123rf.com

Dismenore, atau masyarakat mengenalnya sebagai nyeri haid, adalah istilah medis untuk kram menstruasi yang cukup berat sehingga mengganggu fungsi normal seorang wanita. Dismenore merupakan keluhan ginekologi yang paling umum, yang mempengaruhi setidaknya 50 persen wanita yang mengalami menstruasi. Satu sampai 2 persen dari wanita mengalami gejala yang berat, yang membuatnya tidak mampu beraktivitas.

Dismenore Primer – nyeri haid yang terjadi saat tidak adanya penyakit yang mendasari – diperkirakan berhubungan dengan pelepasan hormon yang disebut prostaglandin selama menstruasi, yang dapat menyebabkan kontraksi uterus yang berlebihan. Nyeri haid ini paling parah pada awal periode menstruasi dan berlangsung selama 12 sampai 72 jam. Nyeri datang seperti gelombang dan membuat kram serta dapat menyebar ke punggung. Gejala yang menyertainya termasuk mual, muntah, diare, kelelahan, sakit kepala, dan sesak napas.

Dismenore Sekunder disebabkan oleh penyakit pelvik, seperti endometriosis, fibroid, infeksi pelvik, pembedahan sebelumnya, atau stenosis serviks. Rasa sakit dari dismenore sekunder biasanya dimulai lebih awal dalam siklus menstruasi dan berlanjut hingga melewati akhir masa menstruasi. Gejala tambahan dapat hadir tergantung pada penyakit yang mendasarinya.

Faktor Risiko

Faktor-faktor berikut yang berhubungan dengan risiko dismenore primer. Faktor risiko untuk dismenore sekunder tergantung pada penyakit yang mendasarinya.

  • Umur: Nyeri yang paling kuat terjadi selama masa remaja dan biasanya semakin menurun dengan usia.
  • Gaya hidup tidak aktif

Faktor-faktor yang mengurangi risiko dismenore termasuk penggunaan pil kontrasepsi oral dan kehamilan sebelumnya.

Diagnosa

  • Riwayat lengkap dan pemeriksaan fisik penting untuk semua pasien, termasuk riwayat menstruasi, ginekologi, seksual, dan diet. Pemeriksaan perut, panggul, dan rektal dapat mengungkapkan kondisi yang menjadi penyebab nyeri haid.
  • Pengujian laboratorium mungkin termasuk tes kehamilan, Pap smear, analisis urin, dan tes darah.
  • Pengujian untuk penyakit menular seksual, termasuk kultur untuk Gonore dan Klamidia, biasanya dilakukan. Namun, kultur negatif tidak menyingkirkan infeksi pelvik.
  • USG panggul dan vagina mungkin diperlukan untuk memeriksa kelainan yang mendasari, seperti fibroid.
  • Dalam beberapa kasus, operasi laparoskopi mungkin diperlukan untuk diagnosis dan penyingkiran kemungkinan fibroid, endometriosis, kista, atau gangguan perut atau panggul lainnya.

Terapi

Dismenore primer memerlukan pendekatan multidisiplin yang mungkin termasuk medis, gaya hidup, dan intervensi gizi.

  • Intervensi Gizi, seperti pola makan vegan rendah lemak, vitamin E, magnesium, dan suplemen lainnya, penurunan alkohol dan asupan kafein, dan penurunan berat badan dapat berguna (lihat Makanan Pereda Nyeri Haid di bawah).
  • Olahraga teratur mengurangi konsentrasi estrogen darah, yang diperkirakan mengurangi risiko dismenore. Dalam beberapa penelitian, wanita yang berolahraga tampak memiliki gejala menstruasi yang lebih ringan, dibandingkan dengan wanita yang tidak berolahraga.
  • Berhenti merokok dapat membantu.
  • Panas yang diarahkan pada perut bagian bawah dapat sama efektifnya dengan acetaminophen (Tylenol) dan ibuprofen untuk menghilangkan nyeri haid.
  • Akupunktur dan stimulasi saraf listrik mungkin bermanfaat. Bukti terbatas dari percobaan terkontrol menunjukkan bahwa akupunktur menghasilkan pengurangan nyeri yang signifikan dan mengurangi kebutuhan untuk obat nyeri.
  • Obat anti-inflamasi non-steroid (misalnya ibuprofen dan naproxen) sering efektif dalam mengobati rasa sakit. Pengobatan lebih efektif jika dimulai sebelum timbulnya gejala dan dilanjutkan sepanjang masa menstruasi.
  • Pil kontrasepsi oral sering efektif.
  • Wanita yang tidak memberi respon terhadap obat-obatan harus dipertimbangkan untuk terapi endometriosis.
  • Dalam kasus dismenore sekunder, pengobatan didasarkan pada masalah yang mendasarinya. NSAID dan pil kontrasepsi oral dapat berguna pada beberapa pasien.

Makanan Pereda Nyeri Haid

Bukti mendukung peran perubahan pola makan yang mengubah konsentrasi estrogen atau aktivitas estrogen. Intervensi ini juga melibatkan penghambatan hormon (prostaglandin) yang menyebabkan kontraksi otot-otot rahim.

  • shutterstock.com

    Pola makan vegetarian rendah lemak dapat mengurangi gejala dismenore: Pola makan nabati yang tinggi serat, berhubungan dengan berkurangnya konsentrasi estrogen dalam darah. Dalam uji coba terkontrol-plasebo, pola makan vegan rendah lemak terbukti mengurangi durasi dan keparahan nyeri haid. Agar efektif, pola makan ini harus diikuti dengan cermat, termasuk tidak mengkonsumsi produk hewani dan tambahan minyak. Aspek lain yang protektif dari pola makan ini adalah pola makan ini tinggi kandungan fitoestrogen. Pola makan vegetarian juga memiliki jumlah asam lemak omega-3 yang lebih tinggi, yang dapat meredakan peradangan.

  • Suplemen diet: Sebuah tinjauan yang dipublikasikan mendukung penggunaan tiamin, magnesium, dan vitamin E dalam pengobatan dismenore. Sebuah uji coba terkontrol terbaru dari vitamin E menghasilkan kesimpulan yang sama.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan kunjungi link Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) berikut ini :

http://www.nutritionmd.org/consumers/gynecology/dysmenorrhea.html

Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) adalah organisasi nirlaba yang berbasis di Washington, DC., AS dan beranggotakan lebih dari 6.000 dokter yang tertarik dalam peran nutrisi pada kesehatan. Hubungi PCRM pada alamat berikut : Physicians Committee for Responsible Medicine, 5100 Wisconsin Ave., N.W., Ste.400, Washington DC, 20016, Phone: 202-686-2210     Email: pcrm@pcrm.org