123rf.com

Lapisan dalam rahim atau badan rahim dikenal sebagai endometrium. Masyarakat awam mengenal kanker endometrium sebagai kanker kandungan. Kanker endometrium merupakan kasus terbesar, sekitar 90 persen, dari kanker rahim. Ini adalah kanker ginekologi yang paling umum di Amerika Serikat, tercatat sekitar 40.000 kasus per tahun.

Gejala

Gejala yang paling umum adalah pendarahan vagina yang abnormal. Bahkan, pendarahan vagina dalam setiap perempuan pascamenopause harus dianggap sebagai akibat kanker endometrium sampai terbukti sebaliknya. Gejala lain termasuk sakit perut, nyeri saat buang air kecil, dan nyeri selama hubungan seksual.

Meskipun tidak ada penyebab yang diketahui untuk penyakit ini, banyak kasus yang berhubungan dengan kelebihan kadar estrogen.

Lima-tahun bertahan hidup atas kanker endometrium banyak dijumpai, terutama dengan adanya deteksi dini dan pengobatan.

Faktor Risiko

Meskipun kanker endometrium lebih umum ditemui pada ras Kaukasia, ras Afrika-Amerika sering memiliki hasil yang lebih buruk atas penyakit ini. Faktor-faktor berikut juga terkait dengan risiko:

  • Obesitas: Mayoritas orang didiagnosis dengan kanker endometrium pada usia muda mengalami obesitas, dan beberapa studi telah menemukan bahwa kelebihan berat badan dan memiliki tingkat aktivitas fisik yang rendah merupakan faktor risiko yang kuat terkena kanker endometrium. Hubungan antara obesitas dan kanker dapat dijelaskan oleh tingkat estrogen yang meningkat pada orang gemuk.
  • Umur: Risiko kanker endometrium meningkat dengan usia. Kanker ini paling umum mengenai perempuan lebih dari 50 tahun.
  • Terapi Pengganti Hormon: Terapi estrogen pada wanita menopause meningkatkan risiko kanker endometrium. Namun, penggunaan gabungan antara estrogen dan progestin tidak terkait dengan peningkatan risiko.
  • Diabetes
  • Hipertensi
  • Sindrom ovarium polikistik
  • Paparan estrogen yang berkepanjangan:  menstruasi dini, awal menopause terlambat, dan tidak adanya kehamilan, semuanya mengakibatkan paparan estrogen yang meningkat selama masa dewasa. Hal ini dapat meningkatkan risiko kanker endometrium.
  • Tumor yang mensekresi-estrogen atau riwayat kanker yang responsif terhadap estrogen (misalnya, kanker payudara) meningkatkan risiko.

Penggunaan pil KB, multiparitas (ibu yang telah melahirkan banyak anak), dan olahraga dianggap sebagai pelindung.

Diagnosa

  • Riwayat medis dan pemeriksaan fisik, termasuk Pap smear, adalah langkah-langkah pertama.
  • Biopsi endometrium diperlukan jika ada kemungkinan kanker endometrium.
  • Pengujian lebih lanjut, termasuk histeroskopi, dilatasi dan kuretase, atau USG transvaginal, mungkin diperlukan dalam beberapa kasus ketika diagnosis diragukan.

Terapi

Operasi, terapi radiasi, kemoterapi, dan terapi hormon semuanya dapat menjadi bagian dari rejimen terapi. Pada akhirnya, histerektomi dengan pengangkatan seluruh rahim dan ovarium diperlukan dalam hampir semua kasus.

Pola Makan Pencegah Kanker Endometrium atau Kanker Kandungan

Seperti banyak kanker, risiko kanker endometrium tampak terkait dengan asupan yang lebih besar dari makanan yang ditemukan dalam makanan Barat, termasuk produk-produk hewani dan karbohidrat olahan. Risiko tampaknya lebih rendah di antara wanita yang pola makannya tinggi dalam buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh (misalkan beras merah), dan kacang-kacangan. Resiko yang lebih rendah pada orang yang menjalankan pola makan nabati terkait dengan berkurangnya hormon bebas yang beredar dalam darah atau efek perlindungan dari nutrisi mikro yang ditemukan dalam pola makan ini.

123rf.com

Makan sedikit daging dan lemak: Studi menemukan risiko 50 persen lebih besar terkena kanker endometrium pada wanita yang mengkonsumsi jumlah terbesar dari daging olahan dan ikan. Konsumsi daging merah dan telur juga dikaitkan dengan risiko yang lebih besar.

Asupan tinggi lemak, terutama lemak jenuh, terkait dengan peningkatan risiko 60 sampai 80 persen. Beberapa bukti menunjukkan bahwa hubungan ini terjadi karena pengaruh lemak makanan pada berat badan dan estrogen.

123rf.com

Buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan: Meskipun temuan ini terbatas, bukti menunjukkan bahwa sayur, buah, dan nutrisi yang terkandung dalam makanan ini (misalnya vitamin C, berbagai karotenoid, folat, dan pitosterol) berhubungan dengan penurunan risiko terkena kanker endometrium – dapat sebanyak 50 sampai 60 persen risiko lebih rendah.

Hubungan terbalik antara asupan biji-bijian utuh (misalkan beras merah) dan kanker endometrium telah diamati. Individu dengan asupan tertinggi dari biji-bijian utuh tampak memiliki risiko terendah, dan sebaliknya. Konsumsi yang lebih tinggi dari kacang kedelai dan lainnya yang berhubungan dengan penurunan risiko.

Sebagian besar kacang, sayuran, dan buah-buahan, dan beberapa biji-bijian utuh memiliki indeks glikemik rendah (peringkat tentang bagaimana makanan yang mengandung karbohidrat mempengaruhi gula darah; makanan dengan indeks glikemik rendah meningkatkan gula darah hanya sedikit, dibandingkan dengan makanan dengan indeks glikemik tinggi). Penelitian telah menunjukkan bahwa perempuan yang mengkonsumsi makanan dengan indeks-glisemik-lebih rendah memiliki risiko lebih rendah terkena kanker endometrium, dibandingkan dengan mereka yang mengkonsumsi lebih banyak makanan dengan indeks-glisemik-tinggi (misalnya, gula dan roti putih).

Untuk informasi lebih lengkap, silakan kunjungi link Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) berikut ini :

http://www.nutritionmd.org/consumers/oncology/endometrial_cancer.html

Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) adalah organisasi nirlaba yang berbasis di Washington, DC., AS dan beranggotakan lebih dari 6.000 dokter yang tertarik dalam peran nutrisi pada kesehatan. Hubungi PCRM pada alamat berikut : Physicians Committee for Responsible Medicine, 5100 Wisconsin Ave., N.W., Ste.400, Washington DC, 20016, Phone: 202-686-2210     Email: pcrm@pcrm.org