2 Maret 2010 – “Gempa bumi besar 8,8 SR yang melanda Chili telah menggeser poros bumi,” ungkap  ilmuwan Richard Gross di NASA’s Jet Propulsion Laboratory di Pasadena, Kalifornia, AS pada  hari Senin.

Model komputer yang digunakan oleh Gross dan rekan-rekannya untuk menentukan efek dari Gempa Chili juga menemukan bahwa gempa tersebut menggeser sumbu Bumi sekitar 3 inci (8 cm atau 2,7 milliarcseconds).

Gempa bumi kuat lalu juga telah mengubah sumbu Bumi. Gempa bumi besar – 9,1 SR – di Sumatra pada tahun 2004, yang memicu tsunami, menggeser sumbu Bumi sekitar 2,76 inci (7 cm, atau 2,32 milliarcseconds).

Gempa bumi Chili jauh lebih kecil daripada gempa bumi Sumatra, tetapi dampaknya pada sumbu Bumi lebih besar karena lokasinya. Pusat gempanya terletak di tengah garis lintang Bumi, dan bukan di dekat khatulistiwa seperti Gempa Sumatra.

“Hal ini membuat Gempa di Chili lebih efektif dalam memindah massa Bumi secara vertikal dan karenanya lebih efektif dalam memindah poros bumi,” kata para pejabat NASA.

Bumi yang semakin miring akan menyebabkan bencana semakin banyak karena tidak seimbang.

Sementara itu, dalam laporan sebelumnya di tahun 2009, Felix Landerer dari NASA’s Jet Propulsion Laboratory memperingatkan bahwa pemanasan global juga mengakibatkan Bumi bertambah miring. Mencairnya es di Kutub menyebabkan perubahan distribusi massa Bumi. Landerer dan para kolega memperkirakan bahwa mencairnya es Greenland telah membuat Bumi bertambah miring sebesar 2,6 cm per tahunnya dan laju ini bisa bertambah cepat di tahun-tahun mendatang.

Sumber :

NASA

Telegraph

Newscientist