Peternakan dan Perubahan Iklim

Oleh Robert Goodland dan Jeff Anhang

Ilmuwan Lingkungan Bank Dunia -

Setiap kali mendiskusikan penyebab perubahan iklim, bahan bakar fosil menempati urutan teratas. Minyak bumi, gas alam, dan terutama batu bara memang sumber utama emisi karbon dioksida (CO2) dan gas-gas rumah kaca lainnya (GRK). Tetapi kami yakin bahwa siklus kehidupan dan mata rantai pasokan hewan yang dipelihara sebagai makanan telah sangat disepelekan sebagai sumber GRK, padahal kenyataannya industri peternakan bertanggung jawab terhadap setidaknya setengah dari seluruh GRK yang disebabkan oleh manusia. Jika argumen ini benar, berarti penggantian produk peternakan dengan makanan alternatif yang lebih baik akan menjadi strategi terbaik dalam membalik perubahan iklim. Kenyataannya, pendekatan ini memiliki pengaruh yang lebih cepat untuk mengurangi emisi GRK dan tingkat konsentrasinya di atmosfer  – sehingga mengurangi laju memanasnya iklim – dibandingkan dengan tindakan-tindakan untuk menggantikan bahan bakar fosil dengan energi yang dapat diperbaharui.

Hewan ternak telah dikenal sebagai penyumbang emisi GRK. “Bayangan Panjang Peternakan (Livestock’s Long Shadow)”, laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) tahun 2006 yang telah dikutip secara luas, memperkirakan emisi sebesar 7.516 juta metrik ton ekuivalen CO2 (CO2e) per tahun, atau 18 persen emisi GRK dunia setiap tahun, dihasilkan oleh hewan ternak sapi, kerbau, domba, kambing, unta, kuda, babi, dan unggas. Dengan jumlah sebesar itu, peternakan sangat jelas memenuhi syarat untuk mendapat perhatian besar dalam mencari cara-cara untuk menangani perubahan iklim. Tetapi analisa kami memperlihatkan bahwa peternakan dan hasil sampingnya sebenarnya bertanggung jawab atas setidaknya 32.564 juta metrik ton CO2e per tahun, atau 51 persen dari seluruh emisi GRK dunia setiap tahun.

Ini adalah pernyataan tegas yang memerlukan bukti kuat, maka kami meninjau kembali secara menyeluruh sumber-sumber emisi GRK dari peternakan baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebagian dari hal ini sudah jelas tetapi ditaksir lebih rendah, sebagian terlewatkan, dan sebagian adalah sumber emisi yang telah dihitung tetapi ditempatkan pada sektor yang salah. Data peternakan sangat beragam dari lokasi ke lokasi dan dipengaruhi oleh ketidak-akuratan yang tak bisa dihindari; dan tidaklah mungkin untuk menghindari ketidak-akuratan dalam memperkirakan jumlah GRK, sehingga kami berusaha keras mengurangi jumlah itu agar perkiraan kami secara keseluruhan dapat diterima sebagai konservatif.

Gambaran Besar

Tabel di sebelah kanan adalah ringkasan dari kategori-kategori emisi peternakan dan perkiraan kami terhadap angkanya. Kami memulai dengan angka dari FAO 7.516 juta ton CO2e per tahun yang disebabkan oleh peternakan, sebuah angka yang didapat dengan menambahkan keseluruhan GRK terkait dalam pembukaan lahan untuk menggembala dan menanam pakan ternak, memelihara hewan ternak, pengolahan dan pengiriman produk jadi. Perhitungan kami menunjukkan 25.048 juta ton CO2e yang disebabkan peternakan telah dihitung lebih rendah dari kenyataan atau dilewatkan; dari subtotal itu, 3.000 juta ton ditempatkan secara salah, dan 22.048 juta ton semuanya tidak dihitung. Ketika jumlah ton yang tidak dihitung ditambahkan ke dalam persediaan GRK global di atmosfer, persediaan itu meningkat dari 41.755 juta ton menjadi 63.803 juta ton. Laporan FAO sebesar 7.516 juta ton CO2e yang disebabkan peternakan kemudian menurun dari 18 persen GRK dunia menjadi 11,8 persen. Marilah melihat masing-masing kategori GRK yang tidak dihitung atau salah penempatan:

Read the rest of this entry »

Dalam laporan terbarunya, Lord Nicholas Stern mengemukakan bahwa konsentrasi karbon dioksida dan gas rumah kaca lain di atmosfer (CO2e) SAAT INI telah mencapai 435 ppm.1 Padahal menurut laporan ilmiah dari National Oceanic and Atmosphere Administration (NOAA) Amerika Serikat pada bulan November 2008 lalu, tingkat karbon dioksida dan gas rumah kaca lainnya saat itu baru 385 ppm.2

Sumber: NOAA (2009)

Dengan tingkat CO2e 385 ppm pada tahun lalu itu saja sudah sangat lebih tinggi daripada yang pernah terjadi selama 650.000 tahun, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah Science pada tahun 2005.

Sumber: NASA4

Dr. James Hansen menyebutkan, “Bila kita berada di tingkat 450 ppm cukup lama, maka kemungkinan seluruh es akan mencair, dan itu artinya AIR LAUT NAIK 75 METER….” Dr. James Hansen sendiri menekankan bahwa target pengurangan emisi TIDAK LEBIH DARI 350 ppm.3

Para ilmuwan mengatakan bahwa rata-rata kenaikan level CO2 adalah 2 ppm per tahun. Itu artinya pada tahun 2009 seharusnya tingkat CO2e di atmosfer HANYALAH 387 ppm. Sekarang? Dalam setahun saja, kenaikan tingkat CO2e saja sebesar 50 ppm! Cukup lamakah kita bisa menahan tingkat CO2e di level 450 ppm? Tanpa ada tindakan segera dan perubahan pola hidup besar-besaran di seluruh dunia ini untuk menghentikan kenaikan CO2e, umat manusia berada di ambang kepunahan.

1 http://en.cop15.dk/blogs/view+blog?blogid=2372

2 http://news.mongabay.com/2008/0423-ghg.html

3 http://www.guardian.co.uk/environment/2008/apr/07/climatechange.carbonemissions

4 http://climate.jpl.nasa.gov/

Lord Nicholas Stern adalah ketua Institut Penelitian Grantham Urusan Perubahan Iklim dan Lingkungan sekaligus Profesor Ekonomi dan Pemerintahan di London School of Economics and Political Science, dan anggota UK House of Lords. Ia adalah mantan kepala Layanan Ekonomi Pemerintahan Inggris dan kepala ekonom di Bank Dunia.

Dr. James Hansen adalah kepala NASA Goddard Institute for Space Studies di New York, Amerika Serikat.

3d-coverGlobal Warming Mind Map

 

Jane Genovese, a public speaker, university graduate of Law and Arts, global warming advocate has made a free-unique-excellent yet easy-to-understand global warming e-book: Global Warming: A Mind Mapper’s Guide to the Science and Solutions. Here are the pictures about global warming from her remarkable e-book:

 

 

Picture 1: Science of Global Warming

 copy-of-science-mindmap-blog

 

 

Picture 2: Impacts

 copy-of-impacts-mindmap-blog1

 

 

Picture 3: Combating Global Warming

 copy-of-combatingglobalwarmingmap2

 

 

To download a copy of this e-book, click here.

 

To know more about Jane Genovese and her work, please click here:

 

www.learningfundamentals.com.au

www.live-the-solution.com

 

 

Global Warming e-Book

 

global-warming-e-book1Want more? I also find another interesting global warming e-book, free and easy to read format for all readers! You can download it here.

 

 

Thank you for visiting.

Be Veg. Go Green. Save The Planet.

Berikut ini sampel sumbangan emisi gas rumah kaca dari makanan Anda untuk 1 porsinya. CO2e yang tercantum di sini artinya adalah ekuivalen karbon dioksida, standar internasional yang menunjukkan sumbangan pemanasan global dari gas rumah kaca. CO2e tidak terbatas pada karbon dioksida saja, tetapi memasukkan gas rumah kaca lain, seperti metana. Akan tetapi, dalam tabel di bawah ini, gas rumah kaca nitro oksida (catatan: 296 kali lebih kuat dari CO2), belum dimasukkan.

Jenis Makanan per 1 porsi Emisi CO2e dalam gram
Daging sapi bakar 4.739
Daging kambing bakar 2.034
Burger keju dan kentang goreng 1.977
Sandwich daging bakar dan chips 1.602
Sarapan sereal dan susu 1.224
1 iris Pepperoni Pizza 1.208
Udang bakar 1.191
Kentang dan ikan bakar 1.119
Telur, daging sapi, dan roti bakar 844
Sup Daging Sapi 809
Udang rebus 777
Telur rebus 661
Ayam goreng 580
Tahu goreng 372
Sereal dengan pisang 247
Oat 144
Kentang goreng 122
Sup sayur-sayuran 86
Bayam dan kacang rebus 78
Sup lentil 54
Sup kacang 54

 

Untuk mengetahui detil lebih lanjut, silakan klik http://www.eatlowcarbon.org/Carbon-Calculator.html

sb10068539aj-001BUCHAREST, Romania. Mulai 1 Januari 2009, penduduk Romania harus membayar cukai 0,2 Ron (Rp 750,-) untuk setiap satu kantung plastik yang tidak ramah lingkungan. Cukai ini akan dikenakan oleh semua pelaku ekonomi yang menggunakan plastik semacam itu dan uangnya akan dikirimkan untuk dana lingkungan. Cukai akan dibayarkan setiap bulannya dan mereka wajib memberitahu semua pembeli. Tujuan cukai ini adalah untuk menurunkan penggunaan kantung plastik. Menteri Lingkungan Attila Korodi mengatakan bahwa larangan itu juga akan mengurangi polusi yang ditimbulkan oleh kantong plastik.

 

Berikut ini adalah beberapa fakta mengenai kantung plastik yang mungkin Anda tidak tahu:

 

·       Lebih dari 100.000 hewan mati setiap tahun setelah menelan plastik atau terbelit olehnya.

·       Kantung plastik rata-rata hanya digunakan selama 5 menit, namun, perlu waktu 1.000 tahun agar plastik itu hancur.

·       Setiap lembar plastik yang pernah diproduksi di dunia sampai sekarang masih ada!

·       Ada kira-kira 46.000 lembar plastik yang mengapung di setiap satu mil persegi di atas lautan.

·       Produksi plastik dunia pada tahun 2010 diperkirakan mencapai 304 juta ton. Padahal, setiap 1 ton produksi plastik, emisi CO2 yang dikeluarkan sebesar 6.480. Berarti kontribusi pemanasan global dari CO2 plastik mencapai 1.969.920.000.000.

 

Sumber: HotNews.ro, Romanianewswatch, Animalsaustralia, Antara, UNEP

 

go-veg-be-green-save-the-planet1

 

six-degrees1Sebuah artikel menarik yang terbit di Sunday Times, 11 Maret 2007, mengulas buku Six Degrees: Our Future on A Hotter Planet, tulisan ilmiah jurnalis Mark Lynas yang diterbitkan oleh HarperCollins, dan menyabet penghargaan bergengsi Royal Society Science Books Prize.1 Dalam buku itu, Mark Lynas, memaparkan apa yang akan terjadi setiap suhu udara naik 1ºC hingga 6ºC. Badan Perubahan Iklim PBB, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), telah memperingatkan bahwa bila emisi gas rumah kaca dibiarkan terus bertambah seperti tingkat sekarang ini, maka suhu permukaan Bumi pada akhir abad 21 akan naik dari 1,1ºC menjadi 6,4ºC.2

 

Sinyal Merah

Apa yang akan terjadi setiap suhu permukaan Bumi naik 1ºC? Berikut hasil investigasi ilmiah Mark Lynas.3

 

Suhu Udara Naik 1ºC

Laut yang mulai kehilangan lapisan es di atasnya akan menyerap panas lebih banyak dan mempercepat pemanasan global; air tawar lenyap dari sepertiga permukaan Bumi; daerah dataran rendah di pesisir pantai akan diterjang banjir.

 

Suhu Udara Naik 2ºC

Eropa menerima paparan panas yang tinggi; hutan-hutan rusak karena terbakar; tanaman-tanaman yang stres, bukannya menyerap karbon, mulai melepaskan karbon yang pernah diserapnya ke atmosfer; sepertiga spesies di dunia terancam punah.

 

Suhu Udara Naik 3ºC

Karbon yang dilepaskan oleh tanaman dan tanah di Bumi mempercepat pemanasan global; matinya hutan hujan Amazon; angin topan dahsyat menghantam kota-kota pinggir laut; kelaparan di Afrika.

 

Suhu Udara Naik 4ºC

Mencairnya lapisan es yang tak terkendali mengakibatkan pemanasan global tak dapat dihentikan; sebagian besar wilayah Inggris tidak dapat dihuni lagi karena terbenam banjir; wilayah Mediterania ditinggalkan penduduknya.

 

Suhu Udara Naik 5ºC

Gas metana yang keluar dari dasar laut mempercepat pemanasan global; es di Kutub Utara dan Kutub Selatan habis; manusia berpindah-pindah tempat untuk mencari makanan dan mencoba, meskipun sia-sia, hidup seperti hewan di alam liar.

 

Suhu Udara Naik 6ºC

Kehidupan di Bumi berakhir akibat badai besar, banjir bandang, bola api hidrogen sulfida dan metana berputar-putar cepat melintas di seluruh dunia dengan kekuatan bom atom; hanya jamur yang dapat bertahan hidup.

 

cover-ipcc-report1Bagaimanakah dengan dampak pemanasan global menurut badan iklim PBB? Rata-rata suhu udara global menurut laporan IPCC telah meningkat sebesar 0,6ºC dari tahun 1850 hingga tahun 2000. Dalam laporan “Climate Change Report 2007”, IPCC mengetengahkan berbagai dampak pemanasan global berdasar tingkat kenaikan suhu dan akan semakin parah dengan bertambahnya suhu udara. Berikut ini ulasannya:2

 

Persediaan Pangan Terancam

Kenaikan suhu udara 1-2ºC akan menyebabkan produktivitas sereal merosot di belahan Bumi bagian selatan. Kenaikan suhu udara di atas 4ºC akan menurunkan produksi pangan di seluruh dunia.

 

Kesehatan Memburuk

Kenaikan suhu udara di atas 1ºC akan mengancam kondisi kesehatan sebagai akibat kekurangan gizi, penyakit diare, penyakit karena infeksi, kekeringan, panas tinggi, dan sebab-sebab lain.

 

Persediaan Air Menipis

Kenaikan suhu hingga 1ºC akan mengurangi persediaan air dan meningkatkan kekeringan di beberapa wilayah ekuator. Kenaikan suhu di atas 1ºC akan menimbulkan banjir, kekeringan, erosi, dan kualitas air yang semakin menurun. Naiknya air laut akan memperluas pengasinan air tanah sehingga menurunkan persediaan air tawar bagi daerah-daerah di pesisir pantai. Ratusan juta orang akan menghadapi kekurangan air.

 

Perpindahan Penduduk dan Konflik

Stres yang disebabkan oleh meningkatnya kekeringan, kekurangan air, dan banjir di daerah aliran sungai maupun di pesisir pantai akan memaksa penduduk mencari tempat tinggal baru, baik itu di dalam negaranya sendiri maupun memasuki negara lain. Hal ini dapat memicu konflik dan ketegangan antara penduduk lama maupun baru.

 

Kepunahan Spesies Daratan

Kenaikan suhu hingga 1ºC akan merusak banyak ekosistem, seperti yang sudah mulai terlihat sekarang. Kenaikan suhu di atas 1ºC akan menyebabkan 20-30% spesies terancam punah. Kenaikan suhu di atas 4ºC akan menyebabkan kepunahan hampir semua spesies di seluruh dunia.

 

Rusaknya Ekosistem Laut

Kenaikan suhu hingga 1ºC akan meningkatkan pemutihan karang. Kenaikan suhu dari 1-2ºC akan menyebabkan sebagian besar karang mengalami pemutihan. Kenaikan suhu di atas 2ºC akan menyebabkan matinya terumbu karang secara besar-besaran.

 

Rusaknya Ekosistem Air Tawar

Beberapa danau telah menunjukkan penyusutan jumlah ikan dengan kenaikan suhu yang mulai berjalan mendekati 1ºC seperti sekarang ini. Sejumlah spesies yang biasa dijumpai di daerah hangat berpindah menuju daerah kutub. Kenaikan suhu dari 2ºC hingga 3ºC menyebabkan siklus hidrologis bertambah besar, lebih banyak kekeringan, dan juga banjir. Sementara itu, kepunahan banyak spesies air tawar, perubahan struktur danau secara besar-besaran, meningkatnya pengasaman danau dapat terjadi pada kenaikan suhu di atas 4ºC.

 

Pengasaman Laut

Pengasaman laut sudah mulai terjadi, dan akan semakin bertambah dengan naiknya konsentrasi CO2 di atmosfer.

 

Pelepasan Metana dan Karbondioksida

Suhu yang semakin memanas akan menyebabkan pelepasan metana dan karbondioksida dari lapisan es kutub, tanah gambut, tanah rawa, dan laut.

 

Mencairnya Lapisan Es Greenland

Sekarang ini lapisan es di Kutub Utara sudah mulai mencair. Kenaikan suhu di atas 1ºC hingga 4ºC akan mencairkan sebagian besar es dan air laut akan naik setinggi 2-7 meter selama berabad-abad hingga ribuan tahun. Kenaikan suhu di atas 4ºC akan menyebabkan es mencair hampir seluruhnya.

 

Mencairnya Lapisan Es Antartika Barat

Hilangnya beting es di beberapa tempat pada kenaikan suhu hingga 1ºC sudah terlihat. Kenaikan suhu di atas 2ºC akan menyebabkan sebagian wilayah es Antartika Barat mencair dan air laut akan naik setinggi 1,5-5 meter selama berabad-abad hingga ribuan tahun.

 

Angin Topan

Angin topan kategori 4-5 akan meningkat dengan kenaikan suhu hingga 2ºC dan dampaknya akan semakin berat dengan naiknya air laut. Kenaikan suhu di atas 2ºC semakin meningkatkan intensitas angin topan dan banyak jiwa terancam.

 

Banjir Bandang

Banjir bandang di banyak tempat akan makin sering terjadi akibat meningkatnya intensitas hujan. Banjir juga akan semakin sering terjadi di daerah dataran rendah.

 

Gelombang Panas

Stres panas dan gelombang panas semakin meningkat dengan naiknya suhu hingga 2ºC. Di atas suhu 2ºC, frekuensi gelombang panas akan meningkat dengan cepat dan mengakibatkan kematian, gagal panen, matinya tunas baru pepohonan, kebakaran hutan, dan kerusakan ekosistem.

 

Kekeringan

Kenaikan suhu udara hingga 2ºC menyebabkan kekeringan semakin sering dijumpai. Diperkirakan frekuensi dan intensitas kekeringan di wilayah ekuator semakin meningkat. Sementara itu, kenaikan suhu udara di atas 2ºC, akan menyebabkan kekeringan ekstrim meningkat dari 1% menjadi 30%.

 

Kebakaran

Meningkatnya frekuensi dan intensitas kebakaran di banyak tempat, khususnya di tempat-tempat dimana kekeringan terjadi, pada suhu yang naik hingga 2ºC. Kenaikan suhu di atas 2ºC semakin menambah besar frekuensi dan intensitas kebakaran, khususnya di hutan-hutan dan tanah gambut di belahan bumi bagian utara setelah mencairnya lapisan es.

 

IPCC juga memproyeksikan berbagai dampak pemanasan global yang akan dialami oleh penduduk di beberapa benua sebagai berikut:

 

Afrika

Naiknya suhu udara hingga 1ºC akan menyebabkan puluhan juta orang menderita kekurangan air dan terancam oleh penyebaran penyakit malaria. Di atas 2ºC, ratusan juta orang lagi di Afrika akan menderita kekurangan air, risiko terkena malaria semakin bertambah di dataran tinggi, merosotnya hasil panen, dan rusaknya banyak ekosistem.

 

Asia

Dengan suhu yang semakin meningkat, sekitar 1 miliar penduduk akan menderita akibat menyusutnya produksi pertanian, berkurangnya persediaan air, dan meningkatnya peristiwa cuaca yang ekstrim (badai, banjir, dan kekeringan).

 

Amerika Latin

Dengan kenaikan suhu hingga 1ºC, puluhan juta penduduk Amerika Latin menderita kekurangan air; beberapa spesies endemik terancam oleh alih fungsi lahan dan perubahan iklim. Kenaikan suhu di atas 1ºC menyebabkan lebih dari ratusan juta orang kekurangan air; daerah dataran rendah di pinggir pantai, yang berpenduduk padat, terancam oleh naiknya air laut dan semakin intensnya badai di pesisir pantai; keragamanan hayati lenyap secara besar-besaran khususnya di Amazon.

 

 

Ada beberapa dampak pemanasan global lain yang belum dipaparkan di atas, akan tetapi, bencana ini semakin sering kita temui di berbagai tempat di seluruh dunia.

 

Gempa Bumi, Gunung Meletus, Tsunami, dan Tanah Longsor

foto-gempa-di-jogja1Seorang ahli geologi, Bill McGuire dari Hazard Research Center di University College London, menuturkan bahwa gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami, dan tanah longsor, adalah malapetaka lain yang timbul akibat perubahan iklim.4 Menurut beliau, ada dua penyebabnya. Pertama, gangguan keseimbangan kerak Bumi. Lapisan es di kutub yang memiliki berat menekan kerak Bumi yang berada di bawahnya. Karena es mencair, kerak di bawahnya berusaha mencari keseimbangan baru. Pergeseran keseimbangan ini dapat memicu aktivitas magma di dalam kerak Bumi maupun aktivitas gempa bumi. “Pada akhir Zaman Es, tercatat adanya peningkatan besar-besaran aktivitas seismik bersamaan dengan penyusutan lapisan es di Skandinavia maupun tempat-tempat lain seperti itu dan memicu tanah longsor di bahwa laut yang pada akhirnya memicu tsunami,” ungkap McGuire. Penyebab kedua, tekanan air laut. Suhu laut yang bertambah panas mengakibatkan air laut memuai. “Memuainya air laut ditambah es yang mencair ke dalam laut menekan kerak Bumi di bawahnya. Hal ini dapat menekan magma apapun yang ada di sekitarnya keluar dari gunung berapi sehingga memicu letusan,” urai McGuire. Mekanisme ini dipercaya menjadi penyebab letusan periodik Gunung Pavlof di Alaska yang meletus setiap musim dingin ketika permukaan air laut lebih tinggi. McGuire sendiri melakukan penelitian yang dimuat pada jurnal Nature pada tahun 1997 mengenai kaitan antara naiknya permukaan air laut dengan aktivitas letusan gunung berapi di Mediterania selama 80.000 tahun terakhir, dan menemukan bahwa ketika air laut naik secara tiba-tiba, makin banyak letusan gunung berapi yang terjadi, dengan peningkatan drastis sebesar 300%!

Penelitian McGuire ini memperkuat hasil penelitian Dr. Thomas J. Chalko, M.Sc., Ph.D, kepala bagian geofisika dari Scientific E Research P/L, Melbourne, Australia, yang mengemukakan bahwa pemanasan global menyebabkan suhu inti Bumi memanas. Akibatnya, gunung-gunung berapi menjadi aktif dan meletus lebih kuat. Aktivitas gempa bumi di seluruh dunia sekarang lima kali lebih banyak daripada 20 tahun yang lalu. Penelitian membuktikan sifat merusak gempa bumi meningkat dengan pesat dan beliau menyatakan bahwa tren ini akan terus berlanjut, kecuali masalah pemanasan global diatasi secara menyeluruh.5

stern-report2Saya ingin menambahkan pembahasan mengenai dampak pemanasan global ini menurut laporan Stern Review on the Economics of Climate Change6 sebagai bahan perbandingan Anda karena laporan ini merupakan laporan terbesar dan paling banyak diketahui serta didiskusikan di seluruh dunia. Laporan setebal 700 halaman ini disusun oleh Sir Nicholas Stern, Kepala Badan Ekonomi Pemerintah Inggris, dan menjabarkan berbagai dampak pemanasan global menurut kenaikan suhu udara setiap 1 derajatnya. Berikut ini sedikit ulasannya.

Suhu Udara Naik 1 ºC

·      Beberapa gletser kecil di Andes menghilang seluruhnya dan mengancam persediaan air bagi 50 juta orang.

·       Kenaikan moderat hasil panen sereal di wilayah beriklim sedang.

·       Setidaknya 300.000 orang setiap tahunnya meninggal karena penyakit akibat perubahan iklim (terutama diare, malaria, dan kekurangan gizi), akan tetapi ada pengurangan angka kematian pada saat musim dingin di wilayah yang lebih tinggi (Eropa Utara, AS).

·      Lapisan es di belahan bumi utara mencair dan menyebabkan kerusakan jalan-jalan dan bangunan-bangunan di sebagian Kanada dan Rusia.

·      Setidaknya 10% spesies darat akan punah, 80% terumbu karang rusak, termasuk Terumbu Karang Great Barrier terbesar di dunia yang terletak di timur laut Australia.

·       Arus Teluk melemah.

Suhu Udara Naik 2 ºC

·      Air menyusut sebesar 20–30% di beberapa wilayah yang rentan, seperti Afrika bagian Selatan dan Mediterania.

·       Hasil panen merosot tajam di wilayah-wilayah tropis (5-10% di Afrika).

·       40-60 juta lebih orang menderita malaria di Afrika.

·       Sekitar 10 juta orang lebih menderita banjir setiap tahunnya.

·       15-40% spesies terancam punah; spesies Kutub Utara, misal beruang kutub dan karibau, kemungkinan besar bisa punah.

·       Lapisan es Greenland mulai mencair tak terkendali.

Suhu Udara Naik 3 ºC

·      Di Eropa Selatan, kekeringan hebat terjadi sekali setiap 10 tahun; 1-4 miliar orang lebih menderita kekurangan air, sementara 1-5 miliar orang di tempat lain menderita banjir.

·       150-550 juta orang kelaparan

·       1-3 juta orang lebih mati karena kekurangan gizi; penyakit seperti malaria tersebar luas ke wilayah-wilayah baru.

·       1-170 juta lebih orang di pesisir pantai menderita banjir.

·       20-50% spesies terancam punah, termasuk di sini, 25-60% mamalia, 30-40% burung, dan 15-70% kupu-kupu di Afrika Selatan; hancurnya Hutan Amazon.

·       Bencana akibat cuaca yang berubah semakin meningkat, runtuhnya Lapisan Es Antartika Barat.

Suhu Udara Naik 4 ºC

·      Persediaan air menyusut 30-50% di Afrika bagian Selatan dan Mediterania.

·      Suhu udara yang bertambah panas menyebabkan lenyapnya gletser-gletser Himalaya dan mempengaruhi jutaan orang di China dan India.

·      Panen merosot 15-35% di Afrika dan di seluruh lumbung produksi pangan dunia (misalnya di sebagian Australia).

·       80 juta orang lebih menderita malaria di Afrika.

·       7-300 juta orang lebih di pesisir pantai menderita banjir setiap tahunnya.

·      Lenyapnya separuh wilayah tundra di Kutub Utara; hutan hujan Amazon mati; menyusutnya lapisan es menyebabkan naiknya air laut setinggi 7 meter.

Suhu Udara Naik Di Atas 5 ºC

Bukti terbaru menunjukkan bahwa rata-rata suhu Bumi akan naik lebih dari 5 atau 6ºC bila emisi gas rumah kaca terus bertambah dan menimbulkan bahaya besar pelepasan karbon dioksida dari permukaan tanah dan pelepasan metana dari lapisan es di Kutub Utara maupun dari dasar laut. Kenaikan suhu udara global ini akan setara dengan pemanasan global yang pernah terjadi pada Zaman Es terakhir dan, bila suhu Bumi sampai memanas 6ºC, dampaknya di luar perkiraan manusia. Kiamatkah? Silakan Anda sendiri yang menjawabnya.

 

 

Ancaman Punahnya Kehidupan di Bumi


still_seaice2007_0914_0730_web2Salah satu dampak pemanasan global adalah mencairnya lapisan es di Kutub Utara. Berdasarkan data dari citra satelit terbaru, ilmuwan iklim NASA, Jay Zwally berkata bahwa lapisan es di Kutub Utara kemungkinan besar lenyap pada akhir musim panas 2012, lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.7 IPCC telah memperingatkan bahwa mencairnya lapisan es di Kutub Utara ini memicu laju pemanasan global yang semakin cepat.8 Kenapa bisa begitu? Hal ini disebabkan lapisan es putih di Kutub Utara berfungsi seperti cermin, ia memantulkan 80% panas matahari kembali ke angkasa. Bila tidak ada lapisan es ini, maka panas matahari akan langsung diserap oleh lautan. Laut yang panas akan mengakibatkan pencairan es yang lebih banyak lagi. Tetapi, bahaya tidak berhenti di situ saja.

 

methane-in-siberiaTahukah Anda, di bawah lapisan es Kutub Utara tersimpan karbon dan metana dalam jumlah besar? Bila es mencair, maka kedua gas rumah kaca ini akan dilepaskan ke atmosfer. Jumlahnya tidak main-main! Lapisan es Kutub Utara mengandung 2 kali lipat jumlah karbon yang ada di atmosfer. Penelitian dua puluh lebih ilmuwan lingkungan yang dikepalai oleh Profesor Ted Schuur dari University of Florida yang dimuat dalam jurnal Bioscience edisi September 2008 menunjukkan bahwa 1.672 miliar metrik ton karbon terkurung di bawah lapisan es dan jumlah ini dua kali lipat dari 780 miliar ton karbon yang ada di atmosfer saat ini.9

 

Ancaman serius juga berasal dari endapan hidrat metana yang tersimpan di dasar laut. Endapan ini terdapat di seluruh pinggir benua dan terlepas bila laut menjadi panas. Dengan hilangnya lapisan es yang mengakibatkan 90% panas matahari langsung masuk ke dalam lautan, endapan metana ini bisa terlepas dari dasar laut.

 

Belum lama ini di bulan September 2008 para ilmuwan Arktik menemukan bukti nyata bahwa jutaan ton metana ini mulai terlepas dari dasar laut Arktik.14 Mereka menemukan sejumlah area yang berbuih di lautan karena gas metana meruap dari dasar laut. Tak berapa lama kemudian ditemukan kembali ratusan gelembung metana yang meruap dari dasar laut di daerah Svalbard di Arktik.15

 

Catatan sejarah menunjukkan bahwa metana yang terlepas dalam jumlah besar dari dasar laut memanaskan Bumi hingga 7ºC 55 juta tahun yang lalu dan menyebabkan kepunahan masal serta terganggunya iklim Bumi selama 100.000 tahun, menurut ketua peneliti Gavin Schmidt dari NASA.10 Jauh sebelum itu, kehidupan di Bumi pun pernah punah akibat ledakan gas metana dari dasar laut 251 juta tahun lalu.11 Menurut Dr. Gregory Ryskin, asosiat profesor teknik kimia dari Northwestern University, gas metana yang terlepas secara tiba-tiba dari dasar lautan menjadi penyebab utama kepunahan sebagian besar kehidupan laut dan spesies darat pada akhir era Permian, jauh sebelum dinosaurus ada. Dr. Ryskin menghitung 10.000 gigaton gas metana (1 Gigaton = 1 miliar ton) terkumpul dalam air di dasar lautan dalam tekanan tinggi. Ledakan gas metana memiliki daya ledak 10.000 kali lebih kuat daripada ledakan seluruh senjata nuklir di dunia. Banjir lautan api raksasa dari laut itulah yang menyebabkan kepunahan masal saat itu, kira-kira 95% spesies laut dan 70% spesies daratan. Selanjutnya, beliau menyebutkan, bila itu pernah terjadi, itu bisa terjadi lagi.

 

Seberapa cepatkah itu bisa terjadi? Sebuah penelitian menunjukkan bahwa perubahan iklim dramatis hanya dalam waktu 1 tahun pernah terjadi dalam sejarah Bumi.12 Tiga belas ribu tahun yang lalu, Eropa tidak jauh berbeda dengan kondisi sekarang, hanya saja lebih hangat dan banyak ditutupi oleh hutan. Namun, tiba-tiba saja, terjadi perubahan. Arus Teluk hangat yang membawa panas dari ekuator ke kutub berhenti mengalir. Suhu udara turun drastis 3 hingga 4 derajat Celcius, dan bertahan seperti itu selama seribu tahun. Para ilmuwan yang dikepalai oleh Achim Brauer dari German Research Center for Geoscience di Postdam, Jerman, menyebutkan periode perubahan iklim drastis itu yang bernama Younger Dryas terjadi hanya dalam waktu satu tahun, kurang lebih 12.679 tahun lalu, berdasar atas penelitian pada lapisan sedimen yang terjaga baik di sebuah danau terpencil di Jerman. Penelitian menunjukkan air dingin yang mengalir dari gletser yang mencair memperlemah aliran Arus Teluk yang hangat. Akibatnya berakhirlah angin hangat yang sebelumnya bertiup melintasi Eropa. Tanpa angin yang hangat ini, suhu udara dengan cepat turun 3 hingga 4 derajat Celcius, dan membekukan benua yang sebelumnya ditutupi hutan selama ribuan tahun berikutnya. Daniel Sigman dari Princeton University menyebutkan bahwa ”Periode Younger Dryas terus mengejutkan kami karena memberikan pesan betapa cepatnya perubahan iklim bisa terjadi.”

 

PBB sendiri juga telah menyebutkan bahwa mencairnya lapisan es merupakan “kartu liar” yang secara dramatis bisa memperparah pemanasan global dengan melepaskan gas rumah kaca secara besar-besaran.13 Dalam laporan UNEP Year Book 2008, disebutkan bahwa, “…Kita mungkin akan mencapai ambang batas yang sulit untuk diprediksikan secara tepat, tetapi melewati ambang batas itu bisa membawa akibat serius secara global. Metana yang terlepas secara besar-besaran ke dalam atmosfer, yang berasal dari lapisan es yang mencair dan endapan methana hidrat di laut, akan membawa perubahan tak terduga dalam pola iklim yang mungkin tidak dapat diubah. Kita tidak boleh melewati ambang batas ini. Pemanasan global yang disebabkan oleh aktivitas manusia harus diatasi untuk membantu kita menghindari akibat semacam ini sepenuhnya.”

 

 

Sumber Acuan:

1.        Timesonline

2.        IPCC

3.        Timesonline

4.        Livescience

5.        Yahoo

6.        Stern Report

7.        National Geographic

8.        Bloomberg

9.        Ekathimerini

10.    Commondreams

11.    Science Daily

12.    Discovery

13.    Foxnews

14.    Independent

15.    Independent

copy-of-am-a-vegan2

72302968Jadilah Vegetarian

Memproduksi daging sarat CO2 dan metana dan membutuhkan banyak air. Hewan ternak seperti sapi atau kambing merupakan penghasil terbesar metana saat mereka mencerna makanan mereka.1 Food and Agriculture Organization (FAO) PBB menyebutkan produksi daging menyumbang 18% pemanasan global, lebih besar daripada sumbangan seluruh transportasi di dunia (13,5%). Lebih lanjut, dalam laporan FAO, “Livestock’s Long Shadow”, 2006 dipaparkan bahwa peternakan menyumbang 65% gas nitro oksida dunia  (310 kali lebih kuat dari CO2) dan 37% gas metana dunia (72 kali lebih kuat dari CO2).2 Selain itu, United Nations Environment Programme (UNEP), dalam buku panduan “Kick The Habit”, 2008, menyebutkan bahwa pola makan daging untuk setiap orang per tahunnya menyumbang 6.700 kg CO2, sementara diet vegan per orangnya hanya menyumbang 190 kg CO2!3 Tidak mengherankan bila ahli iklim terkemuka PBB, yang merupakan Ketua Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) PBB, Dr. Rajendra Pachauri, menganjurkan orang untuk mengurangi makan daging.4

 

 

plant-treeTanam Pohon

Satu pohon berukuran agak besar dapat menyerap 6 kg CO2 per tahunnya.1 Dalam seluruh masa hidupnya, satu batang pohon dapat menyerap 1 ton CO2.7 United Nations Environment Programme (UNEP) melaporkan bahwa pembabatan hutan menyumbang 20% emisi gas rumah kaca.3 Seperti kita ketahui, pohon menyerap karbon yang ada dalam atmosfer. Bila mereka ditebang atau dibakar, karbon yang pernah mereka serap sebagian besar justru akan dilepaskan kembali ke atmosfer. Maka, pikir seribu kali sebelum menebang pohon di sekitar Anda. Pembabatan hutan juga berkaitan dengan peternakan. Tahukah Anda area hutan hujan seukuran 1 lapangan sepak bola setiap menitnya ditebang untuk lahan merumput ternak? Bila Anda berubah menjadi seorang vegetarian, Anda dapat menyelamatkan 1 akre pohon per tahunnya.5

 

 

walkingBepergian yang Ramah Lingkungan

Cobalah untuk berjalan kaki, menggunakan telekonferensi untuk rapat, atau pergi bersama-sama dalam satu mobil. Bila memungkinkan, gunakan kendaraan yang menggunakan bahan bakar alternatif.  Setiap 1 liter bahan bakar fosil yang dibakar dalam mesin mobil menyumbang 2,5 kg CO2.1  Bila jaraknya dekat dan tidak terburu waktu, Anda bisa memilih kereta api daripada pesawat. Menurut IPCC, penerbangan dengan pesawat menyumbang 3-5% gas rumah kaca.3

 

 

 

shoppingKurangi Belanja

Industri menyumbang 20% gas emisi rumah kaca dunia dan kebanyakan berasal dari penggunaan bahan bakar fosil. Jenis industri yang membutuhkan banyak bahan bakar fosil sebagai contohnya besi, baja, bahan-bahan kimia, pupuk, semen, gelas, keramik, dan kertas.3 Oleh karena itu, jangan cepat membuang barang, lalu membeli yang baru. Setiap proses produksi barang menyumbang CO2.3

 

 

 

organicBeli Makanan Organik

Tanah organik menangkap dan menyimpan CO2 lebih besar dari pertanian konvensional. The Soil Association menambahkan bahwa produksi secara organik dapat mengurangi 26% CO2 yang disumbang oleh pertanian.6

 

 

 

 

 

 

 

b17008Gunakan Lampu Hemat Energi

Bila Anda mengganti 1 lampu di rumah Anda dengan lampu hemat energi, Anda dapat menghemat 400 kg CO2 dan lampu hemat energi 10 kali lebih tahan lama daripada lampu pijar biasa.

 

 

 

fanGunakan Kipas Angin

AC yang menggunakan daya 1.000 Watt menyumbang 650 gr CO2 per jamnya. Karena itu, mungkin Anda bisa mencoba menggunakan kipas angin.1

 

 

 

dry-your-clothesJemur Pakaian Anda di bawah Sinar Matahari

Bila Anda menggunakan alat pengering, Anda mengeluarkan 3 kg CO2. Menjemur pakaian secara alami jauh lebih baik: pakaian Anda lebih awet dan energi yang dipakai tidak menyebabkan polusi udara.1

 

 

 

px351084Daur Ulang Sampah Organik

Tempat Pembuangan Sampah (TPA) menyumbang 3% emisi gas rumah kaca melalui metana yang dilepaskan saat proses pembusukan sampah. Dengan membuat pupuk kompos dari sampah organik (misal dari sisa makanan, kertas, daun-daunan) untuk kebun Anda, Anda bisa membantu mengurangi masalah ini!1

 

 

 

recyclePisahkan Sampah Kertas, Plastik, dan Kaleng agar Dapat Didaur Ulang

Mendaur ulang aluminium dapat menghemat 90% energi yang dibutuhkan untuk memproduksi kaleng aluminium yang baru :9 kg CO2 per kilogram aluminium! Untuk 1 kg plastik yang didaur ulang, Anda menghemat 1,5 kg CO2, untuk 1 kg kertas yang didaur ulang, Anda menghemat 900 kg CO2.1

 

 

Sumber tulisan:

1. ec.europe.eu

2. fao.org

3. unep.org

4. afp.google.com

5. goveg.com

6. guardian.co.uk

7. celsias.com

 

Sumber foto:

1.   http://www.tpgimages.com

2.   http://www.gettyimages.com

 

 

go-veg-be-green-save-the-planet1

 

 

Baru-baru ini Presiden terpilih Barack Obama berbincang-bincang dengan kontributor New York Times Michael Polen mengenai kebijakan pangan dan bahaya sistem saat ini.1,2

 

Presiden terpilih Obama berkata:

 

“Saya baru saja membaca sebuah artikel di New York Times yang ditulis oleh Michael Pollen mengenai pangan dan fakta bahwa seluruh sistem peternakan kita bergantung pada minyak yang harganya murah. Sebagai akibatnya, sektor peternakan kita sebenarnya menyumbang lebih banyak gas rumah kaca daripada sektor transportasi kita. Dan sementara itu juga, peternakan menciptakan monokultur yang rentan terhadap ancaman ketahanan nasional, rentan terhadap harga pangan yang meroket ataupun anjlok, naik turunnya harga komoditas, dan sebagian bertanggung jawab atas ledakan biaya medis karena peternakan menyebabkan diabetes tipe 2, stroke, dan penyakit jantung, obesitas, semua hal yang mendorong pengeluaran besar-besaran dalam biaya medis kita. Itu hanya satu sektor ekonomi. Hal yang sama juga berlaku di sektor transportasi. Hal yang sama juga berlaku dalam konstruksi bangunan. Di seluruh bidang sama.

 

Bagi kami boleh dibilang kami akan memperbarui total bagaimana kita menggunakan energi untuk menangani perubahan iklim, menangani ketahanan nasional, dan mendorong ekonomi kita, itu akan menjadi prioritas nomor satu saya ketika saya masuk bekerja, dengan asumsi, sudah jelas, bahwa kita sudah cukup berbuat sesuatu untuk menstabilkan situasi ekonomi saat ini.”

 

Akhirnya, Barack Obama mengakui secara terbuka bahwa peternakan menyumbang lebih banyak gas rumah kaca daripada seluruh transportasi. Bagi Anda yang belum tahu mengenai hal ini, silakan simak laporan PBB berikut ini.

 

Food and Agriculture Organization (FAO) PBB menyebutkan produksi daging menyumbang 18% pemanasan global, lebih besar daripada sumbangan seluruh transportasi di dunia (13,5%).3 Lebih lanjut, dalam laporan FAO, “Livestock’s Long Shadow”, 2006 dipaparkan bahwa peternakan menyumbang 65% gas nitro oksida dunia  (310 kali lebih kuat dari CO2) dan 37% gas metana dunia (72 kali lebih kuat dari CO2)4. Selain itu, United Nations Environment Programme (UNEP), dalam buku panduan “Kick The Habit”, 2008, menyebutkan bahwa pola makan daging untuk setiap orang per tahunnya menyumbang 6.700 kg CO2, sementara diet vegan per orangnya hanya menyumbang 190 kg CO2.5 Tidak mengherankan bila ahli iklim terkemuka PBB, yang merupakan Ketua Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) PBB, Dr. Rajendra Pachauri, menganjurkan orang untuk berhenti makan daging untuk mengerem pemanasan global.6

 

“Jika seluruh dunia menjadi 100% vegetarian saat ini, efek baiknya akan terlihat kira-kira dalam 60 hari. Dunia akan kembali menjadi Firdaus. ~ Supreme Master Ching Hai”7

 

Sumber : 1Ecorazzi, 2Gristmill, 3FAO, 4Meat’s Carbon Hoofprint, 5UNEP, 6Google, 7Kontak Tuhan

 

Dr. Rajendra Pachauri, Ketua Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) PBB :

Bila Anda melihat dampak perubahan iklim pada air, pada kesehatan manusia, pada pertanian, pada ekosistem, kita betul-betul sedang memasuki zona dimana dampak ini akan menjadi sangat serius, bahkan dengan kenaikan suhu udara sebesar 1 hingga 1,5 derajat.

 

Jadi kita ebtul-betul tidak punya waktu lagi, dan saya pikir bila dunia ingin menstabilkan iklim di Bumi, dan karena itu, meminimalkan atau menghilangkan ancaman dari dampak yang membahayakan, maka kita harus bergerak dengan sangat cepat.

 

Supreme Master TV:

Sebagai ketua IPCC, apakah ada suatu saran yang ingin Anda sampaikan kepada para pemimpin dan pemerintah di seluruh dunia terkait jumlah emisi karbon dioksida yang sangat besar yang diproduksi oleh industri peternakan dan tindakan apa yang mesti kita ambil dalam hal ini?

 

Dr. Rajendra Pachauri:

Siklus daging secara keseluruhan sangat, sangat intensif, dalam hal emisi karbon dioksida. Mulai dari Anda membabat hutan-hutan, sebagai ladang penggembalaan, lahan ternak merumput di sana, lalu ternak itu dibunuh, lalu didinginkan. Bila Anda melihat pada beberapa perkiraan, hal itu betul-betul tampak sangat dahsyat.

 

Tetapi lebih dari itu semua, saya pikir adalah solusi yang tepat untuk mengurangi daging. Ada cukup bukti medis bahwa tingkat konsumsi daging yang kita miliki di dunia sekarang ini per perkapita, khususnya di dalam masyarakat dimana itu menjadi bagian yang amat besar dalam pola makannya, hal itu sesuatu yang bahkan berbahaya bagi kesehatan manusia. Dan karena itu, bila Anda beralih ke makan lebih sedikit daging, maka seperti yang saya katakan, orang-orang akan menjadi sehat, dan begitu pula dengan planet ini!

gempa-bumi-jogjaPernahkah Anda berpikir mengapa sekarang ini gempa bumi kerap terjadi? Yang terbaru adalah gempa bumi di L’Aquila, Italia, satu daerah yang sejak tahun 1.200-an belum pernah terjadi gempa. Masih belum lama ini ada gempa di Sichuan, China. Di Indonesia, kita pun masih ingat gempa bumi di Yogyakarta pada tahun 2006 lalu. Apa yang menjadi penyebab dari gempa bumi yang sekarang ini sering terjadi?

Seorang ahli geologi, Bill McGuire dari Hazard Research Center di University College London, menuturkan bahwa gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami, dan tanah longsor, adalah malapetaka lain yang timbul akibat perubahan iklim.1 Menurut beliau, ada dua penyebabnya.

Pertama, gangguan keseimbangan kerak Bumi. Lapisan es di kutub yang memiliki berat menekan kerak Bumi yang berada di bawahnya. Karena es mencair, kerak di bawahnya berusaha mencari keseimbangan baru. Pergeseran keseimbangan ini dapat memicu aktivitas magma di dalam kerak Bumi maupun aktivitas gempa bumi. “Pada akhir Zaman Es, tercatat adanya peningkatan besar-besaran aktivitas seismik bersamaan dengan penyusutan lapisan es di Skandinavia maupun tempat-tempat lain seperti itu dan memicu tanah longsor di bahwa laut yang pada akhirnya memicu tsunami,” ungkap McGuire.

Penyebab kedua, tekanan air laut. Suhu laut yang bertambah panas mengakibatkan air laut memuai. “Memuainya air laut ditambah es yang mencair ke dalam laut menekan kerak Bumi di bawahnya. Hal ini dapat menekan magma apapun yang ada di sekitarnya keluar dari gunung berapi sehingga memicu letusan,” urai McGuire. Mekanisme ini dipercaya menjadi penyebab letusan periodik Gunung Pavlof di Alaska yang meletus setiap musim dingin ketika permukaan air laut lebih tinggi. McGuire sendiri melakukan penelitian yang dimuat pada jurnal Nature pada tahun 1997 mengenai kaitan antara naiknya permukaan air laut dengan aktivitas letusan gunung berapi di Mediterania selama 80.000 tahun terakhir, dan menemukan bahwa ketika air laut naik secara tiba-tiba, makin banyak letusan gunung berapi yang terjadi, dengan peningkatan drastis sebesar 300%!

Source: Dr. Chalko

Source: Dr. Chalko

Ilmuwan lain juga mengungkapkan bahwa penyebab gempa bumi adalah pemanasan global. Penelitian baru yang dilakukan oleh ilmuwan Australia Dr. Tom Chalko menunjukkan bahwa aktivitas seismik global di atas Bumi sekarang ini lima kali lipat lebih kuat daripada 20 tahun yang lalu.

Penelitian menunjukkan bahwa kekuatan perusakan oleh gempa bumi meningkat dengan laju cepat yang mengkuatirkan dan kecenderungan ini terus berlanjut, kecuali masalah “pemanasan global” diatasi secara menyeluruh dan dengan segera.

Analisis atas lebih dari 386.000 gempa bumi antara tahun 1973 hingga 2007 yang direkam oleh pangkalan data Survei Geologi AS membuktikan bahwa energi tahunan global gempa bumi mulai meningkat sangat cepat sejak tahun 1990.

Dr Chalko berkata bahwa aktivitas seismik global meningkat lebih cepat daripada indikator pemanasan global lain dan peningkatan ini membahayakan. “Adanya peningkatan gempa bumi merupakan gejala pemanasan berlebihan di planet ini. Pengukuran yang dilakukan oleh NASA membenarkan bahwa Bumi menyerap setidaknya 0,85 Megawatt per km2 energi lebih banyak dari matahari daripada kemampuannya untuk memantulkan panas itu kembali ke luar angkasa. ‘Ketidakseimbangan termal’ ini artinya panas yang ada di dalam Bumi tidak dapat dilepaskan ke luar angkasa sehingga Bumi mengalami pemanasan yang berlebihan. Peningkatan dalam aktivitas seismik, tektonik, dan vulkanik, merupakan konsekuensi yang tidak dapat terhindarkan karena ketidakseimbangan termal di planet ini,” jelas Dr. Chalko. “Bila tidak ada tindakan, akibatnya adalah malapetaka.”

Sumber : Livescience, Yahoo

 

copy-of-am-a-vegan1

Para pemerintah di seluruh dunia mendapat tantangan tugas untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Badan Asesmen Lingkungan Belanda membuat analisa dan mengajukan rekomendasi untuk Belanda dan kebijakan internasional demi keberlanjutan lingkungan.


Pada bulan Februari, para peneliti mengeluarkan sebuah proposal yang mencantumkan perubahan pola makan yang juga akan mengurangi biaya mitigas pemanasan global. Direktur Departemen Dr. Joop Oude Lohuis berkata dalam sebuah wawancara telepon bahwa kajian mengenai hal ini sedang tumbuh pesat di Eropa.

Dr. Joop Oude Lohuis – Direktur Departemen, Badan Asesmen Lingkungan Belanda (L): Kita sekarang berada di satu titik dimana ilmu pengetahuan semakin banyak memberikan bukti mengenai dampak mengubah pola makan kita dan makan sedikit daging. Jadi, sekarang semakin banyak kesepakatan mengenai hal itu bila Anda melihat gambaran keseluruhan rantainya. Hal ini memang banyak menimbulkan diskusi yang berbobot di Jerman, di Belanda, beberapa di Belgia, dan di Inggris.

PEMBACA BERITA: Studi Belanda, yang berjudul “Manfaat Mengubah Pola Makan terhadap Iklim” menganalisa seluruh rantai aktivitas pengembangbiakkan ternak dari ladang ke piring makan. Studi itu menghitung biaya moneter untuk menghentikan perubahan iklim, yang diartikan dengan menstabilkan CO2 yang ada di atmosfer pada tingkat 450 bagian per juta (ppm). Laporan tersebut menyimpulkan bahwa 20 miliar dolar AS, atau 50 persen dari total perkiraan biaya 40 miliar dolar AS, dapat ditekan pengeluarannya dengan peralihan global ke pola makan sedikit daging.

Apa yang akan terjadi bila berpola makan vegetarian atau vegan?

Dr. Joop Oude Lohuis (L): Bila Anda menjalani pola makan tanpa daging sama sekali dalam waktu 10-15 tahun ke depan, maka pada tahun 2050 Anda akan mengurangi 70% biaya iklim. Itu pengurangan biaya yang signifikan.


PEMBACA BERITA: Lebih lanjut lagi, para peneliti menemukan bahwa pola makan yang sepenuhnya vegan tanpa produk hewan sama sekali akan menekan pengeluaran sebesar 80% pada tahun 2050. Selain itu, manfaat lainnya pun ditemukan. Karena pola makan berbasis tumbuhan menghasilkan lebih banyak makanan untuk manusia daripada pola makan berbasis daging dan susu, beberapa lahan yang tidak digunakan untuk membesarkan ternak dapat dikembalikan ke fungsi aslinya menjadi hutan penyerap karbon, yang diketahui dapat membantu mengurangi emisi CO2.


Dr. Joop Oude Lohuis (L): Kami berasumsi bahwa padang rumput yang tidak digunakan  lagi oleh hewan ternak akan kembali ke keadaan alami mereka. Atas alasan itulah, di beberapa belahan dunia, hutan akan tumbuh dan mempertahankan karbon karena semakin banyaknya lahan berpohon.

PEMBACA BERITA: Dr. Oude Lohuis berkata tren ke alternatif daging yang berbasis tumbuhan telah mencapai momentum karena para konsumen tahu bahaya daging terhadap kesehatan dan lingkungan.


Dr. Joop Oude Lohuis (L):

Bila Anda melihat sekeliling di toko-toko, mungkin dua tahun lalu hanya ada empat, lima, atau enam alternatif dari produk kedelai atau pengganti sepotong daging. Dan sekarang ini menjadi empat kali lipat; mungkin ada 20 atau 25. Sangat mudah untuk mengubah perilaku belanja Anda dan mendapatkan kualitas makanan Anda yang fantastis. Sekaligus juga menyelamatkan kehidupan.

PEMBACA BERITA: Kami berterima kasih pada Dr. Joop Oude Lohuis dan Badan Asesmen Lingkungan Belanda karena telah menunjukkan pada kita kekuatan luar biasa pola makan berbasis tumbuhan dalam mengurangi baik itu biaya finansial dan jejak karbon kita. Semoga kita semua segera membuat pilihan yang punya manfaat yang terbukti cepat dan gratis ini untuk menyelamatkan hidup dan planet kita.

Pada bulan Juli 2008, pada saat konferensi video dengan para anggota Asosiasi kami di Amerika Serikat, Maha Guru Ching Hai sekali lagi mendorong tren seluruh dunia menuju vegetarianisme.


Semua perubahan positif ini benar mengindikasikan tingkat kecerdasan yang lebih tinggi karena penduduk dunia menjadi semakin sadar akan sifat kefanaan hidup dan betapa planet dapat menjadi sedemikian rapuh dan menyadari kebiasaan gaya hidup mereka mesti diubah. Jadi, sekarang mereka mulai memperlakukan lingkungan dengan rasa hormat. Mereka mulai semakin banyak memilih vegetarian. Bagus untuk melihatnya.

Semua perubahan itu bagus. Dan bila kita mempercepat prosesnya, akan ada Surga di atas Bumi. Saya harap kita bisa mewujudkannya. Cukup berubah ke pola makan vegetarian. Betapa mudahnya itu!

Sumber: http://www.newscientist.com/article/dn16573-lowmeat-diet-could-slash-cost-of-climate-change-action.html