10 Mei 2010

Jenewa (AP) – PBB memperingatkan pada hari Senin kemarin bahwa kehancuran lingkungan sebagai penopang kehidupan secara besar-besaran kemungkinan semakin dalam hingga ke titik tidak dapat dipulihkan kembali setelah target global untuk memangkas kemerosotan pada tahun ini gagal.

Sebagai akibat dari kemerosotan lingkungan, dunia sekarang bergerak mendekati beberapa “tipping points” dimana beberapa ekosistem yang memainkan peranan penting dalam proses alami seperti iklim atau rantai makanan kemungkinan hancur selamanya, demikian bunyi laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Laporan ketiga “Tinjauan Biodiversitas Global” menemukan bahwa pembabatan hutan, polusi, atau eksploitasi berlebihan merusak kemampuan produktif lingkungan yang paling rentan, seperti hutan hujan Amazon, danau, dan terumbu karang.

“Laporan ini menyebutkan bahwa kita mencapai “tipping points” dimana kerusakan planet yang tak dapat dipulihkan kembali akan terjadi kecuali kita bertindak segera,” ungkap Ahmed Djoghlaf, sekretaris eksekutif Sidang Keragaman Biologis PBB, pada para jurnalis.

Djoghlaf  berargumen bahwa laju kepunahan untuk beberapa spesies hewan atau tumbuhan mencapai rekor tertinggi dalam sejarah, hingga 1.000 kali lipat daripada yang pernah terjadi, bahkan mempengaruhi hasil panen dan ternak.

Laporan PBB sebagian berdasar atas 100 laporan nasional mengenai langkah-langkah yang diambil untuk mencapai target 2002 untuk secara signifikan mengurangi atau membalikkan kepunahan biodiversitas.

Djoghlaf menyampaikan pada para jurnalis: “Tidak ada satupun negara di dunia yang telah mencapai target ini, kita terus saja kehilangan keragaman hayati pada laju yang tak pernah terjadi sebelumnya.”

Tiga potensi “tipping point” sebagai berikut:

  • Terganggunya iklim global, curah hujan regional, dan lenyapnya spesies tumbuhan dan hewan karena  pembabatan hutan hujan Amazon yang terjadi terus-menerus.
  • Banyak danau dan sungai terkontaminasi oleh ganggang, sehingga oksigen menjadi tipis dan membunuh ikan-ikan, mempengaruhi kehidupan penduduk lokal.
  • Terumbu karang hancur karena gabungan antara semakin meningkatnya kadar asam dengan pemanasan laut, dan juga penangkapan ikan yang berlebihan.

Direktur Jenderal Program Lingkungan PBB (UNEP) Achim Steiner menyebutkan bahwa, “Umat manusia telah menciptakan ilusi bahwa kita bisa hidup tanpa biodiversitas atau itu adalah sesuatu hal yang sifatnya sementara saja.”

Laporan ini menyerukan strategi baru untuk mengatur penggunaan lahan, perikanan, pertambahan penduduk, sebagian dengan menghentikan subsidi yang “berbahaya”.

Sumber:

http://news.yahoo.com/s/afp/20100510/ts_afp/unenvironmentbiodiversityeconomy