Oleh Dustin Rudolph, Pharm.D.

Certified in Plant-Based Nutrition

Pursueahealthyyou.com

Pursueahealthyyou.com

Kita semua tahu bahwa diet nabati yang melimpah dalam buah-buahan dan sayuran menciptakan keajaiban untuk kesehatan kita. Penurunan dalam tiga penyakit yang paling banyak dibicarakan dalam hal ini adalah obesitas, penyakit jantung, dan diabetes. Semuanya dapat dicegah atau dibalik hanya dengan mengadopsi kebiasaan makan yang sehat, tetapi ada manfaat besar lain memakan makanan yang sehat – kesehatan mulut yang luar biasa!

Mengikuti pola makan nabati telah terbukti mengurangi bau mulut, mencegah penyakit gingivitis (radang gusi), dan periodontal, dan bahkan mengurangi risiko kanker terkait oral. Berikut ini ulasan lebih dalam mengapa bisa demikian.

Mengalahkan Bau Mulut

Bau mulut, juga dikenal sebagai halitosis, terutama disebabkan oleh pembentukan dan pelepasan senyawa sulfur volatil (VSCs) selama pemecahan protein oleh bakteri [1]. Delapan puluh sampai sembilan puluh persen kasus halitosis berasal di mulut akibat banyaknya partikel makanan tertinggal setelah makan. Bakteri, yang terletak di dalam rongga mulut, kemudian berpesta dengan partikel-partikel makanan. Hal ini terutama terjadi pada individu yang menderita penyakit radang gusi dan periodontal karena bakteri ini dapat ditemukan bersembunyi di bawah jaringan gusi yang sakit. Namun, tempat berkumpul utama bakteri adalah di bagian belakang ketiga di atas permukaan lidah. Bahkan, jumlah bakteri empat kali lipat lebih banyak ditemukan di sana daripada di bagian lain dari mulut [2].

10% – 20% lainnya dari kasus bau mulut berasal dari sumber seperti infeksi, obat-obatan, gagal ginjal, gagal hati, dan penyakit pankreas di antaranya. Pembusukan makanan dalam saluran pencernaan yang lebih rendah juga dapat disalahkan. Gas yang mengandung belerang dari makanan tertentu seperti bawang putih dan bawang merah dapat diserap ke dalam aliran darah dan mengalir menuju paru-paru di mana mereka kemudian dihembuskan melalui mulut dan memproduksi bau busuk. Bau ini bisa bertahan hingga tiga hari setelah mengkonsumsi makanan seperti itu.

pursueahealtyyou.com

pursueahealtyyou.com

Jelas, salah satu cara yang paling penting untuk menghilangkan bau mulut adalah dengan mempraktekkan kebiasaan kebersihan mulut yang baik setiap hari. Menyikat gigi, flossing, dan pembilasan akan membantu mengusir dan membersihkan banyak partikel makanan yang tertinggal setelah makan, sehingga mengurangi jumlah penumpukan plak bagi bakteri untuk memakannya. Selain itu, banyak orang lupa untuk membersihkan lidah mereka. Semua penderita bau mulut harus membuat usaha sadar setiap hari untuk menyikat lidah mereka atau lebih baik lagi menggunakan pengikis lidah untuk menghilangkan akumulasi bakteri yang berada di sana.

Jadi bagaimana dengan makanan? Semua orang tahu bahwa bawang putih, bawang merah, dan rempah-rempah tertentu dapat menyebabkan bau mulut, tetapi bagaimana dengan makanan lain?

Tidak banyak studi yang mengulas antara halitosis dengan diet tertentu, namun sebuah studi secara khusus melaporkan semakin banyak bau mulut pada mereka yang menjalani diet sangat rendah karbohidrat (VLC)[3]. Diet VLC biasanya sebagian besar terdiri dari lemak hewani dan protein hewani. Diet Atkins adalah salah satu dari diet tersebut. Dr. John McDougall memberikan penjelasan besar mengapa makanan hewani tersebut dapat menyebabkan bau mulut:

“Dari 20 asam amino yang menyusun semua protein di alam, hanya dua yang mengandung sulfur: metionin dan kistein. Protein dengan kandungan tertinggi kandungan asam amino ditemukan dalam daging merah, unggas, keju, dan semua makanan lain yang berasal dari hewan... Jika Anda ingin secara drastis mengurangi asupan sulfur dan mengurangi bau mulut, maka langkah yang paling dasar bagi Anda adalah ubah pola makan Anda ke pola makan yang berdasarkan pati, sayuran, dan buah-buahan (tanpa bawang putih dan bawang merah) – dan meminimalkan asupan protein hewani “.

Sebagai langkah yang baik, saya akan menambahkan beberapa teh hijau ke dalam diet Anda juga. Teh hijau menunjukkan efek antimikroba dan telah terbukti mengurangi senyawa yang mengandung sulfur yang menyebabkan bau mulut [4].

Bila Anda sudah terbebas dari bau mulut, itu mengindikasikan beberapa hal. Pertama, Anda makan dengan lebih sehat yang memungkinkan tubuh Anda untuk berkembang berkat semua antioksidan dan fitonutrien yang telah diperoleh dari buah-buahan dan sayuran yang Anda makan. Kedua, Anda mengurangi risiko penyakit gingivitis dan periodontal. Itu karena Anda tidak lagi memiliki banyak gas-gas busuk berbau belerang yang berkeliaran, terutama metil mercaptan, yang ada pada kasus gingivitis yang memburuk yang akhirnya menyebabkan penyakit periodontal[5]. Penyakit periodontal bukanlah sesuatu yang diinginkan orang dewasa karena itu adalah penyebab utama tanggalnya gigi pada orang di atas usia 35 tahun.

Pola Makan Nabati dan Kanker Mulut

Saya sudah menulis sebelumnya tentang manfaat pola makan nabati dan pengurangan risiko kanker-yaitu kanker payudara, prostat, dan kanker kolorektal. Tapi bagaimana dengan kanker mulut? Dapatkah diet nabati mencegah jenis kanker ini?

Jawaban untuk ini adalah ya! Tapi jangan berharap untuk menelan buah dan sayuran Anda dalam bentuk pil suplemen karena itu bukan hal yang asli seperti yang dilaporkan dalam sebuah artikel tahun 2011 yang diterbitkan oleh Journal of American Dental Association [6]:

“Bukti saat ini mendukung diet tinggi buah-buahan, sayuran, dan makanan nabati untuk pencegahan kanker mulut. Suplemen diet – termasuk vitamin dan mineral belum terbukti efektif sebagai pengganti diet tinggi buah-buahan dan sayuran.”

shutterstock.com

shutterstock.com

Ini bukan publikasi satu-satunya yang menggembar-gemborkan manfaat menikmati makanan penuh warna. Tinjauan lain terhadap 46 studi menemukan penurunan yang jelas dalam risiko kanker mulut dan faring baik pada individu-individu dengan konsumsi tertinggi buah-buahan dan sayuran [7]. Penurunan risiko ini setidaknya sebagian dapat disebabkan oleh beta-karoten, vitamin C, dan flavonoid tertentu lainnya dalam kelompok makanan ini. Biji-bijian utuh, bukan biji-bijian olahan, juga dikaitkan dengan rendahnya risiko kanker mulut. Apa yang benar-benar menarik perhatian saya adalah bahwa pilihan diet saja dapat menjelaskan hingga 20-25% dari semua kanker mulut dan faring di negara-negara Barat. Jika Anda seorang perokok dan/atau peminum berat maka risiko yang timbul dari berkembangnya salah satu dari kedua kanker ini meningkat menjadi 85-95%! Tak perlu dikatakan, membuat pilihan gaya hidup yang sehat bukan hanya hal yang benar untuk dilakukan, itu adalah suatu keharusan jika Anda ingin tetap bebas dari kanker mulut.

Saya harap tulisan ini dapat mengilhami Anda untuk tidak hanya memperbaiki kebiasaan makan Anda dan mencoba diet nabati jika Anda belum melakukannya, tetapi juga mengingatkan Anda agar teratur menyikat gigi, flossing, DAN membersihkan lidah Anda sehingga bakteri kecil tidak mengubah mulut Anda menjadi pabrik penghasil belerang.

References:

  1. Feller L, Blignaut E. Halitosis: a review. SADJ. 2005 Feb;60(1):17-9. Review.
  2. Yaegaki K, Coil JM. Examination, classification, and treatment of halitosis; clinical perspectives. J Can Dent Assoc. 2000 May;66(5):257-61. Review.
  3. Segal-Isaacson CJ, Johnson S, et al. A randomized trial comparing low-fat and low-carbohydrate diets matched for energy and protein. Obes Res. 2004 Nov;12 Suppl 2:130S-40S.
  4. Lodhia P, Yaegaki K, Khakbaznejad A, et al. Effect of green tea on volatile sulfur compounds in mouth air. J Nutr Sci Vitaminol (Tokyo). 2008 Feb;54(1):89-94.
  5. Ratcliff PA, Johnson PW. The relationship between oral malodor, gingivitis, and periodontitis. A review. J Periodontol. 1999 May;70(5):485-9. Review.
  6. Chainani-Wu N, Epstein J, Touger-Decker R.  Diet and Prevention of Oral Cancer: Strategies for Clinical Practice. J Am Dent Assoc. 2011 Feb;142(2):166-169.
  7. Lucenteforte E, Garavello W, Bosetti C, La Vecchia C. Dietary factors and oral and pharyngeal cancer risk. Oral Oncol. 2009 Jun;45(6):461-7. Epub 2008 Nov 5. Review.

Diterjemahkan sesuai aslinya dari http://www.pursueahealthyyou.com/