Stroke

123rf.com

Stroke, atau serebrovaskular accident (CVA), adalah penyebab utama kematian ketiga di Amerika Serikat, menyebabkan lebih dari 150.000 kematian per tahun.

Sekitar 80 persen dari stroke disebabkan oleh penurunan aliran darah ke otak (disebut stroke iskemik). Stroke iskemik biasanya diakibatkan oleh gumpalan darah yang terbentuk di dalam arteri ke otak atau telah terbentuk di tempat lain (misalnya, jantung) dan berjalan menuju arteri otak, dimana telah terjadi penyumbatan. Hilangnya aliran darah juga dapat terjadi jika jantung berhenti berfungsi dan tidak lagi memompa darah secara efektif. Stroke juga dapat disebabkan oleh robeknya pembuluh darah, menyebabkan darah mengalir ke otak, menekan, dan merusak jaringan otak. Ini disebut sebagai stroke hemoragik.

Penyebab paling umum stroke adalah hipertensi dan aterosklerosis. Dalam kedua kasus, ia mengakibatkan kerusakan pada arteri yang memberi makan otak dengan darah dan oksigen.

Gejala Stroke

Gejala stroke dapat ringan atau berat dan bisa meliputi:

  • Mati rasa atau kelemahan pada lengan, wajah, atau kaki, biasanya pada satu sisi tubuh
  • Kebingungan
  • Kesulitan berbicara atau memahami
  • Gangguan penglihatan, termasuk kebutaan parsial atau total
  • Pusing
  • Sakit kepala parah tanpa diketahui penyebabnya

Sebuah serangan iskemik transien (TIA) adalah “mini-stroke.” Gejala tersebut mirip dengan stroke, tetapi TIA biasanya berlangsung hanya 30 sampai 60 menit. Meskipun TIA tidak seserius stroke, TIA dapat menjadi tanda peringatan datangnya stroke dalam waktu tak lama.

Faktor Risiko Stroke

  • Ras: Afrika-Amerika dan Latin memiliki risiko lebih tinggi terkena stroke. Namun, tidak jelas apakah peningkatan risiko ini disebabkan faktor genetik.
  • Usia: Risiko stroke meningkat dengan bertambahnya usia, terutama setelah usia 55 tahun.
  • Jenis Kelamin: Perempuan memiliki risiko sedikit lebih tinggi daripada pria.
  • Merokok: Merokok meningkatkan risiko stroke secara signifikan.
  • Penyakit medis yang mendasari: Penderita hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, fibrilasi atrium, dan menyempitnya (stenosis) arteri karotid yang mengarah ke otak memiliki peningkatan risiko stroke yang signifikan. Gangguan ini harus dicegah atau diobati dengan tepat.
  • Penyalahgunaan obat dan alkohol, terutama penyalahgunaan kokain.
  • Kurang gizi: Pola makan tinggi lemak, tinggi sodium dan kurangnya nutrisi penting, seperti asam folat, telah dihubungkan dengan peningkatan risiko untuk stroke.
  • Gaya hidup kurang gerak: orang yang jarang melakukan aktivitas fisik memiliki risiko stroke.

Diagnosa

  • Jika stroke dicurigai, perhatian medis yang cepat dan rawat inap diperlukan.
  • Evaluasi dimulai dengan sejarah rinci dan pemeriksaan fisik. Beberapa tes medis diperlukan untuk menentukan apakah stroke telah terjadi dan untuk memeriksa kemungkinan penyebab. Tes-tes ini mungkin termasuk tes darah, elektrokardiogram (EKG), dan CT scan atau MRI kepala.
  • Pada orang yang beresiko untuk stroke, atau yang telah mengalami serangan iskemik transien, evaluasi tersebut diperlukan untuk menentukan risiko stroke di masa depan. Ini mungkin termasuk ekokardiogram jantung, scan Doppler terhadap arteri karotid di leher, atau magnetic resonance angiogram (MRA) dari arteri karotis.

Pengobatan

  • Penanganan darurat stroke meliputi oksigen tambahan, cairan intravena, aspirin, dan obat antihipertensi.
  • Dalam beberapa kasus, agen trombolitik, atau obat “penghilang-gumpalan”, digunakan untuk melarutkan bekuan yang menyumbat arteri di otak. Obat ini hanya dapat digunakan dalam beberapa jam setelah onset stroke, dan hanya pada pasien tertentu. Pasien yang berisiko mengalami perdarahan tidak memenuhi syarat.
  • Operasi mungkin diperlukan dalam beberapa kasus, seperti dalam kasus perdarahan otak, aneurisma pecah, atau penyempitan arteri karotis.
  • Sebagian besar kasus stroke dapat dicegah. Perubahan gaya hidup yang secara signifikan dapat mengurangi risiko stroke termasuk berhenti merokok, penurunan berat badan, penurunan tekanan darah dan kolesterol, dan pengendalian gula darah. Dalam banyak kasus, pola makan sehat dan olahraga teratur dapat menormalkan berat badan, kolesterol, tekanan darah, dan gula darah.
  • Dalam beberapa kasus, obat mungkin diperlukan. Yang paling umum adalah obat untuk mengontrol tekanan darah dan kolesterol, dan obat yang “mengencerkan” darah, seperti aspirin, coumadin, dan clopidogrel.
  • Pasien dengan aterosklerosis pada arteri karotid di leher mungkin memerlukan prosedur bedah, endarterektomi, untuk membuka kembali aliran darah. Prosedur ini relatif sederhana dan secara signifikan dapat mengurangi risiko stroke di masa depan.

Langkah-langkah berikut merupakan kunci untuk mencegah stroke:

shutterstock.com

Mengurangi lemak makanan dan kolesterol. Individu dengan konsentrasi kolesterol darah yang lebih tinggi cenderung memiliki risiko lebih besar terkena stroke. Studi menunjukkan bahwa pria dan wanita yang mengkonsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol-yang meningkatkan konsentrasi kolesterol darah-memiliki peningkatan risiko stroke.

Sumber utama makanan yang mengandung lemak jenuh adalah produk hewani (daging, produk susu, telur) dan minyak tropis (minyak sawit, minyak kelapa). Kolesterol, yang tidak sama dengan lemak, hanya ditemukan pada produk turunan hewan (daging, produk susu, dan telur). Pola makan vegan yang rendah lemak menyebabkan penurunan lemak jenuh paling dramatis.

123rf.com

Diet seimbang dengan banyak buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian. Makan lebih banyak buah dan sayuran berkaitan dengan penurunan risiko stroke. Makanan sehat ini dapat menggantikan produk hewani yang tinggi lemak, tinggi kolesterol. Buah dan sayuran juga menyediakan nutrisi penting, termasuk karotenoid, vitamin C, vitamin E, dan folat, yang semuanya telah dikaitkan dengan menurunnya risiko stroke pada studi epidemiologi. Buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian (misalkan beras merah) juga memberikan serat, yang berhubungan dengan risiko lebih rendah untuk penyakit stroke dan lainnya.

Mengkonsumsi lebih sedikit natrium dan lebih banyak kalium. Telah diketahui bahwa natrium (yaitu, garam) dalam makanan meningkatkan risiko hipertensi, yang meningkatkan risiko stroke. Penelitian telah menunjukkan bahwa menurunkan asupan natrium dalam makanan akan mengurangi risiko mengalami stroke, serta risiko kematian akibat stroke. Makanan yang cenderung memiliki tingkat tinggi natrium termasuk makanan yang diproses dan dikemas, beberapa makanan kaleng, “makanan cepat saji,” makanan yang dipanggang, daging dan ikan asin atau asap, dan banyak sereal sarapan.

Sebaliknya, kalium bermanfaat. Meningkatkan asupan kalium menurunkan risiko terserang stroke dan meninggal karena stroke. Buah dan sayuran adalah sumber terbaik kalium.

Mempertahankan berat badan yang sehat. Mempertahankan berat badan yang sehat mengurangi risiko stroke.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan kunjungi link Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) berikut ini :

http://www.nutritionmd.org/consumers/neurology/stroke.html

Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) adalah organisasi nirlaba yang berbasis di Washington, DC., AS dan beranggotakan lebih dari 6.000 dokter yang tertarik dalam peran nutrisi pada kesehatan. Hubungi PCRM pada alamat berikut : Physicians Committee for Responsible Medicine, 5100 Wisconsin Ave., N.W., Ste.400, Washington DC, 20016, Phone: 202-686-2210     Email: pcrm@pcrm.org