123rf.com

Makanan dan Artritis

Jutaan orang menderita nyeri sendi dan bengkak yang terkait dengan artritis. Di masa lalu, banyak dokter mengatakan kepada pasien artritis bahwa perubahan pola makan tidak akan membantu mereka. Namun, kesimpulan ini didasarkan pada penelitian yang lebih tua dengan pola makan yang memasukkan produk susu, minyak, unggas, atau daging.1,2 Penelitian baru menunjukkan bahwa makanan dapat menjadi kontributor yang lebih sering terhadap radang sendi daripada yang umumnya diketahui. Jelas bahwa, setidaknya untuk beberapa orang, menu sehat adalah jawabannya.

 

Berbagai Jenis Artritis

Artritis sebenarnya merupakan sekelompok penyakit yang berbeda. Osteoartritis adalah hilangnya tulang rawan secara bertahap dan pertumbuhan berlebih tulang pada sendi, terutama lutut, pinggul, tulang belakang, dan ujung jari. Lebih dari 20 juta orang Amerika, kebanyakan di atas usia 45 tahun, menderita osteoartritis, yang tampaknya merupakan hasil dari akumulasi keausan dan koyakan. Meskipun dapat menyebabkan episode yang menyakitkan, penyakit ini ditandai dengan kekakuan sementara saja dan tidak menimbulkan gangguan besar dalam penggunaan tangan.

Arthritis reumatoid (rematik), yang mempengaruhi lebih dari 2 juta orang, adalah bentuk yang lebih agresif dari penyakit ini. Ia menyebabkan nyeri, sendi yang meradang, yang terkadang menjadi rusak.

Arthritis reumatoid adalah salah satu misteri dalam kedokteran. Tidak ada laporan medis dari penyakit ini sampai awal tahun 1800. Beberapa orang menduga bahwa virus atau bakteri mungkin memainkan peran, mungkin dengan cara memicu reaksi autoimun. Genetika juga dapat menjadi faktor, dalam hal ini dapat mempengaruhi kerentanan terhadap penyakit.

Peran Pola Makan

Selama bertahun-tahun orang telah menduga bahwa makanan merupakan faktor penting dalam berkembangnya arthritis reumatoid. Banyak yang memperhatikan adanya perbaikan dalam kondisi mereka ketika mereka menghindari produk susu, buah jeruk, tomat, terong, dan makanan tertentu lainnya.

Awalnya, hal itu tidak dipercaya. Seorang wanita dari Midwest pernah menderita artritis yang menyakitkan. Sekarang ini ia adalah gambaran ideal orang yang sehat, langsung, dan atletis, dan arthritis dia benar-benar hilang. Tampaknya produk susu yang harus disalahkan untuk arthritisnya, karena ketika ia menghilangkan susu dari pola makannya, arthritisnya menghilang sama sekali.

Wanita lain, dari Wisconsin, juga menemukan bahwa arthritisnya jelas terkait dengan produk susu. Meskipun ia dibesarkan di sebuah peternakan susu, dia tahu bahwa tinggal jauh dari produk susu adalah kunci untuk menghilangkan gejala.

Sebuah survei tahun 1989 terhadap lebih dari seribu pasien artritis mengungkapkan bahwa makanan yang paling sering diyakini memperburuk kondisi itu adalah daging merah, gula, lemak, garam, kafein, dan tanaman nightshade (misalnya, tomat, terong).3 Setelah makanan tersebut dihilangkan sepenuhnya, perbaikan biasanya datang dalam beberapa minggu. Susu adalah salah satu makanan terburuk, dan masalahnya terletak pada protein susu, bukan pada lemak, sehingga produk susu skim sama buruknya dengan susu penuh lemah.4

Penelitian yang jumlahnya semakin banyak menunjukkan bahwa perubahan pola makan nyatanya dapat membantu. Sebagai contoh, minyak tak jenuh ganda dan suplemen omega-3 memiliki efek manfaat yang sedikit, dan para peneliti telah menemukan bahwa pola makan vegan lebih bermanfaat.5 Sebuah penelitian pada tahun 2002 mengamati pengaruh pola makan vegan yang sangat rendah lemak pada pasien dengan RA sedang sampai berat. Setelah hanya empat minggu menjalani pola makan vegan, hampir semua gejala RA menurun secara signifikan.6 Jurnal Rheumatology menerbitkan sebuah studi yang menemukan pola makan vegan bebas gluten menurunkan gejala RA.7 Pola makan vegan mentah, kaya akan antioksidan dan serat, ditunjukkan dalam studi lain mengurangi kekakuan sendi dan nyeri pada pasien dengan RA.8 Beberapa penelitian telah mengkaji puasa yang diikuti dengan pola makan vegetarian atau vegan.  Sebuah tinjauan terhadap berbagai penelitian menyimpulkan bahwa pola makan ini dapat berguna dalam mengobati RA.9

Pola makan vegan secara dramatis mengurangi jumlah keseluruhan lemak dalam diet, dan mengubah komposisi lemak. Hal ini pada gilirannya dapat mempengaruhi proses kekebalan tubuh yang menimbulkan artritis. Asam lemak omega-3 dalam sayuran dapat menjadi faktor kunci, bersama dengan hampir tidak adanya lemak jenuh. Fakta bahwa pasien juga menurunkan berat badan pada diet vegan memberikan kontribusi untuk kesembuhan artritis.

Selain itu, sayuran kaya akan antioksidan, yang dapat menetralisir radikal bebas. Oksigen-radikal bebas menyerang banyak bagian tubuh dan berkontribusi terhadap penyakit jantung dan kanker, dan memperkuat proses penuaan secara umum, termasuk sendi.

Besi bertindak sebagai katalis, mendorong produksi dari molekul-molekul berbahaya ini. Vitamin C dan E, yang banyak terdapat dalam pola makan yang terbuat dari sayuran dan biji-bijian (misalkan beras merah), membantu menetralkan radikal bebas. Daging memasok besi yang berlebihan, tidak ada vitamin C, dan vitamin E yang sangat sedikit, sedangkan sayuran mengandung jumlah yang lebih terkontrol dari besi, dan jumlah vitamin antioksidan yang melimpah.

Selain membantu dalam pencegahan artritis, antioksidan juga dapat berperan dalam mengurangi gejalanya. Beberapa perawatan artritis, termasuk obat anti-inflamasi non-steroid, bekerja setidaknya sebagian dengan menetralisir radikal bebas. Untuk sebagian besar, bagaimanapun, vitamin dan antioksidan lain akan lebih berguna dalam mencegah kerusakan sebelum artritis terjadi, daripada mengobati radang sendi.10

Pola makan yang diambil dari buah-buahan, sayuran, biji-bijian (misalkan beras merah), dan kacang-kacangan karena itu tampaknya membantu dalam mencegah dan, dalam beberapa kasus, menurunkan artritis.

Pola Makan Empat-Minggu Anti-Artritis (diadaptasi dari Foods That Fight Pain, oleh dr. Neal Barnard)

Selama empat minggu, masukkan cukup makanan dari daftar bebas-radang dalam rutinitas Anda.

Pada saat yang sama, hindari dengan seksama pemicu utama. Hal ini penting untuk menghindari makanan ini sepenuhnya, karena bahkan sejumlah kecil dapat menyebabkan gejala.

Makanan yang tidak ada baik dalam salah satu daftar dapat dikonsumsi, asalkan Anda menekankan makanan yang aman untuk artritis dan menghindari dengan cermat makanan pemicu utama.

Anda mungkin merasakan manfaat lebih cepat dari empat minggu, tetapi bagi sebagian orang dapat memerlukan waktu lama untuk mengurangi radang sendi yang kronis.

Makanan Bebas-Radang

123rf.com

Makanan bebas-radang hampir tidak pernah memberikan kontribusi untuk artritis atau kondisi menyakitkan lainnya. Ini termasuk :

  • Beras merah
  • Buah-buahan yang dimasak atau kering: ceri, cranberry, pir, plum (tetapi jangan jeruk, pisang, persik, atau tomat)
  • Sayuran yang berwarna hijau, kuning, dan oranye: artichoke, asparagus, brokoli, lobak, sawi, selada, bayam, kacang panjang, labu, ubi jalar/ubi manis, tapioka, dan talas.
  • Air: air putih atau berkarbonasi, seperti Perrier, aman. Minuman lainnya – bahkan teh herbal – bisa menjadi pemicu.
  • Bumbu: garam secukupnya, sirup maple, dan ekstrak vanili biasanya ditoleransi dengan baik.

Setelah empat minggu, jika gejala Anda telah membaik atau hilang, langkah berikutnya adalah untuk mencatat makanan mana saja yang menjadi pemicu masalah Anda. Cukup perkenalkan kembali makanan yang telah Anda hilangkan ke dalam pola makan Anda lagi sesekali, setiap dua hari sekali.

Makan secukupnya saja setiap makanan yang baru diperkenalkan kembali, dan lihat apakah sendi Anda meradang lagi. Jika ya, hilangkan makanan yang tampaknya telah menyebabkan masalah, dan biarkan sendi mendingin kembali. Kemudian lanjutkan dengan memperkenalkan kembali makanan lain. Tunggu setidaknya dua minggu sebelum mencoba makanan pemicu untuk kedua kalinya. Banyak orang memiliki lebih dari satu pemicu makanan.

Tidak dianjurkan untuk memasukkan daging, produk susu, atau telur kembali ke dalam diet atau pola makan Anda. Bukan saja mereka pemicu utama, tetapi mereka juga mendorong ketidakseimbangan hormon yang dapat menyebabkan nyeri sendi, dan juga menyebabkan banyak masalah kesehatan lainnya.

Hindari Makanan Pemicu Utama Artritis :

  1. Produk susu *
  2. Jagung
  3. Daging **
  4. Tepung terigu/gandum, sereal, gandum hitam
  5. Telur
  6. Buah jeruk
  7. Kentang
  8. Tomat
  9. Kacang-kacangan
  10. Kopi

123rf.com

* Semua produk susu harus dihindari: susu skim atau susu full krim, susu kambing, keju, yoghurt, dll.

** Semua daging harus dihindari: daging sapi, babi, ayam, kalkun, ikan, dll.

Pendekatan Lain

Untuk beberapa pasien artritis, suplemen asam lemak esensial tertentu telah membantu. Mereka harus dianggap sebagai obat, bukan makanan. Ini mencakup satu sendok makan minyak biji rami (flaxseed) dengan 500 mg minyak blackcurrant (atau tiga kapsul minyak evening primrose) dua kali setiap hari. Jika membantu, itu harus dikurangi dengan dosis efektif terendah. Beberapa orang juga mendapat manfaat dari herba yang disebut feverfew, yang diasup dua sampai tiga kali per hari. (Perhatian: Jangan mengambil feverfew jika Anda sedang hamil.)

Suplemen ini tersedia di toko makanan kesehatan.

References
1. Panush RS, Carter RL, Katz P, Kowsari B, Longley S, Finnie S. Diet therapy for rheumatoid arthritis. Arthritis and Rheumatism. 1983;26:462-471.
2. Lithell H, Bruce A, Gustafsson IB, et al. A fasting and vegetarian diet treatment trial on chronic inflammatory disorders. Acta Derm Venereol. 1983;63:397-403.
3. Sobel D. Arthritis: What Works. New York, St. Martin’s Press, 1989.
4. Skoldstam L, Larsson L, Lindstrom FD. Effects of fasting and lactovegetarian diet on rheumatoid arthritis. Scand J Rheumatol. 1979;8:249-255.
5. Skoldstam L. Fasting and vegan diet in rheumatoid arthritis. Scand J Rheumatol. 1986;15:219-223.
6. McDougall J, Bruce B, Spiller G, Westerdahl J, McDougall M. Effects of a very low-fat, vegan diet in subjects with rheumatoid arthritis. J Altern Complement Med. 2002;8(1):71-75.
7. Hafstrom I, Ringertz B, Spangberg A, von Zweigbergk L, Brannemark S, Nylander I, Ronnelid J, Laasonen L, Klareskog L. A vegan diet free of gluten improves the signs and symptoms of rheumatoid arthritis: the effects on arthritis correlate with a reduction in antibodies to food antigens. Rheumatology (Oxford). 2001;40(10):1175-1179.
8. Hanninen, Kaartinen K, Rauma AL, Nenonen M, Torronen R, Hakkinen AS, Adlercreutz H, Laakso J. Antioxidants in vegan diet and rheumatic disorders. Toxicology. 2000;155(1-3):45-53.
9. Muller H, de Toledo FW, Resch KL. Fasting followed by vegetarian diet in patients with rheumatoid arthritis: a systematic review. Scand J Rheumatol. 2001;30(1):1-10.
10. Merry P, Grootveld M, Lunec J, Blake DR. Oxidative damage to lipids within the inflamed human joint provides evidence of radical-mediated hypoxic-reperfusion injury. Am J Clin Nutr. 1991;53:362S-369S.

Untuk informasi selengkapnya, kunjungi http://www.pcrm.org/

Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) adalah organisasi nirlaba yang berbasis di Washington, DC., AS dan beranggotakan lebih dari 6.000 dokter yang tertarik dalam peran nutrisi pada kesehatan. Hubungi PCRM pada alamat berikut : Physicians Committee for Responsible Medicine, 5100 Wisconsin Ave., N.W., Ste.400, Washington DC, 20016, Phone: 202-686-2210     Email: pcrm@pcrm.org