123rf.com

Gastritis dan Ulkus Peptikum (Maag)

Gastritis dan ulkus peptikum biasa dikenal masyarakat dengan penyakit maag. Gastritis mengacu pada iritasi dan radang pada lapisan dinding lambung. Ulkus peptikum adalah adanya luka yang dalam (erosi) di dalam dinding lambung. Gastritis dan ulkus peptikum menyerang hingga 50 persen populasi dewasa di negara-negara Barat.

Penyakit-penyakit ini terjadi akibat gangguan ketidakseimbangan di antara asam lambung, yang mengiritasi lapisan lambung, dan selaput lendir lambung, yang melindungi lapisan lambung.

Di masa lalu, gastritis dan ulkus peptikum dianggap disebabkan oleh stres atau emosi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, para peneliti telah menemukan bahwa, sementara stres berperan pada sebagian kecil kasus, infeksi oleh bakteri yang disebut Helicobacter pylori, atau H. pylori, adalah penyebab sebagian besar kasus di seluruh dunia. Bakteri ini merusak selaput lendir lambung yang bersifat pelindung, membuat lambung lebih rentan terhadap kerusakan oleh asam lambung dan mengalami peradangan.

Penyebab tambahan umum gastritis dan ulkus peptikum adalah obat anti-peradangan (NSAID), seperti ibuprofen, naproxen, dan lainnya. Penyebab lainnya termasuk aspirin, steroid, alkohol, rokok, trauma parah atau luka bakar, dan operasi besar.

Gejala

  • Nyeri perut bagian atas, yang mungkin juga dirasakan di punggung
  • Mual dan muntah
  • Penurunan berat badan dan kehilangan nafsu makan
  • Gangguan pencernaan
  • Dalam kasus lebih berat, ketika tukak menyebabkan pendarahan dari perut, gejala yang timbul antara lain muntah darah, perdarahan rektum, tinja berwarna hitam gelap, dan anemia
  • Sakit parah mendadak mungkin menandakan perforasi (adanya lubang di dalam lambung/usus), yang memerlukan pembedahan darurat.

Faktor Risiko

  • Bertambahnya usia: Tukak biasanya terjadi pada individu lebih dari 40 tahun.
  • Infeksi Helicobacter pylori: Satu dari enam orang yang terkena bakteri ini akan terkena tukak atau maag.
  • Obat anti peradangan non-streoid (contoh ibuprofen)
  • Merokok: Nikotin meningkatkan produksi asam dan mengurangi lapisan lendir pelindung lambung
  • Mengkonsumsi alkohol: Alkohol dapat menyebabkan gastritis dengan meningkatkan sekresi asam dan merusak selaput lendir lambung
  • Pembedahan besar atau penyakit berat
  • Riwayat keluarga: Lebih dari 25 persen pasien ulkus peptikum memiliki riwayat keluarga yang menderita tukak lambung, dibandingkan dengan 5 persen dari non-ulkus pasien.

Diagnosa

  • Evaluasi dimulai dengan sejarah medis dan pemeriksaan fisik.
  • Tes darah dapat membantu, terutama jika diduga ada anemia.
  • Tes terbaik untuk mendiagnosis gastritis dan ulkus peptikum adalah endoskopi lambung. Pada tes ini, tabung tipis dengan kamera di ujungnya perlahan-lahan maju melalui mulut dan tenggorokan dan masuk ke perut. Cara ini memungkinkan untuk visualisasi langsung lapisan perut dan untuk biopsi untuk mengevaluasi infeksi H. pylori dan kanker.
  • Sinar-X juga dapat digunakan, tetapi ini kurang akurat dibandingkan endoskopi.

Pengobatan

  • Faktor-faktor yang meningkatkan risiko harus dihindari. Ini termasuk merokok, konsumsi alkohol, obat anti-inflamasi (misalnya ibuprofen), aspirin, dan steroid.
  • Terapi antasid untuk mengurangi produksi asam adalah pengobatan yang paling umum. Ada beberapa jenis antasida, termasuk obat antasid yang dijual bebas (misalnya Maalox, Mylanta, Rolaids, dan Tums), blocker reseptor histamin-2 (H2) (misalnya simetidin dan ranitidin), dan inhibitor pump proton (misalnya omeprazole).
  • Penting untuk mengobati infeksi H. pylori, jika ada. Menghilangkan H. pylori mengurangi risiko kekambuhan 50-80 persen menjadi kurang dari 10 persen, dan juga mengurangi kemungkinan komplikasi, seperti pendarahan. Beberapa obat antibiotik tersedia (misalnya klaritromisin, amoksisilin, metronidazole, dan tetrasiklin). Sebagian besar kasus diobati dengan kombinasi dari dua atau tiga antibiotik untuk memastikan bahwa H. pylori tersingkirkan.
  • Pembedahan mungkin diperlukan untuk kasus yang parah.
  • Tekanan psikologis harus diatasi untuk memastikan pengobatan yang berhasil. Dibandingkan dengan orang sehat, pasien dengan maag sangat mungkin untuk merespon stres dengan memproduksi asam lambung secara berlebihan, sebanyak 10 sampai 20 kali lipat dari tingkat normal. Depresi, kecemasan, dan stres hidup berkelanjutan telah terbukti menurunkan penyembuhan maag, sedangkan individu yang secara psikologis stabil yang terkena maag selama periode stres cenderung tetap bebas dari gejala setelah pengobatan.
  • Olahraga dapat menurunkan risiko gastritis dan penyakit ulkus. Olahraga mengurangi sekresi asam lambung, dan beberapa bukti menunjukkan secara signifikan menurunkan risiko tukak lambung dan pendarahan hebat pada orang dengan tukak lambung.

Diet Lambung

123rf.com

Selama beberapa dekade, dokter telah merekomendasikan perubahan pola makan untuk mencegah atau mengobati gastritis dan ulkus peptikum. Saran umum antara lain menghindari makanan pedas, kopi, dan alkohol, atau meningkatkan konsumsi makanan lunak dan susu. Sementara saran ini tampak masuk akal, beberapa tidak terbukti baik dalam eksperimen terkontrol. Misalnya, konsumsi susu cenderung menaikkan produksi asam lambung. Dan meskipun rempah-rempah tertentu (lada hitam, bubuk cabai, dan merica merah) dapat menyebabkan gangguan pencernaan, mereka belum terbukti memberikan kontribusi baik pada gastritis maupun ulkus peptikum.

Faktor-faktor berikut telah dikaitkan dengan penurunan risiko gastritis atau ulkus peptikum dalam studi epidemiologi:

123rf.com

Diet tinggi serat: Sebuah studi besar di Harvard School of Public Health menemukan bahwa pola makan tinggi serat dikaitkan dengan penurunan risiko tukak lambung. Selama periode enam tahun, risikonya adalah 45 persen lebih rendah bagi mereka dengan asupan serat tertinggi, dibandingkan dengan mereka dengan asupan serat terendah. Sumber serat larut (sereal, kacang, buah-buahan, dan sayuran tertentu) adalah pelindung pokok, yang menurunkan risiko masalah lambung hingga 60 persen.

Diet tinggi vitamin A: Dalam studi Harvard yang sama, asupan total vitamin A (dari makanan dan suplemen) dikaitkan dengan risiko yang lebih rendah. Risikonya 54 persen lebih rendah di antara orang mengkonsumsi vitamin A paling banyak, dibandingkan dengan mereka yang mengkonsumsi paling sedikit.

Teh hijau: Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi teh hijau secara teratur dikaitkan dengan risiko 40 sampai 50 persen lebih rendah untuk gastritis. Tes seluler menunjukkan bahwa katekin dalam teh hijau dapat berperan sebagai antioksidan dan antibakteri untuk menekan bakteri H. pylori.

Menghindari alkohol: Penyalahgunaan alkohol kronis memperbesar risiko infeksi H. pylori dan juga memperlambat laju penyembuhan dalam tukak lambung yang ada.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan kunjungi link Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) berikut ini :

http://www.nutritionmd.org/consumers/gastrointestinal/gastritis.html

Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) adalah organisasi nirlaba yang berbasis di Washington, DC., AS dan beranggotakan lebih dari 6.000 dokter yang tertarik dalam peran nutrisi pada kesehatan. Hubungi PCRM pada alamat berikut : Physicians Committee for Responsible Medicine, 5100 Wisconsin Ave., N.W., Ste.400, Washington DC, 20016, Phone: 202-686-2210     Email: pcrm@pcrm.org