BPH

Shutterstock.com

Benign prostatic hyperplasia (BPH) adalah pertumbuhan berlebihan sel-sel prostat. Ini adalah tumor jinak yang paling umum ditemui pada pria. Ini bukan kanker, tetapi dapat menyebabkan ketidaknyamanan yang signifikan.

Risiko BPH meningkat seiring dengan pertambahan usia, naik dari 8 persen pada usia tiga puluhan menjadi 40 sampai 50 persen pada usia lima puluh tahunan, hingga lebih besar dari 90 persen pada usia sembilan puluh tahun. BPH melibatkan banyak faktor, termasuk testosteron, estrogen, dan hormon lainnya, namun penyebab spesifik belum sepenuhnya jelas.

Gejala yang paling umum adalah tersumbatnya aliran urin, yang dapat mengakibatkan air seni keluar tidak lancar atau menetes, merasa harus buang air kecil terus-menerus, dan kebutuhan untuk buang air kecil beberapa kali saat malam hari.

Faktor Risiko

Faktor-faktor berikut ini dikaitkan dengan peningkatan risiko BPH:

  • Usia: BPH terjadi lebih umum pada usia lanjut.
  • Riwayat keluarga
  • Obesitas: Obesitas, terutama obesitas pada perut, dapat meningkatkan risiko BPH.
  • Fisik tidak aktif: The Health Professionals Study dan Massachusetts Male Aging Study menemukan tingkat aktivitas fisik yang lebih rendah terkait dengan peningkatan risiko terkena BPH.

Diagnosa

  • Evaluasi akan dimulai dengan riwayat medis dan pemeriksaan fisik. Selama pemeriksaan, pemeriksaan rektal digital biasanya akan mendeteksi pembesaran prostat.
  • Pengujian darah untuk mengukur tingkat antigen spesifik-prostat biasanya dilakukan.
  • Biopsi prostat dan/atau USG mungkin disarankan untuk membantu menyingkirkan kemungkinan kanker dan menegakkan diagnosis BPH.

Pengobatan

Tujuan pengobatan BPH adalah untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.

  • Pengamatan sendiri (“menunggu dengan waspada”) adalah tepat jika gejalanya ringan.
  • Pengobatan medis termasuk penggunaan alpha-blocker (misalnya, prazosin, terazosin, dan doxazosin) dan 5-alpha-reductase inhibitor (misalnya finasteride). Kombinasi dari alpha-blocker dan finasteride tampak berhasil paling baik.
  • Ekstrak tanaman dari saw palmetto (Serenoa repens), pohon palem kerdil Amerika, dan Pygeum africanum (pohon plum Afrika) telah terbukti efektif dalam mengobati gejala-gejala, walaupun mekanisme aksi mereka belum jelas.
  • Operasi mungkin disarankan untuk mengatasi gejala yang parah.

Pola Makan untuk Pencegahan Pembesaran Prostat Jinak (BPH)

Studi penelitian telah menguji hubungan antara faktor diet dengan resiko BPH. Faktor-faktor berikut terkait dengan penurunan risiko dalam studi epidemiologi:

  • shutterstock.com

    shutterstock.com

    Membatasi atau menghindari produk hewani dan minyak nabati: Beberapa studi telah melihat kaitan antara asupan total daging dan produk hewani yang tinggi (terutama daging sapi dan produk susu) dengan BPH. The Health Professionals Follow-Up Study menemukan bahwa konsumsi yang lebih tinggi dalam total protein, protein hewani, asam lemak tak jenuh ganda, dan minyak nabati semuanya terkait dengan BPH.

  • 123rf.com

    123rf.com

    Asupan produk kedelai: Bukti epidemiologi menunjukkan bahwa pria Asia memiliki risiko lebih rendah terkena penyakit prostat daripada pria Barat; perbedaannya tampak terkait sebagian dengan asupan tinggi isoflavon yang ditemukan dalam makanan Asia, khususnya produk kedelai.

  • Asupan energi yang lebih rendah: Beberapa penelitian telah menunjukkan hubungan antara asupan kalori yang lebih tinggi dengan risiko yang lebih besar untuk BPH. The Health Professionals Follow-Up Study melaporkan peningkatan 50 persen dalam risiko BPH pada pria yang mengkonsumsi paling banyak kalori dibandingkan dengan pria yang mengkonsumsi paling sedikit, serta risiko 70 persen lebih tinggi terkena gejala tingkat sedang sampai berat pada pria yang mengkonsumsi paling banyak kalori.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan kunjungi link Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) berikut ini :

http://www.nutritionmd.org/consumers/renal/bph.html (untuk masyarakat umum)

http://www.nutritionmd.org/health_care_providers/renal/bph.html (untuk tenaga medis dan paramedis)

Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) adalah organisasi nirlaba yang berbasis di Washington, DC., AS dan beranggotakan lebih dari 6.000 dokter yang tertarik dalam peran nutrisi pada kesehatan. Hubungi PCRM pada alamat berikut : Physicians Committee for Responsible Medicine, 5100 Wisconsin Ave., N.W., Ste.400, Washington DC, 20016, Phone: 202-686-2210     Email: pcrm@pcrm.org