Kanker ovarium adalah kanker ginekologi yang paling umum kedua (setelah kanker leher rahim) dan penyebab utama kematian akibat kanker ginekologik. Ia biasanya menyerang wanita usia 40 sampai 65 tahun.

Beberapa jenis kanker dapat terjadi di dalam ovarium. Jenis yang paling umum ditemui terjadi ketika sel-sel dalam ovarium menjadi kanker, yang mungkin terkait dengan stimulasi estrogen yang berlebihan. Selain itu, stadium lanjut kanker payudara dan perut umumnya menyebar ke ovarium.

Pada tahap awal kanker ovarium, gejalanya tak kentara dan bisa jadi terabaikan. Memang, kebanyakan wanita tidak akan melakukan pemeriksaan medis, dan mungkin menganggap gejala yang ada akibat siklus menstruasi mereka. Akibatnya, sebagian besar kasus telah berada pada stadium lanjut, dan mungkin tidak dapat disembuhkan, pada saat didiagnosis.

Gejala

  • Kelelahan
  • Nafsu makan buruk atau pencernaan yang buruk
  • Ketidaknyamanan perut bagian bawah (misalnya tekanan, bengkak, kram, kembung, gas)
  • Nyeri pinggang
  • Mual
  • Diare atau sembelit
  • Sering buang air kecil
  • Berat badan bertambah atau berkurang
  • Menstruasi yang tidak teratur atau abnormal
  • Nyeri hubungan seksual
  • Pembengkakan (edema) pada ekstremitas bawah

Faktor Risiko

  • Usia: Kanker ovarium kebanyakan terjadi pada wanita di atas usia 50 tahun, dengan risiko tertinggi pada mereka yang berusia lebih dari 60 tahun.
  • Riwayat keluarga: Wanita yang memiliki kerabat dengan kanker ovarium memiliki tiga kali peningkatan risiko. Memiliki banyak kerabat yang terkena kanker ini menaikkan risiko lebih lanjut.
  • Mutasi gen BRCA: Wanita dengan mutasi gen kerentanan kanker payudara (BRCA1 atau BRCA2) memiliki risiko 25 persen menjadi 45 persen terkena kanker ovarium selama hidup mereka.
  • Ras: wanita putih terpengaruh lebih sering daripada wanita kulit hitam.
  • Riwayat kanker sebelumnya: Wanita dengan riwayat kanker payudara atau usus besar dapat memiliki peningkatan risiko.
  • Belum pernah hamil atau kemandulan
  • Endometriosis
  • Diet: Lihat Pertimbangan nutrisi di bawah ini.
  • Lain-lain: Terapi penggantian estrogen, merokok, dan obesitas dapat menjadi faktor risiko, meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan.
  • Faktor-faktor yang mengurangi risiko termasuk menyusui, kehamilan sebelumnya (dan terutama kehamilan lebih dari satu kali), penggunaan pil KB, operasi ligasi tuba, dan histerektomi.

 Diagnosa

  • Penelusuran riwayat dan pemeriksaan fisik secara hati-hati dapat mengungkapkan gejala-gejala yang mungkin mengarah ke kanker ovarium. Namun, karena gejala-gejala bisa terlihat kabur, diagnosa bisa jadi meleset pada tahap awal penyakit. Semakin parah kanker dan tumor membesar, pemeriksaan fisik mungkin menunjukkan adanya massa pada perut bagian bawah dan pemeriksaan panggul dapat mengungkapkan adanya massa pada panggul, yang mesti mendorong evaluasi lebih lanjut.
  • Tes darah akan mengukur molekul dalam darah (CA-125, alpha-fetoprotein, dehidrogenase laktat, human chorionic gonadotropin) yang mungkin menunjukkan adanya kanker ovarium. Tes darah juga digunakan untuk memantau kekambuhan kanker setelah pengobatan.
  • USG sering digunakan untuk memvisualisasikan tumor ovarium, dan dapat membedakan kanker dari tumor jinak.
  • Jika dicurigai hasil tes darah dan USG mengarah ke kanker ovarium, kebanyakan wanita akan memerlukan pembedahan eksplorasi untuk mengevaluasi tumor lebih dekat dan melakukan biopsi.
    Jika kanker ditemukan, ahli bedah akan mencoba untuk mengangkat tumor sebanyak mungkin selama pembedahan eksplorasi.
  • CT scan dan MRI mungkin diperlukan untuk menentukan apakah kanker telah menyebar ke luar ovarium.

Pengobatan

Pengobatan utama adalah pembedahan untuk mengangkat tumor. Dalam kebanyakan kasus, kedua ovarium, rahim, saluran tuba, kelenjar getah bening di dekatnya, dan struktur lainnya yang terkena juga diangkat. Pada stadium lanjut, kemoterapi juga dilakukan. Pada wanita muda yang ingin bisa hamil, modifikasi prosedur bedah dimungkinkan di mana satu ovarium, satu tuba fallopi, dan rahim disisakan.

Pola Makan Pencegah Kanker Ovarium

  • 123rf.com

    123rf.com

    Menghindari atau mengurangi konsumsi daging: Asupan tinggi lemak dapat meningkatkan risiko kanker ovarium, mungkin sebanyak 25 persen. Sebagian besar risiko ini dikaitkan dengan asupan lemak jenuh. Sumber lemak jenuh dari berbagai makanan antara lain daging, telur, dan susu. Lemak hewan dan daging diduga meningkatkan risiko dengan mempengaruhi aktivitas estrogen dan konsentrasi darah insulin-like growth factor-1 (IGF-1), suatu hormon yang telah terlibat dalam beberapa kanker, termasuk kanker ovarium.

  • Menghindari susu: Selain lemak jenuh, bahkan wanita yang minum susu skim atau susu rendah lemak dalam jumlah kecil (satu atau lebih porsi per hari) memiliki risiko lebih besar terkena kanker ovarium. Hal ini mungkin disebabkan oleh hormon dan faktor pertumbuhan yang ada dalam susu.
  • shutterstock.com

    shutterstock.com

    Diet kaya buah-buahan dan sayuran: Perempuan dengan diet kaya buah-buahan dan sayuran tampak memiliki penurunan risiko terkena kanker ovarium. Hal ini mungkin karena a danyatingkat tinggi karotenoid, seperti beta-karoten dan lutein, dan folat (terutama dalam sayuran berdaun hijau).

  • Pola makan kaya akan vitamin E: Asupan yang lebih tinggi dari makanan sumber vitamin E (termasuk biji-bijian, gandum, dan kacang-kacangan) dikaitkan dengan risiko 40 persen lebih rendah untuk kanker ovarium. Belum diketahui apakah mengkonsumsi suplemen vitamin E menghasilkan efek perlindungan yang sama. Beberapa bukti menunjukkan bahwa mengkonumsi setidaknya 75 mg per hari pil vitamin E dikaitkan dengan risiko yang lebih rendah. Penelitian lain menunjukkan manfaat ini terbukti hanya dengan pemberian suplemen jangka panjang (lebih dari 10 tahun).
  • Menjaga berat badan yang sehat: Obesitas pada masa remaja atau dewasa awal dapat melipatgandakan risiko terkena kanker ovarium. Pola makan nabati yang rendah lemak, yang menurunkan risiko kanker, umumnya juga membantu menurunkan berat badan berlebih.
  • Asupan alkohol moderat: Minuman yang mengandung alkohol tampaknya tidak meningkatkan risiko kanker ovarium. Namun, mengingat risiko kesehatan dari konsumsi alkohol, termasuk peningkatan risiko kanker payudara, penggunaan alkohol tidak dapat direkomendasikan sebagai strategi pencegahan.
  • Konsumsi teh hijau: Minum setidaknya satu cangkir teh hijau per hari dapat menurunkan risiko terkena kanker ovarium.
  • Pertimbangkan konsultasi dengan ahli gizi teregistrasi untuk membantu membuat perubahan pola makan yang tepat.

Nutrisi Untuk Bertahan Hidup

Wanita dengan diagnosa kanker ovarium yang mengikuti diet kaya sayuran dapat memiliki kelangsungan hidup lebih baik. Dalam sebuah penelitian, wanita yang mengkonsumsi sayuran yang paling banyak memiliki tingkat kematian 25 persen lebih rendah, dibandingkan dengan wanita yang makan sayuran paling sedikit.

Beberapa studi menunjukkan bahwa manfaat hanya terjadi pada wanita yang mengkonsumsi setidaknya tiga porsi sayuran setiap hari. Studi lain menunjukkan bahwa manfaat terutama terjadi ketika perempuan meningkatkan asupan mereka selama masa remaja.

Teh hijau telah dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih rendah pada wanita dengan diagnosa kanker ovarium.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan kunjungi link Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) berikut ini :

http://www.nutritionmd.org/consumers/oncology/ovarian_cancer.html (Untuk masyarakat umum)

http://www.nutritionmd.org/health_care_providers/oncology/ovarian_cancer.html (Untuk tenaga medis dan paramedis)

Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM) adalah organisasi nirlaba yang berbasis di Washington, DC., AS dan beranggotakan lebih dari 6.000 dokter yang tertarik dalam peran nutrisi pada kesehatan. Hubungi PCRM pada alamat berikut : Physicians Committee for Responsible Medicine, 5100 Wisconsin Ave., N.W., Ste.400, Washington DC, 20016, Phone: 202-686-2210     Email: pcrm@pcrm.org