123rf.com

Asma adalah penyakit pernapasan kronis yang ditandai dengan peradangan dan penyumbatan saluran nafas, menyebabkan sesak napas, mengik, sesak dada, dan batuk. Pada kasus berat, gejala tambahan mungkin termasuk kesulitan mengambil napas dalam-dalam dan kesulitan menyelesaikan kalimat.

Asma biasanya dipicu oleh zat penyebab alergi. Pemicu lainnya termasuk infeksi saluran pernapasan, menghirup zat yang menyebabkan iritasi (khususnya paparan pada saat bekerja dan tembakau), stres, olahraga, suhu dingin, dan obat-obatan (misalnya beta-blocker, aspirin, dan obat anti radang seperti ibuprofen).

Sekitar 5 persen orang di Amerika Serikat menderita asma. Meskipun penyakit ini sering dimulai pada masa kecil, hingga 40 persen pasien pertama terkena asma saat dewasa. Peningkatan global asma selama 30 tahun terakhir telah dikaitkan dengan perubahan iklim, paparan terhadap zat penyebab alergi, urbanisasi, dan polusi udara, di antara faktor-faktor lain, tetapi alasan yang akurat atas peningkatan ini tidak jelas.

Asma lebih umum terjadi di negara maju sehingga dicurigai faktor makanan, paparan kimia, atau terlalu sering menggunakan antibiotik yang menjadi penyebabnya. Sementara polusi udara diketahui menyebabkan serangan asma mendadak, masih belum jelas apakah hal itu yang menjadi penyebab munculnya penyakit ini.

Jenis-Jenis Asma

  • Asma intermiten ringan: Gejala terjadi hanya sesekali. Tipe ini diobati sesuai kebutuhan dengan obat hisap, seperti albuterol, yang melebarkan saluran udara.
  • Asma persisten ringan: Gejalanya ringan, namun terjadi secara teratur. Tipe ini diobati dengan penggunaan sehari-hari steroid inhalasi, bersama dengan albuterol bila gejala terjadi. Steroid inhalasi telah terbukti menurunkan resiko serangan mendadak dan rawat inap, dan mengurangi kebutuhan terhadap albuterol. Obat Umum steroid yang dihirup termasuk budesonide, fluticasone, triamcinalone, dan beclomethasone.
  • Asma persisten sedang: Gejalanya lebih berat dan terjadi secara teratur. Tipe ini diobati dengan dosis harian steroid inhalasi yang meningkat, selain obat lain (misalnya, salmeterol, montelukast, teofilin, dan kromolin) serta albuterol saat serangan mendadak. Kegagalan untuk mengontrol gejala dengan menggunakan dua dari obat atas menunjukkan individu mungkin memiliki asma berat atau mungkin diagnosis lain.
  • Asma berat: asma berat memerlukan dosis tinggi steroid inhalasi atau steroid oral, bersama dengan obat pengontrol lainnya. Jenis penyakit ini serius, dan pasien mungkin sering memerlukan rawat inap.

Faktor Risiko

Pada anak-anak, asma terjadi lebih sering pada anak laki-laki. Di antara orang dewasa, penyakit ini paling umum mengenai wanita di atas 40 tahun. Ras Afrika-Amerika cenderung memiliki penyakit yang lebih parah, dibandingkan dengan ras kulit putih.

Faktor risiko lain termasuk:

  • Penyakit alergi lain (misalnya, eksim atau alergi makanan)
  • Riwayat keluarga: Sekitar 75 persen anak-anak dengan dua orang tua penderita asma juga memiliki asma.
  • Faktor lingkungan dan pekerjaan: Faktor-faktor ini termasuk asap rokok, bulu binatang, tungau debu, tanaman, serbuk sari, jamur, enzim, bahan kimia, dan logam.
  • Obesitas: Sebuah penelitian besar, Nurses’ Health Study II, mengungkapkan bahwa wanita dengan indeks massa badan tertinggi memiliki risiko terbesar asma. Yang paling gemuk memiliki risiko hampir tiga kali, dibandingkan dengan individu dengan berat badan normal. Studi lain menunjukkan penurunan keparahan asma dan kontrol untuk mereka yang telah mengurangi berat badan.

Diagnosa

  • Evaluasi dimulai dengan sejarah medis dan pemeriksaan fisik.
  • Tes Paru digunakan untuk mendiagnosa asma. Individu diminta untuk meniup kuat-kuat ke dalam tabung dan kekuatan pernafasan diukur oleh komputer. Selama serangan mendadak atau pada pasien yang telah menderita asma selama bertahun-tahun, tes dapat menunjukkan kekuatan pernafasan yang menurun, obstruksi aliran udara, dan penurunan ruang paru-paru.
  • Tes darah kadang-kadang dianjurkan, terutama pada kasus yang berat yang memerlukan rawat inap.
  • Pengujian kulit dapat digunakan untuk mengidentifikasi alergen yang dapat menyebabkan serangan mendadak.

Pengobatan

Dengan manajemen asma yang optimal, individu tidak akan memiliki gejala atau pembatasan olahraga, tidak ada serangan mendadak atau kebutuhan steroid oral, tidak perlu untuk inhaler albuterol, dan, secara keseluruhan, obat dan efek samping yang minimal.

  • Berhenti merokok dan menghindari daerah yang sangat tercemar bermanfaat.
  • Obat yang umum digunakan antara lain obat steroid, albuterol, salmeterol, leukotriene antagonis (misalnya montelukast), dan teofilin. Selain itu, omalizumab adalah obat baru yang mungkin berguna untuk individu dengan asma stadium lanjut. Secara umum, steroid inhalasi adalah obat yang paling penting, dengan penggunaan tambahan albuterol selama serangan mendadak.

Diet Asma

123rf.com

Memelihara berat badan yang sehat: Seperti disebutkan di atas, penelitian telah menemukan bahwa berat badan yang lebih tinggi meningkatkan risiko asma pada anak-anak dan orang dewasa.

Memodifikasi asupan asam lemak: tinjauan dan studi terbaru telah menemukan asam lemak omega-6 (yang ditemukan dalam produk hewan dan margarin serta minyak nabati lainnya) sebagai faktor risiko untuk asma. Konsumsi asam lemak ini telah meningkat dalam masyarakat Barat bersama dengan peningkatan kejadian asma. Penelitian telah melihat konsumsi margarin sebagai faktor risiko untuk asma di orang dewasa muda dan populasi orang dewasa yang lebih tua. Selain itu, asupan tinggi asam lemak omega-6 yang dibandingkan dengan asam lemak omega-3 dikaitkan dengan risiko asma pada anak.

Menghindari makanan asin: Fungsi paru tampaknya membaik dengan diet rendah garam. Pada orang dengan asma yang timbul setelah olahraga, mengikuti diet rendah garam (1.500 miligram per hari natrium) mengurangi keparahan asma secara signifikan.

123rf.com

Memperbanyak buah-buahan, sayuran, dan makanan lain yang tinggi antioksidan: Beberapa studi telah menemukan hubungan antara asupan buah dan sayuran yang lebih tinggi dan penurunan risiko asma. Dalam beberapa penelitian, pasien dengan asma ditemukan memiliki asupan makanan rendah antioksidan. Nurses’ Health Study menemukan bahwa wanita yang memiliki asupan vitamin E tertinggi dari makanan (bukan dari suplemen) memiliki risiko 47 persen lebih rendah terkena asma pada masa dewasa dibandingkan mereka yang memiliki asupan terendah. Penelitian lain juga menemukan bahwa suplemen antioksidan dalam bentuk karotenoid (dosis tinggi beta-karoten, lycopene, dan karotenoid lain) atau kombinasi vitamin C dan vitamin E secara signifikan memperbaiki asma yang kambuh saat olahraga.

Menghindari makanan, minuman, dan pengawet yang menyebabkan alergi: Asma yang dipicu makanan  menyerang 2 sampai 24 persen orang dengan asma. Makanan yang paling sering terlibat sebagai pemicu antara lain kacang tanah, susu, telur, kedelai, gandum, polong-polongan, dan ayam kalkun. Kehadiran kedua bahan kimia sulfur dan histamin dalam anggur dapat memperburuk asma, dan beberapa studi telah menemukan bahwa asma dapat muncul karena teh hijau. Menghindari makanan yang memicu memperbaiki fungsi paru-paru pada anak-anak asma.

Ketika produk susu dihilangkan dari diet, kalsium dapat diperoleh dari kalsium susu kedelai yang diperkaya atau jus, sayuran berdaun hijau, kacang-kacangan, dan tahu. Tes alergi harus dipertimbangkan pada individu yang tampaknya mengalami serangan asma terkait dengan makanan tertentu atau kelompok makanan.

Alternatifnya, individu dapat mencoba untuk menentukan apakah suatu makanan memicu asma dengan menghilangkan semua makanan umum yang berpotensi menyebabkan alergi dan kemudian memperkenalkan kembali mereka satu per satu. Pasien harus menyimpan catatan yang cermat dari asupan makanan dan perubahan dalam frekuensi gejala untuk mengkonfirmasi bahwa makanan yang diberikan menimbulkan serangan mendadak asma.

Pola makan vegetarian dan vegan: Dalam sebuah penelitian terhadap 27.766 vegetarian, wanita vegetarian melaporkan insiden asma yang lebih rendah, dibandingkan dengan wanita pada diet nonvegetarian. Dasar teoritis untuk nilai diet vegan adalah tidak adanya pemicu yang potensial, khususnya produk susu dan telur. Dalam percobaan klinis lain terhadap pola makan vegan, 22 dari 24 pasien asma mencatat perbaikan yang signifikan dalam fungsi paru-paru setelah satu tahun menjalani diet vegan.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan kunjungi link Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) berikut ini :

http://www.nutritionmd.org/consumers/respiratory/asthma.html

Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) adalah organisasi nirlaba yang berbasis di Washington, DC., AS dan beranggotakan lebih dari 6.000 dokter yang tertarik dalam peran nutrisi pada kesehatan. Hubungi PCRM pada alamat berikut : Physicians Committee for Responsible Medicine, 5100 Wisconsin Ave., N.W., Ste.400, Washington DC, 20016, Phone: 202-686-2210     Email: pcrm@pcrm.org