang hasilnya dapat dimakan langsung oleh manusia atau dijadikan biofuel (bahan bakar dari tanaman). Bahan bakar ini dapat menggantikan setengah dari batu bara yang digunakan di seluruh dunia, yang bertanggung jawab atas 3.340 juta ton emisi CO2e setiap tahunnya. Jumlah tersebut mewakili 8 persen persediaan GRK seluruh dunia di luar tambahan GRK yang dihitung dalam artikel ini, atau 5,6 persen GRK seluruh dunia jika GRK yang dihitung di artikel ini dimasukkan. Jika jumlah biomasa dari pakan ternak dipilih dan diproses dengan benar, maka biofuel dapat menghasilkan 80 persen lebih sedikit GRK per unit energi dibandingkan batu bara. Oleh karena itu, emisi ekstra yang dihasilkan karena penggunaan lahan untuk berternak dan menanam pakan ternak bisa diperkirakan menjadi 2.672 juta ton CO2e, atau 4,2 persen dari emisi GRK tahunan di seluruh dunia.

Mengingat dua skenario yang masuk akal ini, paling tidak 4,2 persen GRK dunia seharusnya dihitung sebagai emisi terkait lenyapnya pengurangan GRK karena penggunaan lahan untuk merumput hewan ternak dan menanam makanannya.

Metana. Menurut data FAO, 37 persen metana yang dihasilkan oleh manusia berasal dari hewan ternak. Meskipun efek pemanasan metana di atmosfer jauh lebih kuat daripada CO2, tetapi umur paruhnya di atmosfer hanya sekitar 8 tahun, dibandingkan CO2 yang setidaknya selama 100 tahun. Sebagai hasilnya, pengurangan pemeliharaan hewan ternak secara signifikan di seluruh dunia akan mengurangi GRK secara lebih cepat dibandingkan dengan menerapkan kebijakan dalam energi terbarukan dan efisiensi energi.

Kapasitas GRK dalam menyerap panas di atmosfer disebut sebagai potensi pemanasan global / global warming potential (GWP), dengan CO2 ditentukan mempunyai potensi pemanasan 1 (GWP-nya = 1). Hitungan GWP terbaru yang secara luas telah disepakati untuk metana adalah 25 dalam jangka waktu 100 tahun – tetapi angkanya menjadi 72 jika menggunakan jangka waktu 20 tahun. Hal ini lebih cocok karena dampak metana yang besar akan berkurang dalam jangka 20 tahun dan dampak buruk perubahan iklim diperkirakan akan terjadi dalam jangka 20 tahun ke depan jika tidak ada pengurangan GRK secara signifikan. Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim juga mendukung penggunaan jangka waktu 20 tahun untuk metana.

FAO memperkirakan peternakan menghasilkan sekitar 103 juta ton emisi metana di tahun 2004 dari proses fermentasi di dalam pencernaan hewan dan pengelolaan kotoran ternak, ini setara dengan 2.369 juta ton CO2e. Jumlah ini adalah 3,7 persen dari GRK dunia, nilai yang dipakai FAO dengan acuan GWP 23 yang sudah kadaluwarsa. Jika menggunakan GWP 72, maka metana dari peternakan bertanggung jawab terhadap 7.416 juta ton CO2e atau 11,6 persen GRK di seluruh dunia. Jadi dengan menggunakan jangka waktu 20 tahun dan bukannya 100 tahun maka kenaikan jumlah metana yang diakibatkan oleh produk-produk hewan ternak adalah sebesar 5.047 juta ton CO2e atau 7,9 persen. (Perhitungan lebih jauh diperlukan untuk menyesuaikan kembali emisi metana selain hasil emisi yang terkait dengan produk-produk hewan ternak dengan mengunakan jangka waktu 20 tahun.)

Sumber-sumber lainnya. Empat kategori tambahan dari GRK setidaknya berjumlah 5.560 ton CO2e (8,7 persen emisi GRK) yang telah diabaikan atau dihitung lebih kecil oleh FAO dan tidak dihitung dalam total GRK di seluruh dunia saat ini:

Pertama, Bayangan Panjang Peternakan mengutip data statistik FAO pada tahun 2002 sebagai sumber utama untuk perhitungan 18 persennya. Dari tahun 2002 sampai 2009, perkembangan produk hewan ternak di seluruh dunia telah naik 12 persen. Hal ini tentunya menghasilkan kenaikan emisi GRK secara proporsional. Melalui ekstrapolasi dari perkiraan FAO serta perkiraan kami, kami menghitung bahwa kenaikan dalam produk hewan ternak dari tahun 2002 sampai 2009 bertanggung jawab terhadap kira-kira 2.560 juta ton CO2e, atau 4,0 persen emisi GRK.

Kedua, FAO dan yang lainnya telah mencatat sering terjadinya perhitungan yang lebih kecil pada statistik resmi jumlah hewan ternak di pedesaan dan industri. Bayangan Panjang Peternakan tidak hanya menggunakan faktor yang belum dikoreksi dalam perhitungan itu, tetapi pada beberapa bagian ternyata menggunakan jumlah yang lebih rendah daripada yang ada dalam statistik FAO dan lainnya. Sebagai contoh, Bayangan Panjang Peternakan melaporkan bahwa ada 33,0 juta ton unggas yang dihasilkan di seluruh dunia pada tahun 2002, sementara Gambaran Makanan (Food Outlook) FAO pada bulan April 2003 melaporkan bahwa ada 72,9 juta ton unggas diproduksi di seluruh dunia pada tahun 2002. Laporan itu juga menyatakan bahwa ada 21,7 miliar hewan ternak yang dipelihara di seluruh dunia, sementara banyak organisasi non-pemerintah melaporkan bahwa ada sekitar 50 miliar hewan ternak dipelihara setiap tahunnya di awal tahun 2000-an. Jika jumlah yang benar mendekati 50 miliar dan bukannya 21,7 miliar, maka persentase GRK di seluruh dunia yang didasarkan atas statistik jumlah hewan ternak resmi yang dihitung lebih kecil itu kemungkinan besar berada di atas 10 persen.

Ketiga, FAO menggunakan kutipan tentang berbagai aspek GRK dari hewan ternak pada tahun-tahun sebelumnya seperti tahun 1964, 1982, 1993, 1999, dan 2001. Emisi-emisi saat ini pasti jauh lebih tinggi.

Keempat, FAO menyebutkan Minnesota sebagai sumber data yang kaya. Tetapi jika data ini disama-ratakan ke seluruh dunia maka mereka mengecilkan nilai-nilai yang sebenarnya, karena kegiatan peternakan di Minnesota lebih efisien daripada kegiatan peternakan di sebagian besar negara-negara berkembang yang sektor peternakannya tumbuh paling cepat.

Terakhir, kami percaya bahwa FAO telah mengabaikan beberapa emisi yang telah dihitung di sektor lain di luar peternakan. Emisi-emisi ini berjumlah sedikitnya 3.000 juta ton CO2e, atau 4,7 persen emisi GRK di seluruh dunia.

Pertama, FAO menyatakan bahwa “pembabatan hutan yang berhubungan dengan hewan ternak seperti yang dilaporkan, contohnya oleh Argentina tidak dimasukkan” dalam perhitungan GRKnya.

Kedua, FAO mengabaikan peternakan ikan dari definisi hewan ternaknya sehingga gagal untuk menghitung GRK dari siklus hidup dan rantai pasokan mereka. FAO juga mengabaikan emisi-emisi GRK dari konstruksi dan operasi industri-industri di lautan serta di daratan untuk menangani organisme laut yang diperuntukkan memberi makan hewan ternak (sampai separuh dari tangkapan organisme laut tahunan).

Terakhir, FAO tidak menghitung jumlah GRK yang jumlahnya lebih tinggi pada masing-masing tahapan untuk menghasilkan produk hewani dibandingkan produk nabati:

•   Fluorokarbon (Diperlukan untuk mendinginkan produk-produk hewani, jumlahnya jauh lebih banyak daripada produk nabati), yang memiliki potensi pemanasan global sampai beberapa ribu kali lebih tinggi daripada CO2.

•   Memasak, yang biasanya memerlukan suhu yang lebih tinggi dan waktu yang lebih lama untuk memasak daging daripada produk nabati, dan di negara berkembang mereka memakai banyak arang (dengan menebang pohon sehingga mengurangi penyerapan karbon) dan minyak tanah. Masing-masing menghasilkan jumlah GRK yang tinggi.

•   Pembuangan kotoran cair ternak yang tak terelakkan, juga limbah dari produk hewan ternak lainnya dalam bentuk tulang, lemak, dan produk-produk rusak, yang semuanya menghasilkan GRK dalam jumlah besar ketika dibuang di tempat pembuangan sampah, tempat pembakaran sampah, dan saluran air.

•   Produksi, distribusi, dan pembuangan produk-produk sampingan seperti kulit, bulu, dan kemasannya.

•   Produksi, distribusi, dan pembuangan kemasan yang digunakan untuk produk-produk hewani, yang untuk alasan kesehatan dibutuhkan lebih banyak daripada produk-produk nabati.

•   Perawatan medis yang intensif karbon karena jutaan kasus penyakit zoonosis (yang disebabkan oleh hewan) di seluruh dunia (seperti flu burung) dan penyakit degenerasi kronis (seperti penyakit jantung koroner, kanker, diabetes, dan hipertensi yang mengarah pada stroke) berhubungan erat dengan konsumsi produk peternakan. Perhitungan GRK yang dihasilkan produk peternakan secara menyeluruh harus memasukkan juga emisi untuk konstruksi dan operasi industri-industri farmasi dan kesehatan yang digunakan untuk mengobati penyakit-penyakit ini.

Mitigasi

Ancaman utama dari perubahan iklim adalah pertumbuhan populasi manusia, yang diperkirakan sekitar 35 persen antara tahun 2006 hingga 2050. Dalam periode yang sama, FAO memproyeksikan bahwa jumlah peternakan di seluruh dunia akan meningkat dua kali lipat, sehingga emisi GRK terkait peternakan juga akan meningkat kurang lebih dua kali lipat (atau meningkat sedikit lebih kecil bila semua rekomendasi FAO diterapkan sepenuhnya), sementara secara luas diharapkan bahwa GRK dari industri-industri lain akan turun. Hal ini akan menyebabkan jumlah emisi terkait peternakan bahkan lebih tidak dapat diterima dibandingkan tingkat saat ini yang sudah membahayakan. Hal ini juga berarti bahwa strategi yang efektif harus melibatkan penggantian produk peternakan dengan alternatif yang lebih baik, alih-alih hanya mengganti satu produk daging dengan produk daging lainnya yang dianggap lebih rendah jejak karbonnya.

Teori, keyakinan, dan bahkan kepentingan yang kuat telah dibangun di sekitar gagasan untuk memperlambat perubahan iklim melalui energi terbarukan serta efisiensi energi. Namun setelah perundingan iklim internasional bertahun-tahun dan berbagai usaha praktis, hanya sedikit jumlah energi terbarukan serta efisiensi energi yang sudah dikembangkan (bersama dengan lebih banyak prasarana energi nuklir dan energi fosil). Emisi GRK terus meningkat sejak protokol Kyoto ditandatangani pada tahun 1992 dan menyebabkan perubahan iklim semakin cepat. Betapapun dikehendaki, bahkan kemajuan besar dalam mengganti energi yang tidak terbarukan saja tidak bisa menggantikan peranan penting dari tindakan mengurangi emisi GRK terkait peternakan.

Tindakan untuk menghilangkan produk peternakan tidak hanya dapat mencapai pengurangan GRK di atmosfer dengan cepat, namun juga bisa membalik krisis pangan dan air yang sedang berlangsung di dunia. Seandainya rekomendasi yang dijabarkan di bawah ini diikuti, setidaknya 25 persen pengurangan produk peternakan di seluruh dunia dapat dicapai antara saat ini hingga tahun 2017, akhir periode komitmen yang akan dibicarakan dalam konferensi iklim PBB di Kopenhagen pada bulan Desember 2009. Hal ini akan menghasilkan paling tidak pengurangan 12,5 persen emisi GRK antropogenik global, yang sudah hampir mencapai pengurangan seperti yang secara umum diharapkan untuk dinegosiasikan di Kopenhagen.

Karena mendesaknya untuk memperlambat perubahan iklim, kami percaya bahwa merekomendasikan perubahan kepada industri secara langsung akan lebih efektif dibandingkan merekomendasikan pemerintah untuk mengubah kebijakan yang belum tentu bisa menghasikan perubahan pada industri. Hal ini benar meskipun industri dan investor biasanya berhasil jika tanggap terhadap konsumen serta pemegang saham dalam jangka pendek, sementara iklim hanya dipandang sebagai risiko jangka panjang.

Gas rumah kaca yang berkaitan erat dengan peternakan dapat diatur oleh pemerintah dengan mengenakan pajak karbon (walaupun ada tentangan dari industri peternakan), dengan begitu para pemimpin dalam industri makanan dan para investor akan mencari peluang lain dan pajak karbon dapat membantu mewujudkannya. Kenyataannya, mereka mungkin akan mencari keuntungan dari peluang semacam ini meskipun tidak ada pajak karbon, karena emisi GRK terkait peternakan adalah risiko yang besar bagi industri makanan. Bencana iklim diramalkan akan lebih besar mengancam pasar yang sudah ada, dan akibatnya akan lebih membahayakan pasar yang sedang berkembang, di mana industri makanan diramalkan akan mendapatkan pertumbuhan terbesarnya jika tidak ada bencana tersebut.

Peluang

Sebuah perusahaan makanan setidaknya mempunyai tiga insentif untuk menanggapi risiko dan peluang pada industri makanan secara umum. Insentif pertama adalah perusahaan makanan telah rugi akibat bencana iklim, jadi kepentingan perusahaan itu sendiri bisa dilindungi dengan memperlambat perubahan iklim. Di daerah-daerah yang terlanda, bencana iklim bisa diperkirakan tidak hanya mengurangi pasar industri makanan, tetapi juga merusak prasarana dan kemampuannya untuk beroperasi. Sebagai contoh, semua resiko ini terjadi di wilayah New Orleans pada tahun 2005 karena badai Katrina, ketika perusahaan Whole Foods Market melaporkan kerugian sebesar US$16,5 juta pada tahun itu karena toko-tokonya rusak dan tutup di wilayah New Orleans, tidak ada penjualan, dan harus memperbaiki toko-toko yang rusak itu. Risiko seperti ini akan diperburuk oleh bencana iklim ekstrem di kemudian hari, yang kejadiannya dan kekuatannya diperkirakan akan meningkat di seluruh dunia.

Insentif kedua muncul dari besarnya kemungkinan setelah krisis ekonomi saat ini selesai, permintaan terhadap minyak akan naik ke tingkat yang tidak mungkin untuk dipenuhi karena menurunnya produksi (fenomena “puncak minyak”). Harga minyak bumi akan meningkat sangat tajam sehingga akan menghancurkan banyak bagian dari ekonomi sekarang. Produk-produk hewani akan menderita pukulan tambahan karena setiap gram biofuel dari hasil panen yang bisa diproduksi untuk menggantikan bahan bakar konvensional kemungkinan besar akan diproduksi – dan dengan demikian dialihkan dari peternakan – sebagai usaha untuk menghindari bencana. Hal tersebut telah diperkirakan oleh mereka yang bergerak di sektor peternakan dan sektor finansial karena fenomena “puncak minyak” dapat membawa kehancuran pada sektor peternakan dalam beberapa tahun. Untuk menjadi pemenang pada kompetisi dalam skenario tersebut adalah alasan lain bagi para pemimpin dalam industri makanan agar secepatnya mulai menggantikan produk hewaninya dengan alternatif yang lebih baik.

Insentif ketiga yaitu sebuah perusahaan makanan dapat memproduksi dan memasarkan produk alternatif pengganti produk hewani yang memiliki rasa serupa, tetapi lebih mudah dimasak, lebih murah, dan lebih sehat, sehingga lebih baik daripada produk hewani. Produk-produk alternatif ini dapat berupa daging sapi, babi dan ayam dari kedelai dan seitan (gluten gandum); susu, keju dan es krim dari kedelai dan beras.

Penjualan produk-produk kedelai pengganti daging di Amerika Serikat saja telah mencapai US$1,9 miliar pada tahun 2007, meningkat dari US$1,7 miliar pada tahun 2005, menurut Asosiasi Makanan Kedelai Amerika Utara. Sebagai perbandingan, penjualan produk daging di Amerika Serikat (termasuk unggas) mencapai $100 miliar pada tahun 2007. Rasio 1,9 berbanding 100 ini menunjukkan banyak ruang untuk tumbuh bagi penjualan produk pengganti daging dan susu. Produk pengganti daging dan susu telah dijual di seluruh negara berkembang, dan seperti di Amerika Serikat, penjualan telah meningkat pada tahun-tahun belakangan ini. Jadi, berbagai usaha untuk meningkatkan penjualan produk-produk ini di negara berkembang tidak harus menunggu usaha yang serupa sukses terlebih dulu di negara maju. Di seluruh dunia, pasar untuk produk pengganti daging dan susu memiliki potensi hampir sebesar pasar untuk produk hewan ternak.

Perusahaan makanan organik skala besar mungkin melihat kesempatan-kesempatan ini sangat menarik. Perusahaan seperti itu dapat membentuk anak perusahaan untuk menjual produk pengganti daging dan susu, mungkin secara khusus. Mereka dapat secara signifikan meningkatkan produksi dan penjualan produk pengganti dalam beberapa tahun dengan biaya modal yang masuk akal dan pengembalian investasi yang menarik. Dan karena produk pengganti daging dan susu diproduksi tanpa proses intensif GRK yang digunakan dalam memelihara ternak – seperti emisi CO2 dan metana dari hewan, dan penggunaan lahan untuk menanam pakan dan penggembalaan ternak – produk pengganti jelas menghasilkan GRK yang jauh lebih sedikit daripada produk peternakan. Jadi, pendapatan tambahan mungkin bisa diperoleh dari penjualan kredit karbon untuk pengurangan emisi GRK yang diperoleh melalui produk pengganti dibandingkan dengan produk ternak.

Produk pengganti susah dibedakan dari daging dan produk susu ketika mereka dipotong, dilapisi bubuk roti, diberi saus, dibumbui, atau proses yang lain, jadi berada di antara strategi berisiko paling kecil bagi anak perusahaan untuk membangun jaringan gerai makanan cepat saji yang menghidangkan burger kedelai, produk ayam kedelai, sandwich yang dibuat dengan berbagai produk pengganti daging dan/atau es krim kedelai. Jika jaringan ini berkembang dengan pesat, maka perusahaan makanan lainnya akan tergoda untuk mengikuti pelopor itu.

Jika produksi produk pengganti daging dan susu meningkat secara signifikan, maka harganya akan turun – suatu keuntungan utama setidaknya selama resesi ekonomi saat ini masih berlangsung di banyak negara. Selanjutnya akan terjadi penurunan harga dari skala ekonomi dan peningkatan persaingan di antara para pembuat produk pengganti, juga karena bahan baku utama untuk biodiesel adalah minyak kedelai. Memenuhi perkiraan permintaan biodiesel yang jauh lebih tinggi akan menghasilkan surplus makanan kedelai, yang tidak hanya merupakan produk sampingan dari minyak kedelai, tetapi juga adalah bahan baku produk pengganti daging dan susu. Kelebihan persediaan makanan kedelai bisa menurunkan harganya secara signifikan.

Bagi konsumen yang tidak suka makan produk pengganti daging dan susu, kacang polong dan padi-padian berprotein tinggi telah tersedia sebagai alternatif. Pilihan lainnya adalah daging buatan yang ditumbuhkan di laboratorium dari sel-sel hewan ternak, kadang-kadang disebut daging “in vitro”. Beberapa percobaan telah dilakukan dan sejumlah paten telah didaftarkan, tapi produksi dan kemungkinan pemasarannya baru bisa dilakukan beberapa tahun lagi dan ini akan cukup lama sebelum diketahui apakah daging in vitro bisa bersaing dengan produk pengganti dalam hal harga dan rasa, serta dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan.

Pemasaran

Untuk mencapai pertumbuhan yang dibahas di atas akan membutuhkan investasi yang signifikan dalam pemasaran, terutama karena produk pengganti daging dan susu merupakan hal baru bagi banyak konsumen. Kampanye yang sukses akan menghindari tema negatif dan menekankan hal-hal yang positif. Misalnya, merekomendasikan agar tidak makan daging satu hari setiap minggu berkesan mengurangi hak. Alih-alih, kampanye sebaiknya menyuarakan tema makan selama seminggu dengan berbagai makanan yang lezat, mudah disiapkan, dan memasukkan “makanan super” seperti kedelai, yang akan memperkaya kehidupan mereka. Ketika orang mendengar pesan menarik tentang makanan, mereka mendengarkan terutama pada kata-kata yang menimbulkan kenyamanan, keakraban, kebahagiaan, kemudahan, kecepatan, harga murah, dan popularitas. Karena itu, beberapa tema lain harus digunakan untuk membangun kampanye pemasaran yang efektif:

Dengan menggantikan produk ternak dengan produk pengganti, konsumen dapat mengambil tindakan tunggal yang kuat secara kolektif untuk mengurangi sebagian besar GRK di seluruh dunia. Pelabelan produk pengganti dengan sertifikat tentang berapa jumlah GRK yang dihindari dapat memberikan keunggulan yang signifikan.

Produk pengganti lebih murah, lebih hemat, lebih mudah dimasak, dan lebih sehat daripada produk ternak.

Produk pengganti daging dan susu dapat diposisikan sebagai produk yang jelas jauh lebih unggul daripada produk ternak, sehingga menarik konsumen yang sama dan mendorong pembelian produk-produk pengganti lainnya, seperti halnya Rolex imitasi.

Di negara berkembang, yang konsumsi daging dan susu per kapitanya lebih rendah daripada di negara maju, konsumen sering menganggap daging dan produk susu sebagai bagian dari pola makan yang lebih baik dan kehidupan yang lebih baik, dan belum diberitahu tentang dampak buruk dari makanan tersebut. Namun, produk pengganti daging dan susu bahkan dapat memberikan hasil yang lebih baik, terutama jika dipasarkan dengan maksud seperti ini.

Seperti yang telah ditunjukkan oleh pengalaman bisnis hijau, target kampanye yang paling tepat adalah aktivis lingkungan, dengan alasan bahwa mengonsumsi produk pengganti daging dan susu adalah cara terbaik untuk melawan perubahan iklim. Mereka diharapkan dapat menyebarkan pesan tersebut kepada orang lain, dan dapat meminta agar produk pengganti dihidangkan pada pertemuan-pertemuan yang mereka hadiri untuk menghindari GRK dan hal ini bisa menjadi publikasi yang baik.

Mungkin anak-anak adalah sasaran yang paling mudah dipengaruhi dengan makanan baru dan makanan cepat saji karena mereka cenderung untuk mengikuti iklan, memiliki kebiasaan tertanam yang lebih sedikit daripada orang dewasa, dan sering mencari tren baru. Orangtua sering ikut menyantap makanan cepat saji atau produk makanan lain yang diminta oleh anak mereka. Pada saat yang sama, anak-anak semakin banyak dididik mengenai perubahan iklim di sekolah dan mencari aktivitas yang memungkinkan mereka melakukan eksperimen terhadap apa yang mereka pelajari. Tetapi, mereka adalah target utama pemasaran produk ternak, walaupun produk ini memiliki risiko iklim yang sangat tinggi. Untuk memperbaiki hal ini, harus dipertimbangkan untuk mengubah standar yang dapat dipakai dalam pemasaran kepada anak-anak. Dalam berbagai kegiatan, penjualan produk pengganti daging dan susu kepada anak-anak seharusnya menjadi prioritas.

Sebagai tambahan, perusahaan makanan dapat memasarkan produk pengganti daging dan susu melalui kerja sama strategis dengan perusahaan lain. Mereka dapat bekerja sama dengan sekolah, pemerintah, dan organisasi non-pemerintah. Aktivis lingkungan dengan keahlian terkait dapat diminta untuk melakukan pelacakan terus-menerus dan menyeluruh terhadap GRK yang disebabkan oleh produk peternakan dan produk pengganti. Politikus dan selebriti dapat dilibatkan untuk mempromosikan kepada konsumen agar memilih alternatif dari produk peternakan.

Kami merekomendasikan agar sewaktu penjual bahan makanan merencanakan peragaan dan penetapan biaya penempatan (untuk penempatan rak yang menguntungkan), mereka mempertimbangkan keuntungan dari meletakkan produk pengganti berdampingan dengan daging dan produk susu. Hal ini membuat produk pengganti dapat terlihat oleh banyak konsumen dan dengan demikian akan meningkatkan penjualan mereka. Ini akan dapat memberikan hasil penjualan yang baik yang secara normal terjadi apabila konsumen diperlihatkan kepada bermacam bentuk produk di rak yang sama. Dengan harga produk pengganti yang lebih murah daripada produk daging, meletakkan saling berdampingan akan dapat meningkatkan keuntungan penjual bahan makanan. Jika konsumen membandingkan dan menemukan bahwa produk pengganti lebih murah daripada produk peternakan maka penempatan saling bersebelahan dapat menolong penjual mempertahankan volume penjualan mereka di saat kondisi ekonomi menurun.

Sumber Investasi

Sebuah perusahaan dengan rencana yang baik untuk meningkatkan penjualan produk pengganti daging dan susu sangat mungkin mendapatkan modal usaha yang cukup dari para investor yang mencari peluang investasi yang dapat membantu memperlambat perubahan iklim. Ia juga bisa mendapatkan pinjaman konsesi melalui lembaga kredit pembangunan dan “dana iklim”. Tetapi, mungkin perlu untuk meningkatkan kesadaran di antara para investor yang tidak akrab dengan produk pengganti daging dan susu.

Para investor dapat ditunjukkan bahwa adalah demi kepentingan mereka sendiri untuk menghindari investasi baru dalam produksi daging dan susu dan sebaiknya mencari investasi dalam produk-produk pengganti. Dibandingkan dengan proyek energi dan transportasi, proyek produk pengganti dapat diterapkan dengan cepat, dengan tingkat penambahan investasi yang relatif rendah, tingkat pengurangan GRK yang lebih besar untuk jumlah investasi yang sama, dan pengembalian investasi yang lebih cepat.

Investasi untuk meminimalkan dan mengurangi GRK kebanyakan terfokus pada energi terbarukan di bidang energi dan transportasi. Namun, prasarana energi terbarukan mempunyai siklus pengembangan produk yang lama dan kompleks dan memerlukan modal yang besar. Mengubah armada kendaraan dan pembangkit listrik diperkirakan membutuhkan triliunan dolar dan memerlukan kemauan politik dan konsensus yang masih harus diupayakan. Sekalipun uang dan politik bersama-sama setuju melakukan tugas itu, solusi seperti ini diperkirakan membutuhkan waktu lebih dari satu dekade untuk diterapkan secara penuh, saat di mana titik kritis dari bencana iklim yang tidak bisa dipulihkan mungkin telah lama terlampaui.

Sebagian besar bank komersial, sejumlah agen kredit ekspor, dan bahkan dana ekuitas telah menerima Prinsip Ekuator, yaitu mereka memiliki komitmen untuk mematuhi sekumpulan standar lingkungan dan kinerja sosial yang ketat untuk proyek investasi di negara-negara berkembang. Jika standar-standar itu menentang investasi dalam proyek peternakan skala besar, maka perusahaan dengan proyek produk pengganti daging dan susu memiliki posisi yang baik untuk menarik investasi.

Paket Manfaat

Proyek produk pengganti daging dan susu tidak hanya akan memperlambat perubahan iklim, tetapi juga membantu mengurangi krisis pangan global, karena dibutuhkan jauh lebih sedikit hasil pertanian untuk menghasilkan jumlah kalori tertentu dalam bentuk produk pengganti daripada produk ternak. Produk pengganti juga akan mengurangi krisis air global karena air dalam jumlah besar yang diperlukan untuk produksi ternak akan bisa dihentikan. Kesehatan dan gizi yang diberikan kepada konsumen akan lebih baik daripada produk ternak. Proyek produk pengganti akan lebih padat karya daripada proyek ternak sehingga akan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan dan pekerjaan yang butuh keterampilan. Mereka juga akan terhindar dari praktik-praktik kerja berbahaya yang ditemukan di sektor peternakan (tetapi tidak ada dalam produksi produk pengganti), termasuk pekerja budak di beberapa daerah seperti kawasan hutan Amazon. Pekerja yang menghasilkan produk ternak dapat dengan mudah dilatih kembali untuk menghasilkan produk pengganti.

Tentu saja, sebagian hewan ternak akan terus dikembang-biakkan, terutama jika diperlukan dalam sistem usaha tani campuran. Mereka juga penting di daerah-daerah di mana sektor pertenakan merupakan salah satu cara bagi penduduk pedesaan yang kurang mampu untuk menciptakan aset dan mendapatkan penghasilan. Akan tetapi, hal itu semakin berkurang karena adanya perkembangan dramatis dalam penggunaan komputer, komunikasi bergerak, perbankan bergerak, kredit mikro, dan listrik luar jaringan (off-grid electricity) pada tahun-tahun belakangan ini, telah menciptakan banyak kesempatan baru bagi komunitas yang kurang mampu di pedesaan.

Selama bertahun-tahun, anjuran kepada alternatif dari produk peternakan didasarkan atas argumen tentang gizi dan kesehatan, kasih sayang kepada hewan, dan masalah-masalah lingkungan selain intensitas karbon. Penjelasan ini sebagian besar telah diabaikan dan konsumsi produk ternak di seluruh dunia telah meningkat, menyebabkan sebagian orang percaya bahwa anjuran semacam itu mungkin tidak akan pernah berhasil. Bahkan mendesak pemerintah untuk mengharuskan pengurangan produksi ternak atas dasar perubahan iklim mungkin tidak efektif karena industri makanan mempunyai kemampuan lobi yang kuat. Tetapi, bila bisnis produk pengganti daging dan susu jelas, maka mereka yang biasa melobi pemerintah dapat langsung menarik perhatian pemimpin di bidang industri makanan, yang mungkin akan menyambut mereka sebagai juara. Risiko bisnis proyek produk pengganti sama dengan sebagian besar proyek pabrikan makanan lainnya, tapi risiko akan dikurangi oleh fakta bahwa sebagian besar prasarana yang diperlukan (seperti untuk penanaman dan pengolahan biji-bijian) sudah ada.

Perubahan kuncinya adalah pengurangan produk peternakan secara signifikan. Pertumbuhan yang dipacu industri atau permintaan telah berhasil dalam industri lain, seperti industri komputer dan ponsel, yang berarti bahwa produk pengganti daging dan susu juga dapat meraih sukses. Pada umumnya, industri makanan di seluruh dunia memiliki kapasitas pemasaran yang sangat canggih, menjadikan pertumbuhan yang tinggi dari pemasaran produk makanan baru praktis adalah hal yang wajar – bahkan sebelum seseorang mempertimbangkan keuntungan esktra yang bisa diraih dari manfaat memperlambat perubahan iklim.

Risiko bisnis seperti biasanya mengungguli risiko perubahan. Pertimbangan untuk perubahan tidak lagi hanya sebuah kebijakan publik atau masalah etis, tetapi sekarang juga menjadi pertimbangan bisnis. Kami yakin bahwa membalik perubahan iklim dengan cepat adalah pertimbangan bisnis terbaik bagi semua industri.

Robert Goodland pensiun sebagai penasihat utama lingkungan Kelompok Bank Dunia (World Bank Group) setelah melayani di sana selama 23 tahun. Pada tahun 2008, dia dianugerahi Medali Coolidge Memorial yang pertama oleh IUCN atas sumbangannya yang besar terhadap pelestarian lingkungan. Jeff Anhang adalah petugas riset dan spesialis lingkungan di Perusahaan Keuangan Internasional Kelompok Bank Dunia, yang menyediakan pembiayaan sektor swasta dan saran di negara-negara berkembang.

Untuk informasi lebih banyak mengenai masalah yang diangkat dalam artikel ini, kunjungi : www.worldwatch.org/ww/livestock

Klik gambar di bawah ini untuk mengunduh laporan asli dalam bahasa Inggris maupun terjemahan bahasa Indonesianya.

Advertisements